CreativeDisc Exclusive Interview With Sam Wills: Menemukan Suara dan Kedamaian Lewat “Speak”

Oleh: nanack - 15 Oct 2025

Teks & Interview by: Nanack
CREATIVEDISC.COM – JAKARTA –Setelah membuat dunia jatuh cinta lewat ‘Traingazing’ dan album debut “Breathe”, penyanyi soul-pop asal Inggris Sam Wills kembali dengan karya terbaru yang jauh lebih personal: “Speak”. Dirilis pada Jumat, 3 Oktober lalu, album ini bukan sekadar kumpulan lagu, melainkan perjalanan penuh emosi; dari cinta, kehilangan, hingga penerimaan.

Ketika berbincang bersama CreativeDisc, Sam terlihat tenang dan rendah hati. Meski kini karyanya sudah didengarkan ratusan juta kali, ia tetap berbicara dengan kejujuran yang sama seperti saat pertama kali menulis lagu dari kamar kecil di Hastings, kota pantai tempat ia tinggal.

“Speak” – Sebuah Cerita yang Harus Didengar dari Awal
Sam mengakui bahwa awalnya ia menulis lagu-lagu di “Speak” secara acak. Tapi saat menyusun urutan lagu untuk album, ada sesuatu yang berubah.
“Aku menyadari kalau lagu-lagu ini harus ditempatkan seperti sebuah cerita,” katanya.
“Saat kudengarkan kembali, semuanya terasa masuk akal, seperti bab-bab dalam hidupku sendiri.”
Urutan lagu di “Speak” bukan hanya kronologi musik, tapi juga alur penyembuhan. Ada rasa putus asa dan cinta, menuju patah hati, penerimaan, dan akhirnya keikhlasan.
Dan pendengar yang mengikuti alur itu akan merasakan perjalanan emosional yang sama.

Menemukan Kelegaan Lewat ‘Voicenotes’
Single terbarunya, ‘Voicenotes,’ adalah salah satu momen paling intim dalam album ini, tentang kerinduan dan kenangan yang masih membekas.
“Begitu lagu itu dirilis ke dunia, rasanya seperti bukan milikku lagi,” ujar Sam.
“Dan itu justru melegakan. Seperti menutup sebuah bab.” Lanjutnya.
Ia menyebut merilis musik seperti membebaskan perasaan yang dulu menahannya. Lagu itu bukan hanya untuk dirinya, tapi juga bagi siapa pun yang pernah merindukan seseorang. ‘Voicenotes’ bercerita tentang merindukan seseorang yang sudah berpisah. Terjaga di malam hari, diterangi cahaya biru ponsel, sambil mendengarkan pesan suara lama dari mereka.


Ketika Dunia Terhenti, Musik Jadi Jalan Keluar
Banyak dari “Speak” lahir dari masa-masa penuh kebingungan. Sam sempat merasa hidupnya berhenti di satu titik, dan menulis album ini menjadi cara untuk bergerak maju.
“Aku merasa dunia berhenti, tapi hanya untukku,” katanya pelan.
“Menulis tentangnya membantu aku melewatinya. Sekarang aku sudah di sisi lain.”
Ia mengakui belum punya jawaban pasti tentang bagaimana menghadapi perasaan berat semacam itu. Tapi menulis membantunya memahami, sedikit demi sedikit, makna dari apa yang ia alami.

Laut, Cahaya, dan Ketenteraman di Hati
Sampul album “Speak” menampilkan sosok tunggal di tengah ombak dan cahaya lembut, gambar yang terasa sejalan dengan isi albumnya.
Sam tersenyum saat membicarakan konsep itu.
“Aku tinggal di Hastings, di tepi laut. Jadi pemandangan seperti itu selalu menginspirasiku,” jelasnya.
“Laut itu menakjubkan tapi juga bisa terasa kosong. Gambaran berada sendirian di tengah laut sangat menggambarkan perasaan yang aku alami saat membuat album ini.”
Simbol laut menjadi metafora yang kuat dalam “Speak”: tenang tapi dalam, penuh kehidupan sekaligus kesunyian.

Kabinnya di Hutan: Tempat Bernafas Kembali
Banyak yang mengira “Speak” ditulis sepenuhnya di kabin kayu kecil yang ia bangun di masa “Breathe”.
Namun ternyata, kabin itu lebih seperti tempat peristirahatan spiritual daripada studio rekaman.
“Sebagai musisi, kadang melelahkan terus menggali inspirasi dari diri sendiri,” ujarnya.
“Jadi aku pergi ke kabin itu untuk berhenti sejenak, minum teh atau kopi, melihat alam, dan sekadar hadir di momen sekarang. Itu sangat menenangkan.”
Bagi Sam, keseimbangan antara kesendirian dan kehidupan di sekitar alam adalah bahan bakar kreatif yang penting, tempat di mana ia bisa benar-benar “bernapas.”

Asia Tenggara, Cinta dari Jarak Jauh
Ketika membicarakan tur Asia Tenggara 2026 mendatang, Sam terlihat sangat antusias. Ia masih sulit percaya bahwa musiknya bisa sampai sejauh ini.
“Itu luar biasa! Aku tidak pernah membayangkan orang di sisi lain dunia akan mendengarkan musikku,” katanya. 
“Aku nggak sabar untuk datang dan benar-benar bertemu mereka, membawakan lagu-lagu ini secara langsung.”
Ia berharap penonton di Indonesia bisa merasakan energi yang sama seperti yang ia rasakan saat menulis “Speak”.
“Aku ingin mereka pergi dari konser dengan perasaan bahagia,” katanya dengan senyum lebar.
“Aku punya band yang hebat dan kami sedang menyiapkan sesuatu yang spesial.”

Dari ‘Traingazing’ ke Keyakinan Diri Baru
Kesuksesan ‘Traingazing’ menjadi titik balik besar dalam kariernya. Lagu yang ia tulis spontan di kereta itu membuka jalan ke panggung dunia.
“Aku memulainya ketika saya dikereta menuju studio. Aku cuma merekam ide kecil di ponsel waktu itu dengan sangat pelan karena banyak orang di kereta” kenangnya sambil tertawa.
“Ternyata orang-orang terhubung dengan lagu itu seperti yang aku rasakan. Itu ajaib.”
Namun ia juga menegaskan, ia tidak ingin kesuksesan menentukan arah kreatifnya.
Bagi Sam, musik harus tetap datang dari hati, bukan dari ekspektasi pendengar.

“Breathe” Memberi Kepercayaan Diri untuk “Speak”
Album debutnya, “Breathe”, masih dicintai hingga sekarang. Dan bagi Sam, itu adalah pengingat bahwa kejujuran dalam musik selalu menemukan pendengarnya.
“Fakta bahwa orang masih mendengarkan Breathe memberi aku kepercayaan diri,” katanya.
“Pesan-pesan dari mereka membuatku terus maju, bahkan saat aku meragukan diriku sendiri.”
Kepercayaan diri itulah yang membentuk Speak, sebuah karya yang lebih matang, tenang, dan tulus.

Tetap Membumi di Tengah Semua Perubahan
Di tengah tur, popularitas, dan perhatian global, Sam tetap berpijak pada hal yang paling penting: musik itu sendiri.
“Yang aku kejar hanyalah membuat musik terbaik yang bisa aku buat,” tegasnya.
“Bukan ketenaran, bukan sorotan. Musik adalah pusatnya, dan itu yang akan selalu aku jaga.”

Apa yang Akan Datang Setelah “Speak”?
Dengan “Breathe” dan “Speak”, dua hal yang sama-sama esensial dalam kehidupan manusia. Bernapas dan berbicara. Kami penasaran apa langkah berikutnya.
Sam tertawa ketika ditanya apakah album selanjutnya akan berjudul “See”, “Listen” atau “Feel”. Sehingga nantinya mungkin akan menjadi sebuah Pentalogy Album.
“Haha, mungkin Scream atau Shout!” ujarnya sambil bercanda.
“Tapi aku nggak tahu. Saat ini, aku hanya menulis tanpa ekspektasi. Kadang baru bisa memahami semuanya setelah waktu berlalu.”
“Siapa yang tahu, mungkin itu akan menjadi “Listen” atau “Touch” atau “Taste”. saya tidak tahu, kita tunggu saja! Ujar Sam.

Soundtrack Hidup Sam Wills
Sebelum menutup obrolan, kami menantangnya memilih tiga lagu untuk menggambarkan hidupnya saat ini — seandainya “Speak” adalah film.
“Pertama, re: stacks dari Bon Iver — itu wajib ada,” katanya mantap.
“Lalu satu lagu dari Michael Jackson, mungkin dari album Off The Wall. Dan terakhir, Dream Police dari Mk.Gee.”

“Speak”: Sebuah Ekspresi, Sebuah Pelepasan
“Speak” bukan sekadar kelanjutan dari “Breathe”.
Jika “Breathe” adalah tarikan napas — sebuah permulaan, maka “Speak” adalah hembusannya, saat seseorang akhirnya berani mengungkapkan isi hati.
Dengan kejujuran yang lembut dan suara yang hangat, Sam Wills mengajak kita untuk berhenti sejenak, mendengarkan, dan mungkin, berbicara kembali dengan diri sendiri.

Dengarkan album “Speak” berikut ini:


Simak interview selengkapnya berikut ini:

Tags: ,

Author

nanack

More from Creative Disc