CREATIVEDISC.COM – JAKARTA – Penulis dan solois dari Jepang Seiya Matsumuro selalu menulis kisah cinta dan hidup di tengah bisingnya kota di album perdananya “City Lights” dan “Aidarake wa Machigainaikarane” di tahun 2018 dan 2022. Namun, seiring berjalannya waktu ia mulai menggeser tema dan beralih untuk membuat lagu tentang kehidupan dan perasaan gembira di album keempatnya berjudul “Singin’ in the Yellow”.
Hal ini bukan tanpa sebab, solois yang sudah makan asam garam di dunia musik indie dari usia remaja ini ingin membuat dunia sedikit lebih gembira di tengah berbagai macam polemik, perang, dan kesulitan yang sedang melanda di seluruh dunia.
Ketika ditemui di Jakarta setelah ia tampil di acara Jak Japan Matsuri ia terlihat benar-benar ingin membawa aura positif dan kegembiraan. Antusiasme dari Seiya sendiri membuat obrolan kami terasa hangat, apalagi ia datang layaknya bertemu teman baru.
Bagaimana rasanya tampil di Jakarta untuk pertama kali?
Aku sangat senang apalagi orang-orangnya baik dan mereka mencintai musik.
Bisa diceritakan awalnya kamu serius menekuni dunia musik?
Waktu SD aku mendengarkan band Jepang bernama Southern All Stars untuk pertama kalinya dan langsung jatuh cinta dengan mereka. Dari situ aku ingin bisa menulis dan menciptakan lagu sendiri. Waktu umur 10 tahun, aku menangis dengar lagu mereka “Tsunami” karena tersentuh dengan lagunya dan sejak dari situ aku mulai tergila-gila dengan mereka.
Kamu sudah lama berkarir dari remaja. Apa yang membedakan dirimu dari pertama kali bermusik sampai sekarang?
Waktu aku masih remaja aku ingin terlihat keren ketika membuat musik, semakin bertambahnya usia aku sudah mampu mengekspresikan diriku sebenarnya lewat musik dan menurutku mindset seperti itu jauh lebih menyehatkan dan membuatku makin nyaman membuat musik.
Kamu punya album baru berjudul “Singin’ In The Yellow”, bisa diceritakan tentang album tersebut?
Melihat dunia sedang sulit dan kacau, aku ingin membuat lagu yang membuat orang gembira. Aku berharap orang bisa senang mendengarkan 10 lagu yang ada di album ini.
Kenapa di album ini kamu memilih warna kuning sebagai warna utamanya?
Di Jepang, kuning selalu identik dengan warna kegembiraan. Kalau di Indonesia warna kegembiraannya apa?
Indonesia mungkin biru sama merah kali ya.
Jadi di Jepang ada film terkenal namanya “The Yellow Handkerchief” dan gara-gara film itu warna kuning selalu menjadi simbol kegembiraan bagi orang-orang Jepang.
Dan di cover albummu ada gambar pisang, jagung, buah kiwi dan kacang-kacangan yang membentuk muka orang yang sedang tersenyum?
Aku mengumpulkan makanan dan buah-buahan berwarna kuning dulu. Sebelum albumnya keluar, cover single-nya ada gambar buah kiwi, jagung, dan pisang. Aku berpikir lucu juga kalau misalnya aku membentuk buah-buahan tersebut sehingga jadi muka orang.
Di Jepang juga ada permainan tradisional namanya Fukuwarai (permainan dimana orang menaruh bagian muka dengan mata tertutup, red) yang dimainkan waktu tahun baru. Ketika aku memainkannya dan melihat hasilnya ketika mataku terbuka aku kaget sendiri dengan hasilnya dan semua orang tertawa dengan hasilnya. Perasaan seperti itu yang juga mewakili cover albumku.
Di album ini kamu memasukkan banyak sekali elemen musik.
Seperti yang aku sudah katakan sebelumnya, aku sangat suka Southern All Stars dan mereka memainkan banyak sekali genre mulai dari rock, pop, soul, salsa, folk. Mereka bisa berpindah genre sesuka hati dan aku terpengaruh oleh itu. Ketika aku menulis lagu, aku juga tidak terlalu memikirkan genre dan elemen musik tertentu.
Menurutmu, bagaimana kamu melihat singer-songwriter di era internet?
Dibanding dulu, sekarang orang bisa mendengarkan musik dari mana saja dan sudah menjadi hal yang global. Menjadi penting bahwa kreator harus mengungkapkan apa yang mereka rasakan dengan jelas dan membuat sesuatu yang benar-benar mereka ciptakan dari hati dan relate dengan mereka ketimbang membuat karya yang asal jadi supaya makin relate dengan pedengarnya. Aku percaya keunikan individu dalam membuat lagu menjadi sangat penting di era digital seperti sekarang.
Bagaimana kamu melihat musik Jepang saat ini?
Banyak sekali anak muda yang bagus dalam bermain musik dan bernyanyi. Kalau aku hidup di era sekarang dan 10 tahun lebih muda, aku sangat kesulitan dalam membuat musik. Pada akhirnya balik lagi seperti yang aku ungkapkan bahwa keunikan individu sangat penting dalam berkarya.
Jika kamu mempunyai mesin waktu, kamu mau kembali ke era mana dan kenapa?
Aku ingin balik ke era 60’an dan 70’an karena di era itu banyak musik baru yang lahir dan di era sekarang terasa lebih matang dan masih nyambung. Aku benar-benar ingin melihat secara langsung perkembangan musik di era tersebut.
Musik 60’an dan 70’an apa yang kamu suka?
Aku sangat menggilai The Beatles, aku suka semua karyanya. Tetapi yang benar-benar mempengaruhiku adalah karya dari musik soulful-nya Motown terutama karya Stevie Wonder. Aku menyukai elemen dark dari musik Motown.
Sebutkan tiga lagu Jepang favoritmu?
Jujur ini sulit karena hanya tiga lagu yang bisa aku pilih. Pertama, tentu saja Southern All Stars yang mempengaruhi musikku dan yang pertama kali terlintas di pikiranku adalah lagu dance mereka ‘Ai no Kotodama’ yang ada rap berbahasa Indonesia di tengah lagu.
Waktu aku kecil, aku mengulang lagu milik Ulfuls ‘Banzai’ dan orang Jepang pada suka lagu itu pada jamannya.
Aku juga senang dengan lagu Yumi Matsutoya “Umi wo Miteita Gogo”
Sebutkan tiga hal yang kami tidak ketahui tentang dirimu?
Sulit juga ya pertanyannya. Aku berasal dari Osaka, tapi aku jarang makan okonomiyaki dan aku gak bisa makan okonomiyaki pakai mayones. Semua orang di Osaka demen banget okonomiyaki tapi aku gak terlalu suka. Aku orangnya sangat DIY dan untuk album ini aku merekam vokalnya di vocal booth yang aku bikin sendiri di rumah. Terakhir, sebelum aku ke Jakarta aku takut tempat ini terlalu antah berantah dan sempat khawatir juga. Tapi ketika sampai semua pengalamannya menyenangkan.
Terakhir, apa yang kamu lakukan setelah wawancara ini?
Makan siang, karena aku belum makan siang dan ini udah jam 14:30 jadi aku ingin makan makanan Indonesia yang lezat. Ada rekomendasi, jangan yang pedas-pedas perutku masih sakit soalnya.
Kamu bisa coba sate, itu seperti yakitori di Jepang.
Oke aku akan coba, terima kasih rekomendasinya.
“Singin’ in the Yellow” sudah keluar di tanggal 2 September 2025 via AUGUSTA RECORDS/Universal Music Japan
Simak interview selengkapnya berikut ini:
Big Thanks to AUGUSTA and Universal Music Japan for this interview