CreativeDisc Exclusive Interview With Jalen Ngonda: Menawarkan Doktrin Cinta Yang Tulus

Oleh: luthfi - 06 Jun 2026

CREATIVEDISC.COM – JAKARTA – Sejak album pertamanya, musisi soul Jalen Ngonda sudah dikenal sebagai sosok yang dengan sepenuh hati memeluk estetika musik masa lampau seolah ditempa di era keemasan Motown dan Stax Records. Banyak yang terhipnotis dengan lantunan old soul yang ia lantunkan, terutama di lagu ‘If You Don’t My Love’dan akhirnya semuanya terbayar ketika ia menjadi pembuka untuk tur Olivia Dean “The Art of Loving Live”.

Setelah membuat orang terpana di album perdananya, ia akhirnya merilis album keduanya berjudul “Doctrine of Love” yang hadir dengan campuran lagu-lagu uptempo dan ballad. Meskipun judulnya terdengar berat, namun Jalen tidak ingin terlalu pretentius atau berat ketika berbicara soal cinta. Ia ingin cinta mengalir apa adanya dan tanpa ada tendensi apapun. Proses rekaman album ini juga menurutnya simpel dan ia mengandalkan proses yang apa adanya ketika membuat album ini.

Ketika ditanya soal makna di balik judul album, Jalen justru meluruskan ekspektasi banyak orang. Baginya, “Doctrine of Love” bukanlah eksplorasi mendalam soal cinta, melainkan hanya sebuah judul yang kebetulan diambil dari salah satu lagu di album tersebut. Ia mengaku judul itu tidak menyimpan pesan tersembunyi apa pun. Jalen menegaskan bahwa sebagai penulis lagu, ia memang banyak menulis tentang situasi romantis seperti kebanyakan lagu pada umumnya, tapi ia tidak sedang berusaha menyampaikan suatu pesan khusus tentang cinta.

Sebagian besar album ini ditulis dan direkam di New York, tempat label dan produser album pertamanya berbasis. Jalen sempat bolak-balik antara London dan New York untuk menjalani sesi rekaman sambil mengisi waktu dengan manggung serta menghabiskan waktu bersama teman dan keluarga. Menurutnya, tidak ada perbedaan berarti antara bekerja di kedua kota tersebut, karena yang menentukan hasil akhir adalah dengan siapa ia menulis, bukan di mana ia berada. Soal eksperimen, ia mengaku tidak melakukan sesuatu yang terlalu drastis di album ini. Hanya ada tambahan beberapa solo gitar dan suara wind chime yang sengaja dimasukkan di dalam mixing, salah satunya pada lagu ‘Doctrine of Love’.

Kecintaan Jalen pada musik soul bermula sejak usia 11 tahun. Sebagai seorang African-American, soul music memang sudah menjadi bagian dari hidupnya, namun titik baliknya datang saat ia menonton penampilan The Temptations di televisi. Sejak saat itu, ia jatuh hati pada era 60-an secara keseluruhan, mulai dari Smokey Robinson, Otis Redding, Frankie Lymon, hingga The Doors. Baginya, daya tarik musik soul terletak pada bagaimana musik itu terdengar, mulai dari suara gitar, tamborin, hingga isian drum.

Selera musik Jalen ternyata jauh lebih luas dari sekadar soul. Ia juga menggemari rock, folk, country, dan jazz. Ketika diminta menyebutkan album favoritnya sepanjang masa, ia menyebut “Pet Sounds” milik The Beach Boys, “Purple Rain” karya Prince, “A Love Supreme” milik John Coltrane, “Disraeli Gears” dari Cream, hingga “Lady Sings the Blues” milik Billie Holiday. Meski begitu, ia menekankan bahwa apa yang ia dengarkan dan apa yang ia ciptakan adalah dua hal yang berbeda. Baginya, soul dan funk hanyalah sebuah label, dan pada akhirnya semua musik saling terhubung karena berakar dari blues.

Musisi asal A.S. yang kini menetap di London ini tidak ingin musiknya terlalu berat agar semuanya bisa memaknai cinta dengan tulus dan apa adanya.

Simak wawancara CreativeDisc bersama Jalen Ngonda dimana kami berbicara tentang album kedua dan album favoritnya lewat video di bawah ini:

Author

luthfi

More from Creative Disc