Teks & Interview by : Nanack
CREATIVEDISC.COM – JAKARTA –Di usia 18 tahun, Alaska Sirait bukan nama baru di telinga banyak orang. Ia dikenal sebagai Runner Up 1 Gadis Sampul 2023, dan kini tengah menempuh studi International Relations and Politics di University of Sydney, Australia.
Namun di balik pencapaiannya di dunia modeling dan akademik, Alaska menemukan panggilan lain yang tak kalah kuat: musik.
“Sebelum Gadis Sampul, aku belum pernah tahu cara make up, cara public speaking. Tapi di sana aku belajar banyak. Meski ada soft skill sebelum itu, tapi benar-benar diasah pada saat Gadis Sampul,” ungkapnya.
“Dan dari sana aku sadar, ternyata bisa juga ya jadi model sekaligus penyanyi.” Lanjutnya.
Jauh sebelum panggung modeling dan sorotan kamera, Alaska sudah akrab dengan musik sejak kecil. Ia tumbuh dengan ikut paduan suara dan musikal di sekolah, serta aktif dalam kegiatan worship music.
Namun titik balik sesungguhnya datang setelah mengikuti Gadis Sampul, ketika ia melihat teman-temannya mulai meniti karier sebagai recording artist.
“Dulu aku cuma post cover di Instagram,” kenangnya.
“Lalu aku ngerasa, ternyata ada peluang untuk benar-benar jadi recording artist yang punya karya di platform streaming.”
Langkah kecil itu akhirnya membawa Alaska merilis single debutnya yang penuh cahaya, ‘I Want To Be The Sun.’
Setelah debut yang penuh optimisme, Alaska kembali dengan karya keduanya berjudul ‘Good For You.’ Lagu ini terasa lebih emosional, lebih dewasa, dan jauh lebih reflektif.
“Aku nulis ‘Good For You’ di masa transisi. Lulus sekolah, pindah ke negara baru, berpisah dengan teman-teman,” katanya.
“Aku banyak berubah. Aku nggak nyangka bisa sampai di titik ini.”
Yang menarik, lagu ini tidak lahir dari pengalaman patah hati, melainkan dari jurnal pribadi dan sebuah buku roman berjudul Nothing Like the Movies.
“Aku belum pernah mengalami breakup, tapi aku ingin menulis dari perspektif itu,” jelasnya.
“Aku ingin lagu ini terasa nyata, karena musik harus bisa jadi ruang di mana orang merasa relate, bahkan kalau aku sendiri belum mengalaminya.”
Proses kreatifnya sederhana tapi jujur. Semua bermula dari catatan di ponsel dan potongan melodi yang direkam di Voice Memos.
“Kalau ‘I Want To Be The Sun’ aku tulis cuma 15 menit, ‘Good For You’ justru lebih menantang,” ujarnya.
“Aku selesai baca buku itu, lalu nulis dulu bagian reff-nya, baru cari nada yang cocok.”
Tinggal jauh dari rumah membuat Alaska banyak belajar tentang diri sendiri.
Ia mengaku menjadi pribadi yang lebih adaptif dan fleksibel.
“Aku yang di Jakarta itu ambisius banget. Semua harus sesuai rencana,” katanya.
“Tapi di Sydney, aku belajar kalau nggak semua hal bisa terjadi seperti yang kita mau. Tahun ini aku tumbuh banyak banget, ketemu banyak orang baru, berpisah dengan beberapa juga. Tapi ini musim baru, dan aku bertransformasi.”
Ketika ditanya soal sosok yang menginspirasinya, Alaska menyebut dua nama: Rachel Zegler dan Lizzy McAlpine.
“Rachel itu inspirasiku karena dia mulai dari musikal di SMA, lalu jadi bintang besar,” ungkapnya.
“Sedangkan Lizzy, aku connect banget sama cara dia nulis. Sedih, reflektif, tapi indah.”
Untuk musisi Indonesia, ia menyebut satu nama dengan semangat: Yura Yunita.
“Lagu Harus Bahagia is my jam! Tiap berangkat kuliah aku ngerasa I need something to make me more happy, and yes ini cocok banget!,” katanya sambil tertawa.
Meski sejauh ini lagu-lagunya berbahasa Inggris, Alaska tidak menutup kemungkinan untuk menulis dalam bahasa Indonesia.
“Aku mau banget! Aku bangga sama Indonesia. Bahkan aku suka ngajarin teman-temanku di Sydney kata-kata kayak ‘gokil,’” katanya sambil tertawa.
“Aku harap nanti kalau punya EP atau album, setidaknya ada satu lagu dalam bahasa Indonesia.”
Respon terhadap ‘Good For You’ begitu positif, bahkan datang dari teman-teman Alaska yang kini tersebar di berbagai belahan dunia.
“Ada yang di Filipina, Tiongkok, sampai Amerika. Mereka dengerin laguku,” katanya.
“Dari pengalaman itu aku sadar, musik memang bisa menyatukan semua orang.”
Yang menarik, banyak orang di sekitarnya di Sydney bahkan tidak tahu bahwa Alaska adalah seorang musisi.
“Kadang mereka kaget waktu buka Instagram. Mereka bilang, ‘Kamu musisi? Keren banget!’” katanya sambil tertawa.
“It’s completely new audience.” Tambahnya.
Alaska berharap ‘Good For You’ bisa menjadi ruang yang membuat orang merasa terhubung.
“Aku pengin jadi semacam vessel buat mereka yang pernah ngerasain hal-hal itu. Karena kadang kita nggak tahu cara mengekspresikan diri, dan musik bisa membantu.”
Dengan dua single yang sudah dirilis dan pesan yang selalu berakar dari kejujuran, Alaska Sirait menunjukkan bahwa musik tidak selalu harus lahir dari pengalaman pribadi. tapi bisa juga dari empati dan rasa ingin memahami.
‘Good For You’ adalah bukti bahwa hati yang tulus selalu menemukan caranya untuk terdengar.
Dan untuk Alaska, ini baru permulaan dari perjalanan panjang yang indah.