CreativeDisc Exclusive Interview with Réjizz: Menemukan Identitas di Antara Hip-Hop, Thai-Funk, dan Perasaan Menjadi Orang Asing

Oleh: nanack - 26 May 2026

CREATIVEDISC.COM – JAKARTA – Di tengah gelombang musik Asia Tenggara yang semakin berani menembus pasar global, nama Ray Jay Rangsit atau yang lebih dikenal sebagai Réjizz muncul sebagai sosok yang sulit diabaikan. Lahir dan besar di Bangkok, ia membangun identitas musikalnya melalui sesuatu yang ia sebut Thai-Funk: perpaduan jazz phrasing, soul, ritme Mo-Lam khas Thailand, hip-hop, dan R&B yang terdengar akrab sekaligus segar di saat bersamaan.
Bukan cuma soal eksperimen bunyi, perjalanan Réjizz juga terasa simbolik. Setelah dinobatkan sebagai Hip-Hop Artist of the Year di Thailand, ia menjadi artis Thailand pertama yang bergabung dengan Marshall Records, langkah yang menandai babak baru bukan hanya untuk dirinya, tapi juga skena independen Thailand yang makin dilirik dunia.
Namun ketika berbincang dengannya, kesan yang muncul justru jauh dari persona bintang besar. Réjizz terdengar santai, penuh tawa, dan sangat jujur saat membicarakan musiknya, mulai dari masa remaja yang dipenuhi hip-hop, rasa tidak nyaman di pesta industri, sampai lagu berjudul ‘Lisa Lisa’ yang ternyata sama sekali tidak ada hubungannya dengan Lalisa Manobal dari BLACKPINK.

Hip-Hop yang Datang Secara Natural

Kalau mendengar musik Réjizz hari ini, orang mungkin mengira perjalanan menuju hip-hop adalah keputusan artistik yang matang. Nyatanya, menurutnya semua datang begitu saja.
Ia menyebut banyak nama yang membentuk warna musiknya: Eminem, Mac Miller, Tyler, The Creator, hingga figur lintas genre seperti Michael Jackson, James Brown, dan Bruno Mars.
“Pengaruhnya banyak,” katanya sambil tertawa.
Tapi saat ditanya kapan ia sadar bahwa hip-hop adalah identitasnya, jawabannya terasa sangat sederhana: ia tidak benar-benar merasa memilih.
Bagi Réjizz, hip-hop seperti tumbuh bersamanya. Di usia sekitar 13 tahun, playlist hidupnya mulai dipenuhi Lauryn Hill lewat The Fugees, Eminem, hingga album-album Chris Brown. Dari situ, kebiasaan menulis mulai muncul. Rap menjadi bahasa sehari-hari dilakukan saat naik mobil bersama teman-teman, freestyle tanpa tekanan, hanya karena terasa natural.
“Aku rasa aku nggak pernah benar-benar memilih hip-hop,” ujarnya. “It just came naturally.”

‘Uncomfortable Situation’: Soundtrack untuk Jadi Orang Asing

Single terbarunya, ‘Uncomfortable Situation’, yang dirilis pada 20 Mei lalu, mungkin menjadi salah satu lagu paling personal dalam katalog Réjizz sejauh ini.
Alih-alih bicara tentang heartbreak atau ambisi besar, lagu ini lahir dari sesuatu yang terasa sangat manusiawi: rasa tidak nyaman berada di tempat yang seharusnya terasa glamor.
Réjizz bercerita bahwa inspirasinya datang dari pengalaman menghadiri pesta-pesta industri musik, ruang sosial yang sering dianggap penting, tapi justru membuatnya merasa asing.
Ia menggambarkan dirinya seperti seorang outcast di tengah keramaian. Hadir di sana, tapi tidak benar-benar merasa cocok.
Dari situ muncul ide sederhana namun menarik: bagaimana kalau rasa canggung itu punya soundtrack sendiri?
“Aku pengin bikin lagu yang bisa diputar di kepala saat aku merasa seperti itu,” jelasnya.
Hasilnya adalah lagu yang terasa introspektif, sedikit gelap, tapi tetap bergerak dengan groove yang bikin kepala ikut mengangguk.

Ketika Saksofon Mengubah Segalanya

Salah satu hal paling menarik dari ‘Uncomfortable Situation’ adalah bagaimana lagu ini bermain dengan ekspektasi. Intro-nya terasa muram dan sinematik, hampir seperti pembuka film thriller sebelum perlahan berubah menjadi groove funky yang dibalut saksofon.
Ternyata, perubahan arah itu terjadi cukup organik.
Réjizz mengaku sudah lama bekerja dengan produsernya: Jace, Michael, dan Jamie. Khusus Jamie, hubungan mereka bahkan lebih dekat karena sudah lama berteman dan Jamie juga menjadi sosok di balik permainan saksofon di lagu ini.
Awalnya, groove lagu dibuat stabil sepanjang track. Tapi Jamie merasa ada sesuatu yang bisa diganggu untuk menciptakan kejutan.
Mereka kemudian membongkar ulang struktur lagunya, menambahkan intro yang lebih dramatis agar terasa tidak terduga dan lebih sinematik.
Menariknya lagi, bagian saksofon yang kini terasa seperti momen penting lagu itu sebenarnya lahir dari hal yang nyaris kebetulan.
Saat Jamie sedang pemanasan memainkan saksofon, Réjizz mendengar sebuah melodi kecil yang bahkan sudah dilupakan oleh Jamie sendiri. Ia langsung menangkap momen itu dan mulai menulis melodi di atasnya yang akhirnya menjadi salah satu bagian paling menonjol dalam lagu.
Ironisnya, intro yang kini terasa sangat penting justru menjadi elemen terakhir yang ditambahkan.

‘Long Disco Relationship’: Tentang Menemukan Jalan Kembali

Sebelum ‘Uncomfortable Situation’, Réjizz lebih dulu membuka era barunya lewat ‘Long Disco Relationship’ sebuah lagu yang ternyata sangat personal.
Lagu ini lahir dari pengalaman hubungan jarak jauhnya dengan sang pasangan yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.
Namun alih-alih menyajikannya secara literal, Réjizz memilih metafora yang lebih visual: dua orang yang terpisah di tengah lantai dansa, lalu berusaha menemukan jalan untuk bertemu kembali di antara kerumunan.
Bayangkan dua sosok dari sisi berbeda sebuah klub, berjalan saling mencari, terdorong orang-orang, nyaris kehilangan arah, tapi tetap mencoba saling menemukan.
“Itu sebenarnya pesan lagunya,” jelasnya.
Metafora itu membuat ‘Long Disco Relationship’ terasa romantis, tapi juga melankolis. Sebuah lagu tentang usaha mempertahankan koneksi ketika jarak terasa begitu nyata.

“The Era” dan Babak Baru Réjizz

Dua single yang sudah dirilis ternyata hanyalah pembuka.
Réjizz mengonfirmasi bahwa EP barunya bertajuk “The Era” akan dirilis pada 15 Juli 2026, berisi total lima lagu. Dua track sudah lebih dulu hadir, sementara tiga lagu sisanya akan dirilis bersamaan dengan EP.
Menariknya, ia juga memberi sedikit bocoran bahwa akan ada satu lagu penuh berbahasa Thailand, satu-satunya track lokal dalam proyek tersebut.
Di saat banyak artis justru semakin condong ke pasar global dengan bahasa Inggris, keputusan ini terasa seperti cara Réjizz tetap menjaga akar identitasnya.
Marshall Records dan Jalan yang Ingin Dibangun Sendiri
Menjadi artis Asia pertama di Marshall Records tentu terdengar seperti pencapaian besar. Tapi bagi Réjizz, hal paling menarik bukan sekadar label internasionalnya, melainkan bagaimana semuanya terjadi.
Ia pertama kali bertemu orang-orang Marshall saat tampil di sebuah acara privat di Thailand, bertepatan dengan pembangunan live house Marshall di sana.
Di antara penonton malam itu ada seseorang bernama Nick, yang diam-diam memperhatikan penampilannya.
Tak lama setelah kembali ke Inggris, Nick mulai membicarakan Réjizz kepada tim Marshall. Ujungnya? Undangan tampil ke Inggris, percakapan serius, lalu kontrak rekaman.
Ketika mengingat kembali proses itu, Réjizz terdengar masih sedikit tidak percaya.
“Crazy, man,” ujarnya sambil tertawa.
Yang menarik, di saat banyak artis Asia menembus pasar internasional lewat jalur yang lebih familiar seperti kolektif besar atau label tertentu, Réjizz merasa bergabung dengan Marshall adalah caranya membangun jalur sendiri.
Dan timing-nya terasa pas: Marshall juga tengah membuka live house di Thailand, bahkan berencana menjadikannya salah satu bagian penting dari debut ruang tersebut.

Jadi… Siapa Sebenarnya ‘Lisa Lisa’?

Lalu ada satu pertanyaan yang akhirnya harus ditanyakan: apakah lagu ‘Lisa Lisa’ terinspirasi dari Lalisa Manobal?
Jawabannya? Sama sekali tidak.
Réjizz tertawa saat membahasnya.
Menurutnya, semuanya bermula ketika produser memutar sebuah beat bernuansa bossa nova. Tanpa banyak berpikir, frase pertama yang keluar dari mulutnya justru: “Lisa Lisa, where’s your visa visa.”
Aneh? Sedikit.
Masuk akal? Tidak juga.
Tapi justru dari kalimat spontan itulah lagu tersebut berkembang.
Bahkan sampai sekarang, Réjizz mengaku tidak benar-benar tahu kenapa frasa itu muncul. Yang ia tahu, rasanya cocok dengan musiknya dan terkadang, itu saja sudah cukup.
Di dunia Réjizz, banyak hal tampaknya memang terjadi seperti itu: spontan, organik, dan tidak terlalu dipaksakan. Sama seperti bagaimana hip-hop menemukannya sejak remaja, bagaimana saksofon tak sengaja mengubah sebuah lagu, atau bagaimana rasa menjadi orang asing justru melahirkan soundtrack paling personalnya.
Dan mungkin di situlah kekuatan Réjizz sebenarnya: membuat sesuatu yang sangat personal terasa sangat mudah untuk ikut dirasakan.
Simak interview selengkapnya berikut ini:

Tags: ,

Author

nanack

More from Creative Disc