Catching Up with Wolf Alice: Ambisi Besar Membersihkan Jakarta

Oleh: luthfi - 13 Jan 2026

Ketika kuartet asal Inggris Wolf Alice mengumumkan untuk bermain di Jakarta dan berbagai macam negara Asia yang belum mereka kunjungi sebelumnya, ada ambisi besar yang tersirat di dalamnya dan itu berkaitan dengan album keempat mereka “The Clearing”. Album yang juga menjadi penanda mereka masuk ke major label berisikan 11 lagu yang jauh berbeda dari ketiga album mereka sebelumnya. Tiada lagi sound shoegaze yang menderu atau vokal Ellie yang sengau dan terbenam di antara bisingnya distorsi gitar atau nuansa ambient di dalamnya. Seolah mereka ingin Wolf Alice dikenal oleh masyarakat umum dengan sound soft rock dan rock 70’an-nya yang kembali naik berkat viralnya album Fleetwood Mac “Rumours”. Misi untuk mengenalkan Wolf Alice ke pendengar lebih banyak lagi juga dituangkan di tur Asia mereka yang menyambangi Jepang, Thailand, Tiongkok, Singapura dan Indonesia untuk mendukung album ini .CreativeDisc berkesempatan untuk bertemu dengan Joff sang gitaris dan Theo sang basis via Zoom untuk membicarakan penampilan mereka di Jakarta pada Selasa, 13 Januari 2026 di Bengkel Space.

CreativeDisc (CD): Akhirnya kalian bisa tampil di Jakarta untuk pertama kalinya. Bagaimana perasaan kalian tentang Jakarta dan apa ekspektasi kalian selama di Jakarta?

Joff (J): Merupakan sebuah kehormatan besar bagi kami untuk bisa datang ke Jakarta, apalagi ini adalah pertama kalinya kami main di sana. Teman dekatku tumbuh besar di Jakarta dan dia selalu bercerita bahwa Jakarta luar biasa karena tempat berbagai macam budaya bercampur dan begitu banyak hal menarik yang terjadi di sana. Makanan di sana katanya juga enak-enak.

Aku benar-benar ingin merasakan semuanya secara langsung. Semoga kami punya cukup waktu untuk keliling Jakarta dan melihat hal keren di sana.

Theo (T): Gila juga sih kami tidak ke Jakarta sampai album keempat kami. Aku tidak sabar untuk tampil di sana.

CD: Berbicara tentang album terbaru kalian “The Clearing”. Ketika kalian pertama kali ke studio bareng produser di album ini Greg Kurstin, apakah album ini sesuai dengan visi kalian di awal kalian menyentuh studio atau hasil akhirnya malah beda sepanjang jalan?

T: Pada hari pertama, kami melakukan sesi rekaman dengan Greg saat pertama kali datang ke Los Angeles. Kami sebenarnya sudah pernah bertemu dengannya sebelumnya, jadi kami tahu bahwa dia adalah orang yang sangat menyenangkan. Kami juga sudah mengenal studionya. Ruang yang ia ciptakan benar-benar luar biasa dan sangat spesial dengan alur kerja yang menurutku salah satu yang terbaik dan itu membuat proses kerja kami menjadi sangat cepat.

Sesi pertama berlangsung sekitar dua sampai tiga minggu. Selama periode itu, kami menuangkan berbagai ide sembari mengenal satu sama lain baik dari sisi personal maupun kreatif sambil mencari tahu musik apa yang ingin kami buat bersama. Kami sempat menjelajahi hal yang sudah kami lakukan di album sebelumnya untuk proses rekaman.

Setelah sesi pertama itu, kami jeda sejenak dan balik lagi ke Los Angeles. Menurutku, momen itulah yang menandai dimulainya proses rekaman “The Clearing” secara serius. Periode awal tersebut sangat penting karena memberi kami kesempatan untuk memahami proses kreatif masing-masing, baik di dalam band maupun bersama Greg, dan hal itu sangat memengaruhi apa yang kami lakukan saat kami kembali ke LA.

Salah satu lagu pertama yang kami kerjakan pada fase kedua ini adalah ‘Safe in the World’. Lagu ini menjadi titik di mana kami benar-benar bisa mendengar bahwa kami telah menciptakan sesuatu yang sesuai dengan apa yang kami bayangkan. Aku rasa sebuah album tidak pernah sepenuhnya terdengar persis seperti yang dibayangkan sejak awal karena itu akan menghilangkan ruang untuk spontanitas. Namun lagu ini menjadi pemicu awal dari proses yang akhirnya membentuk karakter yang khas pada album ini. ‘Safe in the World’ sangat berperan dalam membentuk “The Clearing”

Secara keseluruhan, prosesnya sangat menyenangkan dan menantang secara kreatif dalam arti yang positif. Saya benar-benar bangga dengan “The Clearing” dan menurut saya hasil albumnya sangat bagus.

CD: Di album sebelumnya, kalian sangat intens, padat dan berbicara tentang kecemasan dan patah hati. Namun “The Clearing” tidak seperti itu.

J: Menurutku dalam berkarya kita sebaiknya tidak memaksakan terlalu banyak makna kepada pendengar. Kita membuat karya, lalu memberikannya kepada dunia, dan setelah itu karya tersebut menjadi milik orang-orang untuk ditafsirkan dengan cara mereka masing-masing. Setiap orang bebas merasakan dan memaknainya sesuai pengalaman pribadi mereka.

Aku rasa album ini memang memiliki makna, tetapi setiap lagu di dalamnya bisa berarti hal yang berbeda bagi setiap pendengar. Musik indie sering kali terasa cukup serius, bahkan terkadang terdengar muram. Karena itu, kami tertarik untuk mengeksplorasi bagaimana memainkan musik band dan menulis lagu rock dalam nada major yang selalu diasosiakan dengan lagu-lagu yang terasa lebih cerah, optimististis, dan melihat manusia dari sudut pandang yang lebih ringan untuk dicerna.

Pendekatan seperti ini sebenarnya cukup menantang. Band seperti The Beatles melakukannya dengan sangat baik, begitu juga dengan The Carpenters dan musisi lainnya. Itu yang membuat album ini terdengar menarik.

CD: Menurutmu dimana tempat yang cocok untuk mendengarkan “The Clearing” dari awal sampai akhir?

T: Di Bengkel Space Jakarta pada Selasa, 13 Januari 2026 dong.

J: Pinter banget promosinya (tertawa). Btw, kasih kami rekomendasi makanan di sana dong.

CD: Kamu bisa coba batagor dan yang paling populer nasi goreng tentunya

J: Semoga kami bisa coba waktu kami main ke sana.

CD: Di TikTok kalian, kalian makan snack di Tiongkok tuh. Kalau ‘The Clearing’ jadi makanan, kira-kira makanan apa yang cocok melambangkan album ini.

J: Pertanyaan yang menarik ini. British stew yang melegakan dan dibuat pakai hati kali ya. Mungkin terdengar tradisional tapi kamu ingin melahapnya sampai habis.

T: British stew dengan Margarita enak juga tuh, apalagi album ini kan direkam di Los Angeles.

CD: Kalau aku album ini cocok dinikmati di luar ruangan sambil makan British stew sih.

T: Outdoor stew ya, menarik juga tuh idenya.

CD: Penggemar di Jakarta sudah menantikan kedatangan kalian ke sini. Kira-kira perasaan apa yang ingin kalian berikan untuk dibawa pulang untuk penggemar kalian di sini?

T: Sejujurnya, aku berharap mereka pulang dengan perasaan bahagia. Tentu saja, aku ingin setiap orang bebas merasakan yang ingin mereka rasakan, tetapi harapan terbesar ku adalah mereka pulang dengan kebahagiaan. Aku juga berharap konser ini terasa sepadan dengan penantian panjang mereka.

Aku ingin orang-orang meninggalkan pertunjukan dengan perasaan antusias dan menantikan pertunjukan Wolf Alice di Jakarta di masa yang akan datang. Mudah-mudahan kami bisa kembali ke Jakarta lebih cepat dan tidak perlu menunggu delapan tahun lagi, atau setidaknya tidak selama itu. Kami bahkan belum pernah ke sana sepanjang hidup kami.

J: Aku senang bisa diundang untuk tampil di sebuah pulau yang indah. Aku tahu Indonesia punya berbagai tempat yang luar biasa dan sangat indah untuk dikunjungi. Teman dekatku tumbuh besar di Jakarta dan sekarang tinggal di Hong Kong dan baru saja dikaruniai seorang anak. Selamat untuk Dan and Steph atas kelahiran anak mereka.

CD: Kalau kalian bisa memilih satu lagu yang kalian mainkan di Jakarta untuk menunjukkan siapa Wolf Alice sebenarnya kepada penggemar baru. Lagu apa yang ingin kalian tunjukkan?

T: ‘The Sofa’. Seperti yang Ellie katakan beberapa waktu lalu dalam sebuah wawancara, rasanya lagu ini akan bersama kami untuk waktu yang sangat lama. Terutama sebagai salah satu lagu yang kemungkinan besar akan terus kami bawakan di pertunjukan kami berikutnya.

Dalam setiap siklus album, selalu ada lagu-lagu yang ada dan tiada di setiap setlist kami, tetapi aku merasa lagu ini akan terus kami bawakan secara permanen. Liriknya relevan dengan kehidupanku saat ini. Sepanjang libur Natal, aku benar-benar hanya duduk di sofa, dan sekarang aku kembali manggung keliling dunia. Dualitas antara dua keadaan itu terasa sangat nyata dalam hidupku sekarang.

Aku sangat menikmati memainkan lagu ini. Terdengar egois memang, tapi secara pribadi aku benar-benar suka lagu ini apalagi lagunya mudah didengarkan dan sangat catchy.

J: Kalau aku ‘Bread Butter Tea Sugar’ karena lagu itu membingungkan.

CD: Mengapa membingungkan?

J: Lagu tersebut menjadi semacam metafora untuk kami, karena ia menjelajah ke berbagai tempat, mengambil banyak tempat dan sudut pandang yang berbeda. Lagu ini benar-benar mencerminkan keinginan dari kami yaitu mencoba banyak hal, mengeksplorasi berbagai ide, dan tidak terpaku pada satu jenis musik saja.

Wawancara oleh Tia

The Clearing telah dirilis pada 22 Agustus 2025 via Sony Music

Author

luthfi

More from Creative Disc