CreativeDisc Exclusive Interview with Portugal. The Man: Pulang Kampung Membawa “Feel It Still” dan Bahas ‘Golden’ dari KPop Demon Hunters

Oleh: luthfi - 10 Dec 2025

CREATIVEDISC.COM – JAKARTA – Pada penghujung 2017, seluruh dunia digegerkan dengan lagu psychedelic pop ‘Feel It Still’ milik band asal Alaska Portugal. The Man. (PTM) Lagu tersebut seperti merupakan oase di tengah gempuran lagu pop yang generik dan serangan ‘Despacito’ serta ‘Shape of You’ yang membabi buta di tahun tersebut. Berjalan dengan irama psychedelic dengan hook chorus yang maut, bassline soul, serta vokal John Gourley yang melengking seperti berdansa di es yang tipis membuat lagu ini populer di seluruh dunia dan membuat PTM meraih apa yang mereka tidak pernah rasakan sebelumnya sebagai band indie rock yang ekletik dan nyeleneh (tapi masuk major label). Mendengar ‘Feel It Still’ seperti mendengar ‘Crazy’ milik Gnarls Barkley (Danger Mouse memberikan masukan besar untuk ‘Feel It Still’) sama-sama mempunyai nuansa psychedelic soul yang unik namun mempunyai semua unsur untuk bisa menjadi top hits global.

Grammy dan ganjaran plakat Platinum dan Diamond dari seluruh dunia berhasil mereka dapatkan. Satu ruangan dengan BTS juga bisa mereka ceritakan ke anak cucu mereka kelak. Setelah mendapat semua pencapaian luar biasa tersebut, John memutuskan untuk pulang kampung ke Alaska dan melepas semua pencapaian ‘Feel It Still’ untuk membuat materi baru yang menceritakan tentang Alaska dan perasaan terisolir di tengah dinginnya salju dan bertahan hidup di tengah kerasnya kehidupan Alaska. Hasilnya album “SHISH” yang seolah menjadi catatan harian pribadi John Gourley tentang kehidupan di sana dan CreativeDisc bisa mengobrol dengan John tentang kehidupan di Alaska, ‘Feel It Still’ dan kekagumannya akan K-Pop.

Aktivitas apa yang kalian lakukan akhir-akhir ini?

Kami latihan buat tur, karena ketika kami mau mulai merencanakan untuk tur kami lupa cara mainin lagu kami. Agak panik tuh sebenarnya, tapi ketika megang gitar lagi ternyata bisa lagi

Mari kita bicarakan tentang album terbarumu “SHISH”. Bisa diceritakan tentaang album ini?

Shish diambil dari Shishmaref, sebuah desa kecil di ujung Alaska tepat di antara Rusia dan Alaska. Aku pergi ke sana untuk berbicara dengan Percy, seorang penduduk asli Alaska, tentang cara terbaik untuk mewakili Alaska dan penduduknya.

Aku tumbuh besar di Alaska dengan keluarga mushers. Bagi yang tidak tahu, mushers adalah orang yang menyupiri anjing penarik kereta salju. Buat orang luar hal itu terdengar liar dan unik, tapi buat kami itu adalah hal sehari-hari.

Pada akhirnya, sekarang merupakan momen yang tepat untuk menceritakan tentang kampung halamanmu setelah merantau sekian lama?

Betul sekali. Aku berada di Atlantic Records dan merilis empat album bersama. Berada di label besar merupakan pengalaman yang menakjubkan dan bermakna buatku. Aku belajar banyak dari penulis dan produser yang sangat hebat seperti Benny Blanco, Jeff Bhasker, dan Danger Mouse. Aku seolah dididik dan ditempa di sana karena bisa bekerjasama dengan orang terbaik di dunia.

Ketika kontrakku selesai, aku mempunyai dua opsi. Mau bikin album pop dengan formula yang sama seperti kemarin atau mau bikin sesuatu yang baru mumpung aku sudah tidak di major label. Akhirnya aku memilih jalur kedua karena aku ingin mengembalikan perasaan ketika aku pertama kali membuat musik dan aku memilih menceritakan Alaska dengan desa-desanya sekaligus cerita bertahan hidup di daerah yang terisolir.

Aku dibesarkan jauh dari perkotaan. Keluargaku hidup terisolasi dari jaringan listrik dan hanya mengandalkan generator dan tidak ada telepon. Terdengar sangat sepi hidupku, tetapi lingkungan itulah yang membentuk diriku dan kenapa aku membuat musik.

Itu terdengar sekali di album baru ini. “SHISH” banyak memainkan musik yang raw dan seolah mengembalikan ke era awal Portugal. The Man sebelum kamu dikontrak oleh Atlantic Records.

Kami mulai bermain bersama Kane Richotte, yang akhirnya memproduseri album ini bersamaku. Seseorang menyarankan agar aku bekerja dengannya karena mereka tahu kami sudah akrab, tetapi mereka tidak tahu kalau kami sudah sangat akrab seperti saudara sendiri.

Kane dan aku bermain bersama saat dia berusia 18 tahun. Kami masih bocah saat itu dan dia selalu seperti adik laki-laki sendiri. Dia tur bersamaku dan di belakang panggung saya selalu kasih tahu “hei, jangan sentuh itu nanti kamu akan kena masalah” dan mencoba menjaganya agar tidak terlibat masalah.

Karena kami sudah bermain bareng sebelum saya dikontrak Atlantic, rasanya pas untuk kerja bareng bersama Kane sebagai partner bukan bocah seperti dulu. Itu merupakan hal yang Istimewa dan mengembalikan memori muda kami. Banyak riff yang mudah kami ciptakan, banyak hal jujur yang tertuang ke dalam lagu dan merupakan suatu kebahagiaan bermain bareng Kane lagi.

Lirik di album ini kebanyakan tentang bertahan hidup, seolah diceritakan dari sudut pandang penyintas.

Ini semua berawal dari ayahku yang menginspiriasi musikku. Dia sering bertanya tentang hal yang dalam dan sering menyampaikan hal yang bijak, kadang tanpa disengaja juga buat jadi bijak tetapi aku yakin kalian paham dengan hal itu.

Aku selalu suka gambar ayah. Ketika aku mulai mengerjakan album ini, aku meminta ayah untuk menggambar kereta anjing karena ia tumbuh besar dengan anjing penarik kereta. Permintaan tersebut ternyata memicu sebuah cerita. Dia berkata, “Johnny, aku senang menggambar kereta. Setiap ayah mau tidur ayah selalu memikirkan apa yang akan ayah taruh di dalamnya.” Orang tertidur pakai cara menghitung domba, tapi ayahku membayangkan apa yang ia masukkan ke dalam toboggan sepanjang 1,8 meter sebelum dia pergi dan “siap masuk ke hutan”. Saat dia siap pergi, itulah yang akan dia bawa bersamanya.

Aku tertegun mendengarnya dan hal itu membentuk album ini. Ketika aku membuat album ini aku bertanya “aku tahu apa yang ayah akan masukkan ke dalam kereta saljunya, tapi apa yang akan aku masukkan ya ke dalam kereta saljuku ketika aku mau masuk ke hutan?”. Jadinya album ini penuh dengan apa saja yang ingin kutaruh di toboggan milikku untuk bertahan hidup di Alaska, makanya di satu lagu ada lirik yang isinya daftar buah beri yang tumbuh di Alaska.

Mari kita berbicara tentang tembang lawasmu yang sangat monumental di jamannya yaitu ‘Feel It Still’ jika kamu tidak keberatan.

Aku sangat senang berbicara tentang lagu itu.

Lagu itu meledak di mana-mana dan kamu mendapatkan Grammy juga berkat lagu itu. Bagaimana rasanya tiba-tiba kamu mempunyai lagu hits di seluruh penjuru dunia?

Aku akan menceritakan hal yang lucu ketika kamu sudah punya hits besar. Kami sudah buat ratusan lagu tetapi ketika kamu punya hits besar, kamu cuma berasa punya satu lagu. Lagu itu menjadi sangat besar dan luar biasa pengaruhnya.

Menurutku, kejujuran adalah hal terpenting dalam membuat lagu dan beruntungnya ‘Feel It Still’ dilandasi dari rasa jujur. Lagu itu mengambil melodi dari ‘Please Mr. Postman’ dari The Marvelettes yang sering aku nyanyikan bersama orang tua ketika kecil. Kami menyanyikannya sendiri di kabin kami, tanpa listrik dan ditemani dengan perapian dan kayu bakar sambil mendengarkan Mr. Postman. ‘Feel It Still’ punya makna dalam buatku karena mewakili diriku sampai sekarang. Sangat beruntung punya lagu seperti itu dalam hidupku.

Menurutmu, susah gak untuk membuat lagu hits?

Tentu saja sangat susah.

Aku akan memberitahumu satu hal yang mungkin bisa membantu penulis lagu di luar sana: kamu selalu tahu apa yang terjadi dengan lagumu sendiri.

Begitu banyak orang memberi tahu apa yang harus kulakukan dengan lagu itu, tapi saya tidak mendengarkan saran mereka satupun kecuali saran dari Danger Mouse. Dia mendengarkan lagu itu dan berkata, “Ada satu hal yang akan kuubah jika aku menjadi kamu. Lagu ini butuh sedikit lebih banyak musik, dan aku akan merubah salah satu lirik di bagian chorus, saat breakdown.”. Karena dia sangat cerdas dan intuitif, nasihatnya benar-benar masuk akal. Dia tidak memberitahuku apa yang harus kumainkan dan hanya berbagi apa yang dia pikirkan terhadap lagu itu dan saya mempercayainya.

Orang lain punya pendapat kalau lagu ini, “butuh bagian bridge,” “butuh ini,” “butuh itu”, karena orang secara alami ingin meninggalkan jejak mereka pada sesuatu. Jika kamu tahu mau ngapain, kamu pasti tidak akan mengutak-atik lagunya terlalu banyak.

Aku setuju dengan jawabanmu, karena pada waktu itu tidak ada lagu seperti ‘Feel It Still’ dan aku masih tidak mempercayai bahwa lagu ini bisa hits.

Salah satu alasan mengapa lagu itu berhasil adalah karena pada saat itu tidak ada lagu lain yang terdengar seperti itu, namun lagu itu tetap memenuhi semua kriteria yang seharusnya dimiliki oleh lagu hits. Sebenarnya, aku gak menulis musik buat bikin hits dan tidak ada tujuan ke sana juga. Cuman sangat keren ternyata caranya berhasil.

Kamu baru saja membawakan ulang lagu ‘Golden’ dari KPop Demon Hunters. Kenapa kamu memilih lagu itu?

Semua tahu bahwa K-Pop adalah hal yang gede di dunia sekarang tetapi aku punya cerita lucu tentang itu.

Di tahun 2017, kami membawakan ‘Feel It Still’ di American Music Awards yang menjadi momen besar bagi kami dan kami duduk di sebelah BTS. Pada waktu itu K-Pop belum meledak di Amerika sampai sebesar ini jadi artis di dalam acara itu gak tahu siapa itu BTS, tapi bocah yang ada di luar datang buat lihat BTS. Bukan artis lain, cuma BTS. Luar biasa kalau dilihat.

Kami duduk sebelahan dan mereka sangat baik, tidak sombong, dan ramah. Aku mikir, “kalian gak tahu kalau seruangan ini kalian adalah orang yang paling terkenal?”, hal yang sangat kontras dengan kepribadian dan kepopuleran mereka.

Secara musik, K-Pop ternyata seru buat dikulik. Produksinya, melodinya, penulisan lagunya salah satu terbaik di dunia. Banyak banget hal kreatif yang muncul dari K-Pop. Anak perempuanku suka banget dengan ‘Golden’ dan dia dengerin lagu itu tiap pagi sehingga aku juga ikut dengerin. Aku mau membawakan ulang lagu itu demi anakku tapi ternyata lagu itu sangat susah untuk dinyanyikan apalagi di nada tingginya. Awalnya aku gak mau membawakannya. Aku harus memikirkan gimana caranya untuk mereka ulang lagunya tanpa harus menyanyikan bagian nada tingginya yang susah banget.

Jika kamu bisa memproduseri lagu K-Pop. Kamu akan membuat lagu seperti apa?

Bingung juga jawabnya, soalnya gak nyambung sama apa yang biasa aku lakukan. Aku selalu kagum dengan produksi lagu K-Pop. Secara pribadi, aku suka menulis lagu yang stripped down modal gitar akustik, fingerpicking dan banyak arsiran string yang indah. Di satu sisi aku juga suka lagu yang glitch, heavy, dengan big bass bahkan gitar metal.

Kalau bisa dikasih kesempatan nulis lagu buat orang lain, aku ingin menulis untuk vokalis perempuan, sesuatu yang intim, lembut namun powerful atau heavy dan eksperimental.

Lagu K-Pop itu sangat next level dan satu-satunya cara yang bisa kubayangkan ketika membuat lagu K-Pop dengan membawa gaya Portugal. The Man yang kental dengan nuansa 60’an dengan nuansa modern dan sound yang masif.

Terima kasih atas waktunya, jujur aku sangat senang bisa mengobrol langsung dengan pembuat lagu ‘Feel It Still’ yang aku putar terus selama 2017 sampai 2018.

Coba tebak lagu favorit anak perempuanku apa?

Pasti ‘Feel It Still’

Bener banget. Anak perempuanku juga begitu. Kami punya ratusan lagu kan tapi ketika ditanya lagu favorit Portugal. The Man anakku selalu jawab ‘Feel It Still’ (tertawa).

SHISH telah dirilis pada 7 November 2025 via KNIK/Thirty Tigers

Simak interview selengkapnya berikut ini:

 

Author

luthfi

More from Creativedisc