Medyareyon Takipci Hizmetleri

windows 10 pro kaufen office 2019 pro kaufen office 365 pro kaufen windows 10 home kaufen windows 10 enterprise kaufen office 2019 home and business kaufen office 2016 pro kaufen windows 10 education kaufen visio 2019 kaufen microsoft project 2019 kaufen microsoft project 2016 kaufen visio professional 2016 kaufen windows server 2012 kaufen windows server 2016 kaufen windows server 2019 kaufen Betriebssysteme kaufen office software kaufen windows server kaufen https://softhier.com/ instagram takipçi satın al instagram beğeni satın al instagram görüntüleme satın al instagram otomatik beğeni satın al facebook beğeni satın al facebook sayfa beğenisi satın al facebook takipçi satın al twitter takipçi satın al twitter beğeni satın al twitter retweet satın al youtube izlenme satın al youtube abone satın al https://takipci33.com/

Şişli Esc Kızlar

kadıköy escort ümraniye escort

Trending News

Blog Post

Album of the Month: Muse – Drones
Album of The Day

Album of the Month: Muse – Drones 

Released by: Warner Music Indonesia

Setelah 16 tahun dari perilisan album debut mereka, “Showbiz” (1999), Muse masih bertahan dan bahkan makin perkasa. Rangkaian album yang mereka rilis (dengan beberapa album terakhir secara konsisten dirilis per-3 tahun) menunjukkan pergerakan bermusik mereka yang tetap mengedepankan semangat progressive rock dengan balutan brit-rock, glam, metal atau musik klasik. Kabarnya dalam “Drones“, yang merupakan album ke-7 mereka, Matt Bellamy, Christopher Wolstenholme dan Dominic Howard akan kembali ke akar musik mereka.

Tapi akar musik mereka begitu beragam, sehingga mungkin pertanyaan tersebut menjadi sumir. Mungkin maksudnya kembali ke sound yang mereka usung di album-album awal, mengingat “The Resistance” (2009) dan “The 2nd Law (2012)”, album terakhir mereka, terdengar lebih ngepop, meski memasukkan sensasi eksperimental dari segi sound, serta tentunya tak terlupa dengan akar rock Muse itu sendiri.

Mendengarkan ‘Dead Inside’, track pembuka album, tentu saja rock alternative gloomy ala Muse masih kental mewarnai, hanya saja penggunaan synth memang cenderung membuat arsiran pop menjadi lebih tebal. Track ini masih belum indikasi akan kembalinya Muse ke akar.

Tapi jangan takut, karena “Drones” menyimpan itu di track berikutnya. Dengan ‘Psycho’ dipastikan penggemar Muse akan terpuaskan karena menampilkan kekuatan rock moody dan glam ala Muse dengan cukup prima. Dan meski ia adalah ebuah lagu rock gahar, namun masih sangat mudah dicerna dan memiliki melodi dan struktur yang cukup sederhana.

Rock-rock organis dengan cabikan gitar elektrik dan ketukan drum prima menjadi andalan dalam track seperti ‘Reapers’, ‘The Handlers’ atau track yang Queen-esque, ‘Defector’, menjadikan Muse sebagai pengusung metal yang meriah dan riuh, siap untuk memanaskan arena.

Muse juga tidak senantiasa gahar, karena mereka juga mengusung semangat brit-rock yang manis dalam track ‘Mercy’ dan ‘Revolt’, yang secara efektif akan mengembalikan kenangan akan Muse di awal karirnya, jika itu yang memang kita inginkan.

Secara tematis “Drones” berbicara tentang deep ecology, the empathy gap, dan World War III, seperti yang dikatakan oleh Bellamy dalam sebuah wawancara. Terdengar agak distopian memang, sehingga nuansa fiksi ilmiah terdengar mengurai kuat dalam beberapa lagu.

Contoh paling kuat akan aspek tematis ini mungkin terdapat dalam track paling ambisius di album ini, ‘The Globalist’. Berdurasi sekitar 10 menit, lagu dibuka dengan instumental atmosferik yang terdengar seperti lagu tema film western. Kemudian masuklah vokal Bellamy, yang bernyanyi dengan berlarat, seolah merasakan sensasi sedih yang akut, sampai kemudian enerji mengeskalasi dengan riff gitar yang merobek-robek sedang choir di latar memberi kesan menghantui. Dramatis. Sensasional. Sesuatu yang memang bisa kita harapkan dari Muse.

Kelebihan Muse lain adalah bisa menghantarkan subtilitas dalam lagu-lagunya dan “Drones” tak terlupa untuk menyertakan lagu sejenis. Hadirlah track yang menghanyutkan seperti ‘Drones’ dengan nuansa ethereal yang kaya atau kesedihan yang diusung dalam ‘Aftermath’.

Mendengarkan “Drones” kita menyadari jika Muse memang ingin back-to-basic. Sound-sound eksperimental dipinggirkan, dan mereka memilih untuk mendekati lagu-lagu yang mengedepankan melodi rock yang lebih tradisional, sebagaimana yang dulu mereka usung di awal karir.

Rasanya mereka tepat untuk menggandeng Robert John “Mutt” Lange sebagai mitra produser untuk “Drones”. Mutt sudah berpengalaman mengerjakan banyak album dari musisi rock kenamaan, seperti AC/DC atau Def Leppard misalnya, sehingga ia mengerti benar tone dan arah yang diinginkan oleh Muse dalam albumnya. Kerja kolektif merekalah yang membuat “Drones” bersinar begitu terang dan sulit untuk dihindari pesonanya.

“Drones” adalah bukti tegas bagaimana corak lama bukan berarti usang. Yang paling penting bagaimana mengolah atau memoles corak tersebut dengan ciri khas dan karakter yang membawakannya. Muse membuktikan jika mereka memang masih perkasa dan terkuat saat ini. “Drones” adalah pembuktiannnya. Sebuah album yang terkonsep dengan matang, dengan kualitas produksi papan atas, serta lagu-lagu yang memikat.

Official Website

TRACKLIST
1. “Dead Inside” 4:24
2. “[Drill Sergeant]” 0:21
3. “Psycho” 5:28
4. “Mercy” 3:52
5. “Reapers” 5:59
6. “The Handler” 4:33
7. “[JFK]” 0:54
8. “Defector” 4:33
9. “Revolt” 4:05
10. “Aftermath” 5:48
11. “The Globalist” 10:07
12. “Drones” 2:51

Haris
CreativeDisc Contributor
@oldeuboi

Related posts

Leave a Reply

izmir eskortlar bursa eskort bayanlar ankara escort bayanlar Antalya escort bayanlar Eskişehir escort bayan Konya bayan escort escort Kayseri İzmit escort kızlar Alanya escort Kocaeli escort Kuşadası escort Gaziantep escort Malatya escort Diyarbakır escort Denizli escort Samsun escort Adana escort Bodrum escort Dubai escort porno izle seks hikayeleri sex hikayeleri paply.org