Trending News

Blog Post

Album of the Day: Kodaline – In A Perfect World
Album of The Day

Album of the Day: Kodaline – In A Perfect World 

Seorang pengamat musik bernama Mark Fisher pernah merengek bahwa pergerakan skena musik mainstream terbilang anachromatic dan inertia di abad ke-21. Menjemukan. Tanpa ada karya-karya yang signifikan. Serta menganggap skena musik kini hanya merepetisi apa-apa saja yang sudah ada sebelumnya. Dan mungkin pengamat budaya tersebut akan semakin menggerutu setelah mendengar album milik Kodaline berjudul “In A Perfect World” yang secara teknis terdengar seperti kloningan Coldplay, Snowpatrol, Mumford and Sons, Keane, dan band-band pop Inggris lainnya. Namun perduli setan dengan yang namanya kritikus musik. Karena ketika bicara seni, lini terdepan haruslah substansi.

Somehow, In A Perfect World seperti mengajarkan kita bahwa aspek terpenting dalam menikmati (dan juga menilai) album bukanlah soal supresi semata. Dan juga bukanlah soal apakah album tersebut mengandung hook-hook catchy yang bisa membuat orang jatuh cinta terhadap karya tersebut atau tidak. Musik adalah sesuatu yang subjektif dan personal, sedangkan membicarakan masalah teknis itu lain soal. “In A Perfect World” jelas menciptakan segregasi penilaian masyarakat terhadap kumpulan karya-karya ini. Ada yang suka sekali karena substansi karya-karyanya yang cukup emosional, namun ada juga yang justru sangat membencinya hanya karena masalah “mirip-banget-sama-yang-udah-udah”.

Saya coba menempatkan diri di antara kedua penilaian sudut pandang tersebut. Setelah menyimak lagu “High Hopes”, sebuah tanda tanya muncul di pikiran saya. Bagaimana bisa sebuah lagu pop yang hanya dibentuk menggunakan chord-chord gampang itu dapat terdengar begini emosional? Ya, tampaknya Kodaline pintar sekali mengolah dan mengombinasikan chord-chord tersebut menjadi sesuatu melankolis tanpa terdengar kacangan. Apalagi ditambah dengan aksi sang vokalis, Steve Garrigan yang menyanyikan lirik-lirik depresi tersebut dengan sarat penjiwaan. Benar-benar tipikal vokalis band asal Irlandia. Formula sama sepertinya juga mereka terapkan di lagu “All I want” meskipun lirik yang terkandung di dalamnya terkesan agak hiperbolis.

Nomor yang lebih depresi mungkin ditunjukkan pada track “All Comes Down” dimana track ini terdengar seperti track yang diproduksi oleh U2 pada tahun 1980an. Sangat anthemic namun tak serta melupakan pesan yang terkandung di dalamnya. Ada lagi track “After the Fall” yang makin membuat Kodaline seperti band tribute karena mirip sekali dengan musik yang dibuat Keane pada album “Strangeland”. Dan sehabis itu, muncullah track “After the Fall” yang sangat mirip dengan karya milik Coldplay. Penggunaan hook-hook dan juga piano driven-nya pasti akan membuat anda mengira bahwa Coldplay mungkin telah berganti vokalis. Bisa jadi disinilah letak kelemahan album ini, masih belum memiliki identitas yang mumpuni.

Tapi toh di album ini pun juga terdapat beberapa track yang bisa Kodaline gunakan untuk menata batu pijakan bagi karya-karya mereka selanjutnya. Track “Love Like This” contohnya. Pemilihan nada dasar Steve Garrigan ke arah tenor yang diiringi riangnya iringan harmonika dan banjo serta menceritakan keputusasaan bercinta sepertinya merupakan sebuah kontradiksi yang menarik. Selain itu terdapat pula track “Pray” yang terkesan menghantui. Tak ketinggalan pula dentuman bass drum yang menghentak serta vokal yang merengek-rengek di lagu tersebut yang mampu membuat anda meringis di pojokan.

Saya justru melihat hal yang cukup positif walaupun para kritikus-kritikus musik di luar sana tak suka dengan album ini. Setidaknya tiap track yang tersaji di “In A Perfect World” memiliki nyawanya masing-masing dan tidak ada yang terkesan filler semata, yang juga membuktikan bahwa Kodaline mampu bermain-main secara multidisiplin. Melalui album ini pun, secara implisit, mereka seperti mengutarakan kejujuran kalau mereka masih bingung mengenai kemana arah musik mereka akan menuju. Maka tak heran apabila ujung-ujungnya mereka dikatakan sebagai pengekor musisi lainnya. Tetapi, setiap musisi pasti memiliki proses kreatifnya masing-masing, begitu juga dengan Kodaline. Dan mungkin lebih baik menjadi sebuah pengekor dulu namun mampu membuat karya-karya tangguh daripada menjadi sesuatu orisinil yang bersifat tanggung.

Official website

Rate the album:
[ratings]

Buy album on iTunes

(Galih Gumelar / CreativeDisc Contributor)

TRACKLIST
1. “One Day” 4:15
2. “All I Want” 5:05
3. “Love Like This” 3:36
4. “High Hopes” 3:50
5. “Brand New Day” 3:25
6. “After The Fall” 3:35
7. “Big Bad World” 4:21
8. “All Comes Down” 4:55
9. “Talk” 4:28
10. “Pray” 3:33
11. “Way Back When” 3:26

Related posts

Leave a Reply