CREATIVEDISC.COM – JAKARTA – Band nu-disco asal Prancis L’Impératrice, kini sedang menyambut era baru. Band yang telah terbentuk di tahun 2012 ini baru saja mendapatkan vokalis baru Maud “Louve” Ferron setelah Flore Benguigui memutuskan untuk mundur di tahun 2024. Semangat baru pun muncul dengan kedatangan Louve dan mereka langsung bergerak cepat untuk menyatu dengan Louve.
Semangat tersebut nantinya bisa dirasakan di Jakarta, karena mereka akan tampil dalam gelaran Joyland Sessions pada tanggal 29 – 30 November 2025. Sebelum mereka ke Jakarta, CreativeDisc berkesempatan untuk bertanya kepada Charles de Boisseguin, Achille Trocellier dan Tom Daveau (yang agak malu-malu) tentang karir mereka, single baru, dan persiapan mereka untuk tampil di Jakarta.
CreativeDisc (CD): Aktivitas apa yang kalian lakukan akhir-akhir ini?
Tom (T): Kami baru saja menyelesaikan tur kami di hari Minggu dan kami beristirahat dulu sebelum lanjut. Kami juga bertemu keluarga dan beres-beres rumah dulu, anggep aja ini liburan sebelum tur.
Kalian baru saja dari tur Amerika Selatan dan Utara, bagaimana perasaan kalian?
Achilles (A): Itu merupakan pengalaman yang menyenangkan. Sudah keempat kalinya kami ke Amerika Serikat. Kami ke tempat baru seperti Oklahoma, Nashville, Miami, Houston dan setelahnya kami ke Kolombia dan ke negara yang belum pernah kami kunjungi yaitu Argentina dan Brazil. Kami sangat senang menemui hal baru.
Kenapa kalian memilih disco dan musik funk sebagai basis utama musik kalian?
Charles (C): Karena musik tersebut merupakan musik terbaik buat joget dan menunjukkan kekuatan instrument yang dimainkan. Menurutku, musik funk dan disco benar-benar musik yang membutuhkan teknik tinggi tapi di saat yang bersamaan bisa dijadikan musik untuk berpesta. Kupikir musik ini adalah musik terbaik untuk membuat orang berkumpul dan berjoget. Musik funk dan disco juga bisa menjadi musik pop.
Apa karena Prancis banyak menghasilkan band disco dan electronic yang bagus seperti Daft Punk, Justice, bahkan Phoenix.
C: Sebenarnya sampai era 90’an, skena musik Perancis gak begitu populer sampai Daft Punk muncul. Menurutku ekosistem musik Prancis di era itu membantu mengenalkan musik Prancis ke dunia terutama dari segi club music-nya. Mereka menggunakan sample dan membuat musik yang berbeda dari musik dance kebanyakan dan itu berdampak pada skena musik electronic di Prancis.
Kalian mempunyai single terbaru berjudul ‘chrysalis’, bisa diceritakan tentang single ini?
A: Lagu baru ini sebenarnya adalah lagu pertama yang kami buat bersama Louve, penyanyi baru kami. Dia bergabung dengan kami lebih dari setahun yang lalu ketika kami mengadakan Pulsar Tour. Kami hanya punya sekitar sepuluh hari untuk latihan sebelum mulai tur. Aku bahkan tidak ingat negara mana yang kami mulai pertama, tetapi sepuluh hari itu adalah waktu yang kami punya buat latihan. Setelah tur dimulai, kami benar-benar saling mengenal Lou dan semuanya berjalan dengan sangat baik. Kami segera menyadari bahwa baik dari kami maupun Lou ingin menciptakan sesuatu yang baru bersama, sesuatu di mana dia bisa menulis liriknya sendiri dan membawa suaranya ke dalam lagu baru. Kedatangan Louve rasanya seperti saat yang tepat untuk menandai awal era baru bagi kami.
Chemistry kami dengan Louve terjadi dengan sangat alami. Kami sudah memiliki beberapa ide musik yang belum kami rilis untuk album “Pulsar”, jadi kami masuk ke studio bersama Louve dan membiarkannya mendengar demo yang kami punya. Dia langsung menunjuk satu yang dia benar-benar sukai. Saat itu, demo tersebut diberi nama “steak tartar” yang diambil dari makanan Prancis. Kami suka memberi nama makanan kepada file demo karena kami bingung mau memberi nama apa kepada demo kami.
Louvre memilih lagu itu dan menulis lirik dan memasukkan vokalnya yang cantik. Seluruh proses terasa sangat alami. Kami sangat puas dengan hasilnya, dan sekarang saat kami membawakannya secara live, kami merasa bangga menunjukkan kepada orang-orang bahwa kami masih bisa menciptakan musik. Lou benar-benar cocok untuk kami.
Kenapa nama makanan menjadi nama file demo kalian?
C: Kami semua pecinta makanan. Sebelum memasukkan judul yang serius, kami suka memasukkan judul yang nyeleneh buat lucu-lucuan aja.
A: Kami biasanya bertemu di pagi hari dan langsung mulai bekerja untuk menulis dan mengaransemen musik. Saat waktu makan siang tiba, kita harus menyimpan semua sesi yang sudah dilakukan dan memberi judul. Jadi kita bertanya pada diri kami, “kita pengen makan apa sih?” dan mungkin itulah awal mula kebiasaan memberi nama makanan ke demo kami.
Kalian sudah bertahan selama 10 tahun. Apa rahasia kalian tetap bertahan selama itu?
A: Percaya dengan satu sama lain mau susah atau. Kami selalu mengingatkan diri kami bahwa kami adalah sebuah tim, bukan sekadar individu. Di atas panggung ada enam dari kami, tetapi sekarang kami juga memiliki tim teknis enam orang yang bekerja bersama kami. Awal tahun ini, kami bahkan memiliki dua orang lagi. Jadi, kami benar-benar melihat proyek ini sebagai keluarga besar, tim besar yang bergerak bersama dari titik A ke titik B. Yang membuat kami kuat adalah tetap bersatu, saling mendukung, dan jujur. Dan tentu saja komunikasi yang baik dan jelas.
C: Kami selalu super fokus meski di saat sulit sekalipun dan tetap solid.
A: Kami selalu menyadari betapa beruntungnya kami memiliki karier sebagai musisi. Tidak banyak orang yang mendapatkan kesempatan seperti itu. Dan bagi sebuah band Prancis untuk bisa tur keliling dunia adalah sesuatu yang spesial. Sekarang kami akan pergi ke Asia untuk pertama kalinya, yang merupakan salah satu benua terakhir yang belum pernah kami kunjungi. Satu-satunya yang tersisa setelah itu adalah Oceania, seperti Australia. Ketika aku melihat diriku sebagai anak kecil, rasanya seperti mimpi dan hal itu membantu kami tetap rendah hati, tetap bersatu, dan menghargai apa yang kami lakukan, baik dalam momen-momen senang maupun susah.
Dari segi kualitas lagu, kalian terasa sangat high definition dan modern terutama dari segi mixing dan mastering tanpa melupakan sound vintage dari musik funk dan disco. Bagaimana kalian mendapatkan hal itu?
C: Sebuah analisis yang bagus karena memang itulah poinnya. Kami selalu berusaha menggabungkan semua influence musik yang kami suka. Karena ada enam orang di grup ini, masing-masing dari kami berasal dari latar belakang musik yang sangat berbeda. Beberapa ada yang suka musik klasik, ada rock n roll, dan ada hip hop. Sound kami merupakan campuran dari semua musik tersebut. Kami suka menggunakan banyak peralatan vintage. Hampir semua instrumen yang kami gunakan mulai dari drum, synthesizer, bass, gitar, mic semuanya vintage. Namun, kami berusaha memproduksi hal vintage ini dengan cara yang lebih modern: bass yang kencang, vokal yang kuat dan jelas yang gak terlalu banyak reverb. Tujuannya, kami ingin menciptakan lagu yang bisa diputar di club. Soal mastering, kami dulu bekerja dengan audio engineer dan mixer Amerika bernama Neal H Pogue. Dia adalah orang yang luar biasa yang sudah bekerja untuk musisi modern seperti Tyler, the Creator, Kali Uchis, dan banyak lagi. Dia juga pernah mixing untuk Outkast dan old school hip-hop, jadi dia benar-benar memahami cara menggabungkan suasana vintage dengan kualitas high definition jaman sekarang. Dia juga sering berkolaborasi dengan mastering engineer papan atas. Jadi pada dasarnya, kamu bisa terdengar vintage, tapi tidak semua harus vintage.
Menurutku, sound kalian itu membuat kalian punya banyak pendengar di Jakarta. Ketika nama kalian diumumkan di Joyland Sessions semua orang langsung kaget dan menunggu penampilan kalian.
C: Terima kasih banyak, kami tidak menyangka.
Ada persiapan untuk tampil di Jakarta?
C: Kami berencana untuk membawakan lagu yang telah kami mainkan selama dua tahun terakhir, tetapi dengan beberapa kejutan dan hal yang baru, tentu saja. Kami akan bermain dengan energi penuh dan memberikan pengalaman terbaik bagi penonton. Kami ingin semua orang melihat betapa kami mencintai musik dan yang paling penting, kami ingin membuat penonton bergoyang.
Apa yang kamu lakukan ketika kamu pertama kali datang ke Jakarta?
A: Makanannya dong.
Apakah kalian suka makanan pedas?
C&A: Tentu.
Kalian akan suka rujak, mungkin kalian bisa bilang ke panitia Joyland Sessions untuk membawakan rujak untuk kalian.
C&A: Boleh juga.
Apa yang kalian harapkan dari penonton Indonesia yang akan menonton kalian di Joyland Sessions?
C: Kami tidak mengharapkan apa pun karena kami tidak sepenuhnya tahu jenis hubungan apa yang orang Indonesia miliki dengan musik. Apakah kalian pendengar yang antusias, suka menari, atau hanya berdiri dan menikmati pertunjukan. Kami diberitahu bahwa di banyak negara Asia, orang sering diam di antara lagu sebagai tanda penghormatan. Kami sepenuhnya memahami hal itu. Namun, dalam budaya Latin dan Prancis yang terjadi sebaliknya. Kami akan berusaha memberikan penampilan yang terbaik sehingga penonton di Indonesia akan berjoget bersama.
Sebutkan lima hal yang tidak diketahui tentang kalian?
C&A: Beberapa dari kami punya anak, beberapa dari kami juga punya restoran makanya kami suka makanan, beberapa dari kami bisa berbahasa Kroasia, Korea dan kami maniak bola. Semuanya mendukung Paris Saint Germain (PSG) dan hanya satu yang mendukung Arsenal.
Ketika PSG juara Liga Champions untuk pertama kalinya pasti kalian sangat senang?
A: Tentu saja, kami merayakan dengan sangat meriah di Paris.
Menurutku, PSG menang dengan sangat pantas di Liga Champions
A: Terima kasih banyak atas pujiannya.
Simak interview selengkapnya berikut ini: