Quantcast

CreativeDisc Exclusive Interview With Robinson: Travelling Jadi Inspirasi Dalam Menulis Lagu

By - 4 months ago in Artist Interviews

Anna Robinson, yang lebih dikenal dengan nama panggung Robinson, merupakan penyanyi-penulis lagu kelahiran New Zealand yang muncul di tahun 2017 dengan lagu ‘Don’t Forget About Me’. Dan pada bulan Februari 2018, ia menandatangani kontrak dengan Sony Music Australia dan Ministry of Sound. Dari situ, lahirlah beberapa hit seperti ‘Nothing to Regret’, ‘Medicine’, serta ‘Karma’ yang baru dirilisnya awal tahun ini.

Creative Disc mendapatkan kesempatan oleh Sony Music Entertainment Indonesia untuk melakukan eksklusif interview bersama Robinson saat dirinya tengah berada di Bali untuk tampil di New Year’s Music Festival yang bertempat di Finns Beach Club, Bali pada akhir Desember 2018 lalu.

Creativedisc (C): Happy New Year Robinson! Senang ya, tahun baru di Bali. Apa hal yang special di malam tahun baru kemarin?
Robinson (R): Aku di merayakan tahun baru di Hotel aja. Cuacanya agak dingin, dan aku sedikit nggak fit. Jadi aku di kamar hotel, melihat kembang api. Ternyata banyak banget kembang api di Bali!

C: Wah, excited dong?
R: Excited banget, karena baru kemarin kita sampai di Bali. Saya juga kaget banget sekarang sudah bukan tahun 2018, tapi 2019. Jadi, Amazing, time flies so fast!

C: Boleh cerita awal mula Robinson berkarir di dunia musik. Apakah sudah pengen jadi musisi sejak kecil?
R: Dari kecil aku ingin jadi musisi. Bahkan mamaku pengen anaknya (saya) menjadi penyanyi opera. Jadi, nenekku dulu sering memutarkan lagu-lagu dan bermain piano bersama. Itu mungkin titik awal aku suka sama dunia nyanyi, dan music benar-benar jadi bagian besar dalam keluargaku.

C: Kamu tadi bilang mama sering memutarkan lagu Opera, apa kamu ngerasa itu hal-hal seperti itu yang membentuk Robinson jadi sekarang?
R: Sepertinya begitu. Masa kecilku itu beragam, sudah didengarkan musik klasik sampai ABBA, terus ketika aku remaja mulai tau Britney Spears dan Christina Aguilera. Bisa dibilang kreatifitas aku dalam bermusik juga gara-gara mereka yang sering kudengarkan waktu itu.

C: Mengapa memutuskan untuk memakai nama panggung Robinson?
R: Nama panggung itu ‘sesuatu’ ya. Aku sempat berpikir untuk pakai nama Anna, tapi aku juga pengen cari nama yang beda dan unik, bahkan sempet kepikiran untuk pakai nama The Whatevers. Sampai suatu waktu, produserku sempat datang dan bertanya “gimana kalau kamu pakai nama Robinson sebagai stage name”. Awalnya aku agak aneh karena Robinson itu last-name-ku. Tapi aku mikir lagi, itu sangat signifikan karena itu adalah nama keluarga. Seenggaknya aku bisa memberikan arti yang baru, dan kebetulan keluarga juga yang jadi bagian yang besar aku bermusik. Jadi kenapa enggak pakai nama Robinson toh juga akar keluarga.

C: Boleh diceritakan gimana proses penulisan dalam membuat lagu-lagumu?
R: Ehm.. semua berubah-ubah, setiap waktu, ya karena kreativitas itu spontan tergantung dengan apa yang terjadi dan menginspirasi di hidupmu. Biasanya aku langsung duduk di piano, dan menekan beberapa tuts piano, dan mengalir aja semuanya.

C: Oh ya? Jadi duduk, main piano, terus liriknya keluar?
R: Iya, agak aneh memang, tapi itu yang terjadi. Aku duduk di piano, lalu melodi, lirik mengalir begitu saja. Terus bermain, dan begitulah..

C: Saya suka banget dengan lagumu “Nothing to Regret”, yang sentimental banget. Kenapa kamu ingin sekali memberi tahu orang-orang untuk ‘live their life with no regret”?
R: Ya, Life’s too short! Jadi jangan habiskan waktu. Banyak orang termasuk diriku sempet berpikir “oh no, I wouldnt do that”, atau “Oh aku bisa lakukan ini nanti”. Nah, kita harus “live in the moment”. Penting, untuk ambil opportunity karena kita nggak tau apa yang terjadi nanti. Jadi penting untuk “live your life to the fullest”.

C: Kalau lagu “Medicine” gimana tuh inspirasinya?
R: Medicine aku tulis ketika aku perjalanan ke London. Aku terpesona dengan phrase “having a taste medicine”. Itu jadi respon jujur kita. Seringnya orang cuma ‘ngomong doang’, tapi lupa dengan action / bertindak. Ingat hubungan kita sama orang, pengalaman, sama orang, karena ‘What Goes around comes around”.

C: Kamu kan berasal dari New Zealand, nah apakah ada pengaruh dari tempat tinggalmu yang bikin Robinson seperti sekarang?
R: Ada. Dulu waktu kecil aku memang sering bolak-balik New Zealand – Australia. Masa kecilku banyak banget diluar, outdoor situation. Jadi mungkin karena itu aku jadi terbiasa dengan travelling, dan sejujurnya inspirasiku membuat lagu justru didapat ketika sedang travelling.

C: Top 5 Song in your playlist?
R: Wow… sekarang? Mungkin Dua Lipa – New Rules, Jorja Smith, The 1975, I Love Cigarettes, Tame Impala.

C: Oh, nggak ada lagu kamu di sana?
R: Err… Saya tidak mendengarkan lagu saya sendiri.. so yeah.. hahaha.

C: Apa rencana Robinson di tahun 2019?
R: Uhmm… kalau membandingkan sama diriku di tahun 2018, aku ingin lebih banyak mencoba hal-hal yang baru. Pengen juga main di banyak live show, yah.. no limit. Dan pasti merilis lebih banyak musik. Aku bener-bener nggak sabar!

Life-enjoyer person. Extraordinary.

Comments

Leave a Reply

Related Articles

Creative Disc TV | May 14, 2019 By

CreativeDisc Bahas Album PINK – Hurts 2B Human

Artist Interviews | May 11, 2019 By

CreativeDisc Interview with Ocean Alley: Sajian Reggae Fusion Australia ala Ocean Alley

Album of The Day | April 26, 2019 By

Album of the Day: Pink – Hurts 2B Human