Photo: Yogi Setiawan
CREATIVEDISC.COM – JAKARTA – Ketika Joyland Festival mengumumkan pembatalan acara di tahun 2025 akibat ekonomi global yang sedang reses, semua komentar di media sosialnya bukan berisi cacian atau bertanya “kapan refund?” dengan nada negatif. Malah dukungan diserukan agar Joyland Festival kembali di tahun depan, mayoritas pengikutnya berdoa untuk comeback stronger bukan menghardik. Baru kali ini penonton berharap bahwa dana mereka yang tersangkut di Joyland ditahan sampai festival tahun depan, tanda para pengikutnya sudah percaya bahwa Joyland selalu memberikan hal yang bagus terlepas dari siapapun yang tampil.
Dirindukan tiap tahunnya adalah hal yang sangat wajar, karena Joyland menjadi penyintas terakhir festival musik yang membawa sederet legenda dalam ranah indie rock dan pop, menyediakan air minum gratis, mempunyai banyak agenda yang seru untuk anak dan orang tua, jauh dari asap rokok di area panggung, harga makanan yang tidak dilebihkan dan bisa menggelar tikar di area panggung untuk menonton.
Banyaknya permintaan, membuat Plainsong Festival sebagai pemilik acara menyelenggarakan Joyland kecil-kecilan bernama Joyland Sessions, hanya dua hari dibanding tiga hari dan hanya satu panggung dibanding tiga panggung. Meskipun terkesan “mini”, namun Joyland Sessions yang diadakan pada 29 dan 30 November ini menawarkan pengalaman yang sama dengan Joyland Festival pada umumnya. Para pengikutnya tidak peduli meski Joyland lebih kecil dan artisnya lebih sedikit. Joyland sudah membuat kultus sendiri.
Lineup dari Joyland Sessions seolah memuaskan dua generasi internet yang berbeda. Generasi penggali blog indie dan Myspace seperti Bright Eyes, dan The Pains of Being Pure at Heart bertemu dengan generasi baru seperti Oddisee & Good Company, Soccer Mommy, Luna Li, Ali, Bank, Bernadya, Galdive, Jirapah, Reality Club, The Cottons, Thee Marloes, TV Girl dan L’Impératrice. Walhasil dua pertemuan ini menghasilkan sesuatu festival kecil yang masih sama seperti festival versi besarnya.
GBK City Park juga menjadi tempat yang sempurna untuk Joyland Sessions, suasana rindang dan banyaknya pepohonan dengan layout serasa berada di area camping di satu sisi membuat versi mini-nya jauh lebih baik dari versi besarnya. Berada di hutan kota membuat pengalaman menonton menjadi semakin lebih menyejukkan. Ketika artisnya menawarkan musik yang chill dan menenangkan, penonton bisa duduk di rerumputan entah itu beralaskan tikar atau beralaskan jas hujan yang dibagikan di pintu masuk. Ketika ada musik yang hingar bingar, penonton berdiri dan bergoyang bersama. Seolah mempunyai satu energi yang sama di satu tempat. Begitu magis.
Berbicara soal artis yang tampil ada empat nama yang ditunggu oleh penonton tentunya namun ada dua nama yang mengejutkan dan tak terbayangkan sebelumnya yang secara kebetulan tampil mengisi satu sama lain di hari pertama.
(Bright Eyes/photo: Yogi Setiawan)
Pertama ada Bright Eyes, band bentukan Conor Oberst ini mengejutkan banyak orang ketika tampil di Joyland Sessions karena akhirnya salah satu nama besar di skena indie rock di era 2000’an datang ke Jakarta. Tembang legendaris seperti ‘First Day of My Life’, ‘Poison Oak’, ‘Lover I Don’t Have To Love’ dibawakan dan membawa memori indah ketika mereka masih berselancar menelusuri relung terdalam internet untuk mendapatkan sepenggal file mp3 Bright Eyes di blog musik luar negeri.
(The Pains of Being Pure at Heart / photo: Yogi Setiawan)
Lalu ada gerombolan noise pop yang sangat populer di masanya yaitu The Pains of Being Pure at Heart. Kedatangan band yang sering disingkat sebagai TPOBPAH ini sudah ditunggu-tunggu oleh pendengar Indonesia apalagi mereka sudah 13 tahun tidak mampir ke Jakarta. Sang vokalis Kip Berman sudah sangat rindu untuk menghibur penontonnya di Indonesia, bahkan dia sering membuat post di Facebook tentang betapa kangennya ia bertemu apalagi TPOBPAH mempunyai basis penggemar yang sangat besar di sini (lihat saja berapa banyak orang yang menggunakan kaos TPOBPAH sebagai tanda identitas bahwa dia adalah seorang penggemar musik indie pop yang berbeda dengan orang kebanyakan). Mereka membawakan semua lagu dari album perdananya secara berurutan karena bertepatan dengan tema perayaan 15 tahun album perdananya yang critically acclaimed lengkap sampai bonus track-nya. Mereka juga membawakan ‘Belong’ dan ‘Heart in Your Heartbreak’. Kip tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih kepada penontonnya yang sudah sabar menunggu 13 tahun untuk mereka kembali lagi. Sebuah reuni yang sangat pure at heart.
(L’Impératrice / Photo: Yogi Seitawan)
Didaulat sebagai headliners di hari pertama, unit nu-disco asal Prancis L’Impératrice memberikan energinya di tengah guyuran hujan yang menaungi hutan Joyland pada malam itu. Derasnya hujan malah membuat sang vokalis Louve semakin bersemangat untuk bergoyang. Penonton pun seolah merasakan sebuah ekstasi dari gempuran synth dengan bass yang mendalam, irama perkusi yang menggelora, dan jentikan gitar funk yang membuat pinggul harus bergoyang. Mereka menyelipkan cover ‘Aerodynamic’ milik senior mereka Daft Punk yang sangat mereka hormati sebagai pembuka jalur musik french house kepada dunia. L’Impératrice benar-benar berhasil menyedot energi penonton dan menjadi penutup yang sempurna di hari pertama.
(Galdive / Photo: Yogi Setiawan)
Hari kedua adalah hari untuk generasi baru. Galdives, Luna Li, Oddisee & The Good Company, Soccer Mommy dan tentunya TV Girl menjadi highlight. Duo alternative R&B asal Indonesia yang menggetarkan publik karena dikira lagu bule yaitu Galdives tampil pertama kalinya di Indonesia dalam Joyland Sessions. Duo yang digawangi Tisha (yang ternyata sudah membaca website ini dari kecil) dan Os membuai penonton sebelum matahari tenggelam dengan lantunan R&B yang seksi dan edgy. Tisha terlihat lucu di depan panggung karena ia terlihat malu-malu namun itu adalah hal yang organik tanpa gimmick. Oddisee & The Good Company juga tampil enerjik dengan semburan rima dari Oddisee yang terus keluar dari mulutnya, ketika mic Oddisee mati ia tidak tinggal diam dan langsung bernyanyi di depan mic keyboardisnya. Luna Li tampil dengan sentuhan ritmis yang chill dan Soccer Mommy juga tampil dengan nuansa indie rock yang jujur.
(Soccer Mommy / Foto: Yogi Setiawan)
TV Girl didaulat menjadi penutup di hari kedua Joyland dan mereka benar-benar mempunyai segalanya untuk menjadi superstar baru di kalangan kaum anti mainstream. Band yang sudah mencetak 4 miliar angka streaming ini mengeluarkan aura braggadocio-nya sepanjang tampil. Mereka tampil dengan nuansa ala 70’an lengkap dengan celotehan sang vokalis Brad Petering yang sering teasing ke penontonnya. Gaya seperti itu membuat Joyland seolah berada di dimensi lain apalagi mereka membawakan musik syahdu hasil peranakan silang musik 60’an, sampledelia, alternative dance, psychedelic dan indie pop. Brad terus menggoda penontonnya sampai akhir dan sedikit trolling ketika mereka hampir tidak membawakan ‘Lovers Rock’, hits terbesar mereka ketika mereka menyanyikan lagu selamat tinggal buatan mereka sendiri.
(TV Girl / Photo: Yogi Setiawan)
Ketika TV Girl pamit, berakhir sudah ritual Joyland tahunan versi kecil-kecilan. Meski terkesannya “turun derajat” namun Joyland Session mampu membuat utopianya sendiri dan di satu sisi lebih baik dari versi besarnya. Layout satu panggung membuat penonton terfokus dan jeda yang cukup lama antar artis membuat penonton bisa melakukan banyak hal sebelum kembali ke panggung. Suasana hutan yang sejuk dan juga teduh menambah pengalaman seru di Joyland Sessions, seolah-olah mereka hilang sejenak dari hiruk pikuk rutinitas sehari-hari dan kembali ke alam hanya sebentar. Dengan basis penonton yang setia menunggu terlepas dari skala festivalnya seperti apa dan berhasil mengunci penontonnya untuk nyaman menonton festival sepanjang seharian di bawah sejuknya suasana mendung Jakarta, Joyland Sessions dan Joyland Festival itu sendiri sudah cocok dikatakan sebagai sebuah cult yang berisikan kebahagiaan dan kesenangan di dalamnya untuk berbagai macam usia.