Kegelisahan Yang Sangat Ambisius Dari Album Kedua The Smile “Wall Of Eyes”

Oleh: luthfi - 12 Feb 2024

Ketika saya mengetahui bahwa dedengkot Radiohead Thom Yorke dan Jonny Greenwood akan membentuk band bersama drummer grup avant garde jazz Sons of Kemet Tom Skinner saya berkelakar bahwa nama grup ini akan menjadi “Radiohead Jazz Project” dimana mereka akan membawakan lagu Radiohead yang sudah super kompleks ke dalam lantunan jazz yang mungkin akan dibawakan dengan sound yang lebih njelimet lagi. Untungnya saya salah.

Mereka menamakan diri mereka dengan nama The Smile (sebuah ironi mengingat lirik yang ditulis Thom Yorke kebanyakan hampir tidak pernah membuat pendengarnya tersenyum) dan mereka akhirnya merilis album perdana mereka “A Light for Attracting Attention” pada tahun 2022 yang berisikan sound alternative dan experimental rock dengan sajian yang lebih kompleks dan lebih mentah. Tidak membutuhkan waktu lama untuk mengeluarkan album keduanya, mereka langsung merilis “Wall Of Eyes” pada 26 Januari 2024 kemarin dan langsung masuk ke posisi 3 di UK Album Chart, dua posisi lebih tinggi daripada album perdana mereka.

“Wall Of Eyes” terlihat lebih melankolis dan lebih pelan, Thom dan Jonny seolah mengembalikan apa yang Radiohead telah capai di dua album terakhir mereka. Dari segi produksi album ini juga terdengar lebih rapih dan jernih, tidak ada lagi nada-nada mentah dan kasar seperti di album perdananya. Hal ini terpancar di lagu pembukanya “Wall of Eyes” yang mengalun pelan dan lembut di antara ritme samba dalam ketukan 5/4. Lirik “Wall of Eyes” yang bercerita tentang kegelisahan dan menjadi gambaran yang tepat tentang lirik yang akan disampaikan di sepanjang lagu dan tentu saja Thom sangat jago mendeskripsikan kemuraman yang dialami dalam hidupnya dalam nada yang kompleks. 

Kemuraman dalam ritme tropis tersebut berlanjut di “Teleharmonic”. Setelah bermain dengan nada tropis mereka beralih ke nada math rock “Read the Room” dan di “Under Our Pillow” yang mencampurkan unsur math rock dengan suasana funk rock menjadikannya sebuah mutasi yang unik. “Friend of a Friend” adalah perandaian jika The Beatles memainkan free jazz. “Bending Hectic” adalah sebuah lagu post-rock yang terdengar sangat Radiohead dengan distorsi yang membabi buta di bagian akhir lagu dan “I Quit” serta “You Know Me!” meleburkan ambient dan progressive rock.

Di album keduanya, The Smile seolah meminjam berbagai macam elemen progressive rock seperti bagaimana mereka membungkus lagu dengan narasi yang begitu spektakuler serta panjangnya durasi di setiap lagu yang semuanya di atas lima menit. Album “Wall Of Eyes” bisa dibilang merupakan evolusi berikutnya dari The Smile yang ambisius dan menaikkan derajat The Smile sebagai sebuah kolektif, walaupun materi di album ini terkadang agak panjang dan membuat pendengarnya harus mendengarkan album ini bolak balik untuk meresapi album pertamanya. Bermain lebih halus dan lebih ritmis membuat materi album keduanya terdengar lebih matang dan memberikan kesan bahwa The Smile bukanlah proyek asal atau proyek “sedang bosan akan Radiohead” dari Thom dan Jonny.

Mendengarkan dua album The Smile seolah menjadi pertanda kenapa Radiohead tidak merilis album lagi semenjak “A Moon Shaped Pools” pada tahun 2016. Musik The Smile terdengar lebih bebas terlebih lagi ekspektasi pendengar Radiohead di setiap albumnya pasca “Kid A” adalah “apa yang Radiohead lakukan berikutnya untuk mengobrak-abrik padanan musik alternative rock yang baku”. Mungkin Thom dan Jonny kewalahan atas ekspektasi orang-orang akan Radiohead sehingga muncullah The Smile yang memberikan ruang gerak sebebas-bebasnya kepada dua karakter utama di Radiohead ini untuk berekspresi tanpa ada beban untuk “merusak” padanan musik alternative rock dan “Wall Of Eyes” semakin berhasil menjadi sarana untuk menumpahkan eskpresi musikalitas mereka berdua tanpa beban dan tanpa tuntutan apapun, malah mereka semakin ambisius lewat The Smile dan menunjukkan bahwa Thom masih lapar untuk berkarya dan tetap in character.

luthfi
More from Creative Disc