CreativeDisc Exclusive Interview with The Temper Trap: Bernafas Kembali Setelah Lega dari Banyak Tekanan

Oleh: luthfi - 04 Aug 2026

CREATIVEDISC.COM – JAKARTA – Vokalis The Temper Trap, Dougy Mandagi layak diberikan gelar national treasure atau kekayaan bangsa yang dipunyai oleh Indonesia. Ia adalah orang Indonesia pertama yang tampil di berbagai macam festival bergengsi internasional termasuk Coachella Festival dan Glastonbury Festival bersama rekan band Australia-nya. Semua itu berkat satu lagu, ‘Sweet Disposition’ yang berhasil menjadi indie anthem dan terus bergaung sampai sekarang. Pertama kali populer berkat masuk dalam soundtrack film “500 Days of Summer” yang menjadi landmark di skena indie, ‘Sweet Disposition’ mampu melintasi berbagai macam generasi meski sudah berumur hampir 18 tahun dan kembali viral di tahun 2022. Lagu yang sampai tulisan ini dibuat telah diputar hampir 1 miliar kali di semua layanan streaming benar-benar mengubah jalan hidup Dougy dan teman-temannya.

Kemagisan lagu tersebut justru membuat Dougy merasa tertekan untuk mengulang kembali formula magis ‘Sweet Disposition’ ke album The Temper Trap berikutnya. Perasaan tertekan untuk membuat hits begitu hebat sehingga membuat Dougy merasa jenuh dari segi kreatif dan memutuskan mengistirahatkan The Temper Trap. Butuh 10 tahun agar mereka kembali menelurkan album dan hasilnya adalah “Sungazer” sebuah album comeback yang terdengar sangat heavy, penuh dengan kebisingan electro yang dibawa oleh Dougy via proyek solonya BLOODMOON dan juga lirik yang penuh dengan cerita bapak-bapak di umur 40-an. Semua cerita tentang apa yang terjadi di The Temper Trap selama 10 tahun terakhir ditumpahkan oleh Dougy melalui wawancara yang dilakukan CreativeDisc dimana kami sekaligus bercerita tentang ‘Sweet Disposition’ dan tujuan baru hidupnya setelah menjadi seorang ayah.

Sekarang kalian lagi di mana?

Lagi libur di Kanada, ada selang hari libur di tengah tour Amerika Utara bareng Muse.

Wow, bagaimana tur bareng Muse sejauh ini?

Sukses dan menyenangkan. Kami udah lumayan lama gak tur sepadat dan sepanjang ini. Turnya berlangsung selama dua bulan dan kami senang banget bisa tur bareng Muse. Tur bareng mereka juga dreams come true karena kami pas muda dengerin Muse dan sering nonton mereka di festival jadi seneng banget bisa diundang dan diminta untuk keliling bareng mereka.

Mari kita bahas tentang hiatus The Temper Trap selama 10 tahun. Aku penasaran, kenapa kalian memutuskan untuk hiatus selama 10 tahun?

Ketika menyelesaikan tur untuk album ketiga, aku udah mulai merasa sedikit jenuh. Bukan jenuh dengan tur-nya tapi udah jenuh dari segi kreatif. Aku merasa sudah gak bisa menemukan inspirasi baru. Semua ide yang aku bikin terasa hambar dan gak ada yang buat aku excited. Setelah dipikirkan secara matang aku memutuskan untuk The Temper Trap hiatus dulu supaya bisa mencari inspirasi baru.

Apa yang akhirnya membuat kalian bangun kembali dari tidur panjang?

Awal untuk comeback sebenarnya bukan dari kita yang menginisiasi, tapi ada satu cewek bawain ‘Sweet Disposition’. Dia bawainnya gak pakai vokal dan cuma gitar aja. (Catatan Penulis: Video yang dimaksud Dougy adalah cover ‘Sweet Disposition’ milik Feeling Blew yang diunggah di TikTok pada 5 Juli 2022). Ternyata versinya dia viral dimana-mana dan banyak orang pakai versinya untuk video mereka. Berkat itu juga jumlah pendengar bulanan kami di Spotify naik drastis.

@feelingblew

Reminds me of fireworks and crossing bridges #sweetdisposition #thetempertrap #guitar

♬ Sweet Disposition FeelingBlew – Feelingblew

Beberapa minggu setelahnya, timnya mendiang Mac Miller akhirnya ngeluarin mixtape “I Love Life, Thank You” ke layanan streaming dan lagu paling hits di mixtape itu pakai lagu kita ‘Love Lost’ sebagai sample.

Gara-gara cewek itu dan Mac Miller, pendengar bulanan Spotify kita naik dari 3 juta ke 7 juta dalam sebulan. Ketika pendengar bulanan kami melonjak, aku langsung dapat e-mail dari manajer label kami dan dia bilang, “Ini adalah saat yang tepat kalau The Temper Trap mau bikin album lagi”. Jadi kami akhirnya coba bikin album baru lagi.

“Conditions” memuat banyak hits seperti ‘Love Lost’, ‘Fader’, dan ‘Sweet Dispositon’. Namun, di liner notes Apple Music untuk album comeback kalian “Sungazer”, kalian berkata bahwa ada tekanan yang sangat besar untuk mengulang hits yang ada di album perdana sehingga kalian memutuskan tidak menghasilkan materi baru selama 10 tahun untuk melepas stress karena harus menghasilkan hits. Apakah tekanannya segila itu?

Pastinya. Album kedua dan ketiga itu sebenarnya adalah album dari sebuah band yang mencoba untuk mengejar hits seperti di album pertama dan itu terdengar dari segi sound-nya. Kami waktu itu gak kepikiran akan mengambil waktu istirahat selama ini. Aku cuma ingin istirahat aja dulu. Kalau gak ada pandemi juga, kami bisa rilis album baru lebih cepat tapi karena pandemi kami jadi kesusahan mau buat album baru.

Banyak hal yang berubah dalam satu dekade terakhir. Dulu kita menemukan musik baru lewat indie music blog, sementara sekarang lewat layanan streaming dan TikTok. Apakah kalian kaget dengan perubahan yang terjadi?

Kalau soal layanan streaming gak sih, karena Spotify udah ada sebelum kami hiatus, yang bikin kaget itu TikTok karena kami gak ada akun TikTok sebelumnya. Mau gak mau kami harus belajar main TikTok meski udah bapak-bapak kaya gini.

Aku kaget ketika mendengar “Sungazer” karena kalian bermain lebih electro daripada karya sebelumnya. Selain sound-nya beda dari yang dulu, ada satu hal yang menarik buatku terkait album ini. Dalam liner notes Apple Music untuk “Sungazer”, kalian berkata bahwa album ini seolah mengembalikan kalian ketika kalian masih awal nge-band.

Untuk sound kami memang berevolusi dari album sebelumnya, tapi soal spirit-nya kami menjadi diri kami sewaktu masih muda dimana tidak ada ekspektasi dari label, manajer dan penggemar. Kami bebas menuangkan semua kreativitas kami tanpa ada halangan dan kami bisa benar-benar mengikuti naluri kreatif kami seutuhnya di album ini.

Lagu apa yang akhirnya mengawali proyek album “Sungazer” dan comeback kalian?

Lagu ‘Kuru’ adalah lagu pertama yang kami buat untuk album ini, dari situ kami langsung merasa bahwa kami masih ada chemistry dan masih senang untuk bikin musik baru. Kalau lagu pertama yang membuat label dan tim kami sumringah adalah ‘Into The Wild’.

Album ini jauh lebih gelap dari album kalian sebelumnya terutama dari segi lirik. Dari segi musik hal itu juga terdengar dari banyaknya reverb dan electro yang menjadi penandanya.

Kalau jarak dari album kami sebelumnya ke “Sungazer” memang 10 tahun, tapi proses pengerjaan “Sungazer” memakan waktu 3 tahun. Selama tujuh tahun itu pasti kita semua ada kegiatan masing-masing dan kita mendapat inspirasi dan mendapat berbagai macam pengaruh musik yang berbeda-beda. Pas kita balik lagi untuk membuat album ini, kami tuang semua pengaruh musik kami sewaktu kami hiatus. Semua terjadi secara alamiah dan gak ada rencana untuk membuat album ini jadi electro banget atau gimana-gimana.

‘Lucky Dimes’ yang menjadi lagu pembuka di album ini merupakan lagu yang sangat unik. Ada nuansa Madchester dan baggy.

Drum di lagu itu sebenarnya sample drum-nya Toby dan diutak-atik oleh produser lagu ini Styalz Fuego. Waktu kita dengerin beat-nya kami langsung bilang ‘Wah ini asyik banget’. Kami kerjain lagunya dalam waktu dua hari, sehari untuk musik dan sisanya buat liriknya.

‘Giving Up Air’ merupakan self-cover dari lagu ‘Disarm’ yang diambil dari proyek solomu BLOODMOON. Dari lagunya yang penuh dengan musik electro yang berat terus dikonversi ke lagu alternative rock.

Kami senang ngulik lagu orang kalau kami lagi bosan di studio. Kebetulan waktu itu kami coba mainin ‘Disarm’, iseng-iseng aja pas latihan. Pas kami mainin ternyata dapet feel-nya. Akhirnya kita iseng bawain lagu itu pas manggung, setiap kali selesai manggung banyak yang nanya, “Itu lagu barunya kapan mau dirilis?”. Karena reaksinya cukup positif akhirnya kami ngeluarin ‘Disarm’ versi The Temper Trap.

Dari segi lirik, album ini banyak bercerita tentang menjadi seorang bapak-bapak dan bertambah tua. Banyak tema tentang kehilangan, kepahitan tapi ada juga tentang optimisme seperti seseorang yang bertambah tua dengan segala dinamika hidupnya.

Sebenarnya dari awal membuat album ini aku gak ada kepikiran konsep yang jelas dan album ini temanya mau seperti apa. Setiap kali aku membuat lagu atau menulis lirik, apa yang ada di kepalaku hari itu langsung aku tulis. Mungkin secara gak sadar aku ikut menuangkan pengalaman hidupku selama hiatus. Banyak yang terjadi ketika aku hiatus mulai dari pandemi, kehilangan banyak orang yang dekat denganku, semua itu menjadi bahan untuk lirikku.

Termasuk menjadi seorang ayah?

Itu juga termasuk.

Apa hal terbesar yang kamu dapatkan setelah menjadi seorang ayah?

Aku merasa mendapatkan tujuan hidup yang baru dan itu juga mempengaruhi profesiku sebagai musisi ternyata. Sebelum punya anak, tujuanku bermusik supaya bisa main di festival, menjual album sebanyak mungkin, mendapatkan penghargaan. Tapi setelah punya anak, aku ingin melakukan sesuatu yang nanti kalau anakku sudah besar dia bisa bangga sama ayahnya dan mungkin menjadi inspirasi buat dia.

Bukan berarti harus menjadi seorang musisi, tapi dia bisa lihat bahwa aku berkarya, berusaha, meski gak selalu sukses tapi terus berusaha dan merasakan jatuh bangunnya. Harapannya, itu bisa menjadi inspirasi buat dia dalam menjalani kehidupan.

Salah satu “anak” yang kamu kembangkan ‘Sweet Disposition’ udah berusia 18 tahun. Ibarat orang, lagu ini udah memasuki masa remaja dan sudah memasuki masa mau masuk kuliah. Bagaimana kamu melihat ‘Sweet Disposition’ dalam perspektif yang sekarang gitu?

Aku berterima kasih orang masih senang dengan lagu itu dan masih melekat di dalam kehidupan orang. Aku senang juga bahwa kayaknya tiap bulan ada versi baru lagu ini yang dibuat oleh DJ di seluruh dunia. Mereka berjasa untuk memastikan bahwa lagu itu terus hidup di dunia.

Terus terang, kalau kita lagi latihan di studio sebelum tur bawaannya malas kalau harus latihan lagu ‘Sweet Disposition’ lagi. Anak-anak juga bilangnya “Ini bisa diskip aja gak sih, bosan nih bawain lagu ini terus” (tertawa). Ketika kami mainin lagu itu di atas panggung, rasa bosan itu langsung sirna karena melihat senangnya wajah penonton ketika lagu itu dimainkan.

Apa yang kalian lakukan setelah wawancara ini selesai?

Sebenarnya aku tadi lagi ngerayain ulang tahunnya Johnny yang main bas terus aku buru-buru ke hotel buat wawancara karena ada wi-fi di hotel. Paling selesai wawancara aku balik lagi ke pestanya Johnny di arena bowling dekat dari hotel.

Siapa yang paling jago main bowling diantara kalian?

Toby dan Johnny.

Simak wawancaranya lewat video di bawah ini:

Album terbaru The Temper Trap “Sungazer” telah dirilis pada 10 Juli 2026 via Mushroom Records.

Author

luthfi

More from Creative Disc