Trending News

Blog Post

Time Tunnel: The Stone Roses
Time Tunnel

Time Tunnel: The Stone Roses 

The Stone Roses? Mungkin ketika mendengar band yang satu ini sebagian dari anda akan menciutkan alis sebagai pertanda ketidakpahaman. Saya mengerti, mungkin bagi anda yang tumbuh berkembang di era 2000-an mungkin kurang familiar dengan band asal Manchester ini. Namun bagi beberapa kalangan yang terinspirasi dengan kehidupan musik alternatif ala-ala Inggris, band inilah panutan sejati. Tanpa kehadiran mereka yang mencuat, mungkin pergerakan britpop pertengahan tahun 1990an tak mungkin ada. Bahkan genre shoegaze dan post punk tak akan muncul apabila mereka tidak membuat akarnya. Siapakah mereka sebenarnya?

Semuanya berawal pada tahun 1980 di Altrincham Grammar School for Boys dimana “the ultimate duo” yang membangun band ini bertemu, sang vokalis (yang dulunya adalah bassist) Ian Brown dan John Squire, sang gitaris. Mereka berambisi untuk memasuki industri musik Inggris dengan membuat berbagai demo tape bersama Andy Couzens dan Simon Wolstencroft. Namun ambisi itu seolah-olah hilang seiring berjalannya waktu. Pada tahun 1983 John Squire bersama Ian Brown (yang akhirnya setuju bergabung kembali) membentuk band baru bernuansa tahun 1960-an dengan nama “The Waterfront” bersama seorang bassist bernama Gary Mounfield (atau lebih dikenal dengan nama Mani). Lagi-lagi entah kenapa ambisi bermusik tersebut hilang hingga pada akhirnya  Andy Couzens berencana membuat band baru kembali yang menjadi akar dari The Stone Roses.

Andy Couzens, John Squire, Ian Brown, Simon Wolstencroft, serta Pete Garner membangun pilar bagi The Stone Roses, namun sayangnya Simon Wolstencroft harus hengakang karena  sudah melaksanakan audisi bagi band lain. Nama The Stone Roses dipilih karena mencerminkan hal yang sangat paradoks. Ya, setidaknya itulah yang dipikirkan oleh John Squire. Hingga sampailah pada tahun 1985 dimana Howard Jones yang merupakan mantan manager dari The Hacienda memutuskan untuk bekerjasama dengan mereka yang berimbas dilaksanakannya tur di Swedia serta kontrak rekaman dengan Thin Line Production. Maret 1985 mereka merilis “I Wanna Be Adored” disertai perilisan EP “So Young/Tell Me”. Setelah itu, Madchester scene akan mencapai titik kulminasinya.

Walaupun sudah ada sejak awal 1980an, namun Madchester scene dianggap matang pada akhir dekade tersebut. Dengan dandanan baggy jeans, coat bekas, tie dye hippie T-Shirt, dilengkapi attitude acuh tak acuh merupakan sebuah trademark pada masa tersebut. Ditambah dengan popularitas band Madchester sejenis seperti Happy Mondays dan Inspiral Carpet menambah marak kondisi musik pada masa itu. Hal ini juga menggeser kiblat scene music Inggris dari London menjadi Manchester, dengan The Stone Roses sebagai sajian utamanya. Setelah sebelumnya merilis single “Elephant Stone” dan “Made of Stone”, akhirnya mereka merilis album perdana mereka berjudulkan identitas mereka sendiri, The Stone Roses pada tahun 1989.

Kesuksesan mereka berlanjut pada tahun 1990 dimana mereka menggelar salah satu “standing concert” terbesar sepanjang dekade tersebut di Spike Island, Merseyside. Walaupun terkendala masalah teknis, namun konser tersebut berhasil menarik massa sebanyak 30.000 orang dan merupakan salah satu momen bersejarah bagi musik Inggris. Dalam film dokumenter “Live Forever: The Rise and Fall of Britpop” yang dirilis pada tahun 2003 menyatakan bahwa dengan adanya konser tersebut menginspirasi berbagai musisi dan band seperti Noel Gallagher, Damon Albarn, dan Massive Attack. 4 NME polling Awards serta  single “One Love” yang berhasil menduduki posisi 4 pada UK Official Charts semakin melengkapi kesuksesan debut The Stone Roses walaupun sempat ada masalah hukum dengan label lama mereka, Silvertone.

There’s a high, there’s a low. Serangan musik grunge yang dimotori band asal Amerika Serikat, Nirvana mulai meng-invasi daratan Inggris Raya sehingga mengurangi minat penikmat musik Inggris untuk tetap setia dengan Madchester Scene. Dan kondisi tersebut berdampak pula pada The Stone Roses, khususnya untuk penciptaan album kedua. Proses penciptaan album yang memakan hampir 2 tahun tersebut disinyalir memiliki banyak kendala. Hambatan bukan hanya datang dari ideologi musik mereka yang sempat berubah haluan, namun juga berbagai masalah pribadi yang menghampiri beberapa personil. Akhirnya pada Desember 1994 dirilislah album kedua yang berjudul “Second Coming”.  Kehadiran album tersebut pula diwarnai kepergian sang drummer, Alan Wren (Reni) akibat adanya ketidakcocokan dengan Ian Brown.

The Stone Roses mulai mengalami kemunduran cukup jauh setelah John Squire juga menyatakan untuk keluar dari formasi. Dengan kewajiban untuk menyelesaikan beberapa tur yang tersisa, mereka terpaksa menggunakan beberapa pemain pengganti. Namun dengan adanya hal tersebut tidak mengubah keadaan menjadi lebih baik karena vokal Ian Brown juga dianggap semakin tidak maksimal. Akhirnya pada tahun 1996, Ian Brown dan Mani mengumumkan bubarnya The Stone Roses.

Namun sesuatu yang menggembirakan terjadi 15 tahun kemudian. Setelah melalui berbagai pergolakan emosi yang positif, pada tahun 2011 dunia musik dikejutkan oleh reuni band satu ini. Seluruh penikmat musik bersorak, dan sorakan tersebut semakin gaduh pada Juni 2012, dimana momen mengharukan terjadi di Heaton Park. Tampil di hadapan 70.000 orang, membawakan 19 lagu, serta diakhiri dengan Ian Brown, John Squire, Mani, dan Reni saling berpelukan satu sama lain. Momen di Heaton Park tersebut menduduki peringkat 1 sebagai “Moment That Defined 2012” versi NME. Mereka juga akan mengelilingi dunia untuk tur reuni-nya, dan bersyukurlah, karena mereka juga akan singgah di Jakarta pada tanggal 23 Februari mendatang!

Berbagai pengalaman manis dan pahit di dunia musik sudah mereka rasakan. Semua pengalaman tersebut mereka jalani sebagai konsekuensi dari jalan yang mereka pilih. Dan pada saat yang bersamaan mereka juga membangun dan membesarkan sebuah movement di industri musik pada masanya. Ya, movement. Sesuatu yang hilang pada industri musik masa kini. Khususnya tanpa adanya movement yang dibantu oleh The Stone Roses, mungkin tak ada blueprint untuk Cool Britannia agenda, tak akan ada Britpop Wave, bahkan mungkin tak ada sekuel bagi british invasion setelah era The Beatles. Salut untuk kontribusi The Stone Roses. Saya juga menunggu adanya sebuah movement besar pada kondisi penikmat serta pelaku musik di tanah air. Mungkin kita semua akan terinspirasi setelah melihat mereka beraksi di Senayan pada tanggal 23 Februari mendatang. Are you ready for The Madchester’s Legend?!

(Galih Gumelar / CreativeDisc Contributor)

Sources:

  • The Stone Roses Biography. Author: Mick Middles (1999)
  • Movie “Live Forever: The Rise and Fall of Britpop” director: John Dower. Passion Pictures (2003)
  • NME Magazine December 8th 2012 edition, IPC Inspire Publishing, UK (2012)
  • The Stone Roses page on nme.com
  • The Stone Roses page on wikipedia

Related posts

Leave a Reply