Quantcast

Exclusive Interview with Jesse Ruben: ‘This Is Why I Need You’ Paling Banyak Didengar di Jakarta

By - 3 weeks ago in Artist Interviews

Memiliki karya-karya yang menjadi inspirasi bagi para penikmatnya tentulah merupakan goal yang ingin dicapai oleh seorang musisi. Hal itulah yang mendasari setiap lagu yang diciptakan oleh Jesse Ruben, untuk dapat terkoneksi dengan para pendengarnya melalui pesan yang ingin disampaikan melalui lagu-lagu ciptaannya. Musisi asal Brooklyn, New York ini pernah melalui masa kelam dalam hidupnya, yaitu saat berjuang melawan penyakit Lyme, dan berhasil kembali dengan karya-karyanya yang telah mempengaruhi jutaan pendengarnya di seluruh dunia. Mulai dari ‘We Can’, hingga ‘This Is Why I Need You’ yang erat dengan kisah hidupnya tersebut, Jesse Ruben berhasil menyebarkan pesan positif melalui lirik-lirik lagunya.

Dan kedatangannya di Asia kali ini untuk mempromosikan EP terbarunya yang berjudul “Hope”, dengan menggelar konser di Manila, Kuala Lumpur dan Singapore. Sayangnya, kedatangannya ke Jakarta tidak disertai dengan konser promo seperti kota lainnya. Namun, berkat kerjasamanya dengan Universal Music Indonesia, Creative Disc sempat berbincang seru dengan Jesse Ruben di sela-sela kegiatannya di ibukota.

Creative Disc: Apa kabarmu?
Jesse Ruben: Sangat baik. Tampaknya saya sudah bisa menyesuaikan dengan keadaan disini. Saya pikir saya akan sangat kelelahan saat bangun pagi, tapi ternyata tidak. I feel great.

Creative Disc: Ini kali pertamamu ke Jakarta?
Jesse Ruben: Benar sekali. Ini adalah perjalanan pertama saya ke Asia. Sejauh mata memandang, it’s beautiful. Saya seperti sedang liburan. Dibandingkan Manila, lalu lintasnya pun jauh lebih baik. Semua orang disini sangat baik kepada kami. Kunjungan kami kemari memang sudah direncanakan sejak lama, dan Indonesia adalah pasar terbesar untuk musik saya. Dan sangat bangga sekali bisa berada di sebuah tempat yang benar-benar mendukung saya meskipun jauh dari tempat saya tinggal.

Creative Disc: Sudah sekitar 3 bulan sejak kita berbicara di telepon. Apa yang membuatmu tetap sibuk selama ini?
Jesse Ruben: Saya banyak bepergian untuk tur. Kemudian mengunjungi sekolah-sekolah (untuk We Can Project), banyak menulis lagu, serta mempersiapkan sebuah album baru.

Creative Disc: Bagaimana kamu dan Kyle Patrick bertemu awalnya?
Jesse Ruben: Kami bertemu di sekolah, di mata pelajaran menulis lagu. Di kelas tersebut kamu dibagi menjadi beberapa kelompok, dan kelompok tersebut dijadwalkan untuk tampil setiap minggunya. Kami tidak pernah mendapatkan jadwal tampil yang bersamaan, dan ia tidak pernah ada di kelas saat waktunya saya tampil. Namun, saya selalu hadir saat ia tampil. Dan di kelas terakhir, saya memutuskan untuk berbicara dengannya. Ternyata kami tinggal di satu apartemen yang sama, hanya beda lantai saja. Lalu kami mulai nongkrong bareng, menulis lagu bersama. Dan akhirnya Kyle mulai sibuk dengan sebuah band yang saya lupa namanya.. (sambil tertawa) Sangat aneh jika mengingatnya, kami menulis lagu bersama, rekaman bersama, dan kemudian ia menghilang begitu saja. Lalu, 6 bulan kemudian ia mengundang saya ke sebuah acara, dan saya menyaksikan langsung dirinya tampil sebagai pembuka konser Hilary Duff. Saya sangat kaget.

Creative Disc: Kalian bisa menjadi duo musik yang hebat loh.
Jesse Ruben: (sambil tertawa) ya, tentu saja. Kami sudah pernah membicarakannya dengan ayah saya, dan menurutnya ide yang bagus. Dan menurut saya juga begitu.

Creative Disc: Mengenai EP terbarumu selanjutnya, bagaimana proses rekamannya dan apakah ada detil mengenai EP tersebut?
Jesse Ruben: Ya, tentu saja. Semuanya berjalan dengan baik. EP “Hope” adalah sesuatu yang kami kerjakan beberapa tahun belakangan ini dan semuanya berjalan dengan sempurna. Dan sejak kami menyelesaikan EP tersebut, saya telah menulis banyak lagu untuk dijadikan sebuah album, dan saya juga menulis musikal. Sangat menantang, karena saya tidak mengeluarkan album secara utuh selama beberapa tahun. Tema nya mungkin tidak terlalu berbeda dengan sebelumnya. Banyak yang terjadi di seluruh dunia akhir-akhir ini, dan beberapa lagu memiliki tema yang membahasnya. Beberapa lagu mungkin sedikit berbau politik. Tapi saya senang dengan album tersebut.

Creative Disc: Di websitemu tertulis bahwa album terbarumu akan berjudul “A Reply to Violence”. Apakah album tersebut yang sedang kamu kerjakan?
Jesse Ruben: Benar sekali. Wah, kamu benar-benar meneliti dulu ya..

Creative Disc: Dan judulnya diambil dari quote oleh Leonard Bernstein?
Jesse Ruben: Judul ini telah saya tetapkan sekitar 7 tahun lalu. Saya sedang berjalan di East Village, di 11th Street, dan ada sebuah sekolah musik disitu yang temboknya bertuliskan “This would be our reply to violence, is that we will make music more beautifuly, more passionately, more devotedly than ever before.” Dan kalimat tersebut benar-benar mengena bagi saya. Dan itu sangat dekat dengan kondisi kekerasan yang terjadi saat ini, seperti penembakan di sekolah, dan saya merasakan bahwa kalimat tersebut sangat cocok untuk menjadi sebuah konsep bagi album saya.

Creative Disc: Saya sangat tertarik dengan salah satu lagumu yang berjudul ‘Scared of America’ yang sarat dengan isu-isu yang serius. Bagaimana awal mula lagu tersebut tercipta, dan apakah kondisi tersebut mengalami perubahan seiring waktu?
Jesse Ruben: Pertanyaan yang sangat bagus. Saya sempat mengikuti sebuah workshop menulis lagu di Chicago. Saya mungkin yang paling tua di kelas tersebut, dan sisanya adalah anak-anak muda yang baru memulai menulis lagu. Senang bisa mendengarkan para mentor memberikan masukan kepada para anak muda yang baru akan memulai karirnya dalam menulis lagu. Dan waktu itu ada seorang mentor yang berkata kepada salah satu murid untuk menuliskan hal yang menakutkan bagi dirinya. Dan saya langsung berpikir topik apa yang bisa saya bahas. Dan bagi saya, membahas topik tersebut adalah hal yang penting. Dan saya senang menulis tentang hal-hal yang membuat saya tidak nyaman namun sangat penting untuk didiskusikan. Jadi untuk lagu tersebut adalah bagaimana saya membiarkan diri saya untuk membahas hal-hal seperti ketidaksetaraan, kekerasan dengan senjata, kejahatan seksual yang terjadi di kampus/sekolah, serta hal-hal yang banyak terjadi di dunia nyata namun jarang dibahas melalui musik. Dan jika ditanya pada saya apakah keadaan tersebut berubah menjadi lebih baik saat ini, jawabannya adalah tidak. Apa yang terjadi di Amerika saat ini kurang baik menurut saya. Banyak pemegang kekuasaan membuat keputusan yang tidak masuk akal bagi saya. Namun, saya berharap keadaan akan berubah menjadi lebih baik. Dan di masa datang kami dapat memilih orang-orang yang lebih berjiwa kemanusiaan.

Creative Disc: Dari sekian banyak lagumu, mana yang paling favorit kamu tampilkan?
Jesse Ruben: Saya suka memainkan lagu yang paling digemari penonton saat saya tampil. Saya mencintai semua lagu saya. Tapi ‘This Is Why I Need You’ adalah sebuah lagu yang istimewa dan sangat berarti bagi saya melihat respon orang-orang terhadap lagu itu. Lagu tersebut saya tulis sekitar 3-4 tahun setelah saya sakit. Berada di tempat tidur, harus menemui dokter berulang kali, sambil berpikir kelanjutan hidup saya, karir yang berantakan, dan mengalami waktu-waktu terburuk dalam hidup saya, dan berpendapat bahwa saya mungkin tidak dapat menulis lagu lagi. Dan akhirnya saya punya keyakinan bahwa saya bisa menulis lagu dalam kondisi seperti ini. Dan saya ingat bahwa saya mengirim lagu tersebut kepada Kyle, dan ia bilang bahwa lagu tersebut bagus. Yang mengagumkan adalah lagu tersebut hadir di tengah-tengah masa kelam dalam hidup saya, dan bagaimana lagu tersebut menjadi inspirasi bagi banyak orang dalam kesusahannya masing-masing. Dengan mengingat bagaimana saya menulis lagu itu di tengah malam yang dingin di Brooklyn di tempat tidur bersama pacar saya (yang saat ini sudah menjadi istri), dan mengetahui bahwa saat ini saya ada di sisi belahan dunia lain dengan orang-orang yang merasa terkoneksi dengan lagu itu, sangatlah istimewa. Dan Jakarta menjadi kota dengan jumlah pendengar terbanyak untuk lagu ini di Spotify di seluruh dunia. Terima kasih.

Creative Disc: Apa goal-mu untuk tahun 2019 ini secara personal, sebagai artis maupun seorang filantropis?
Jesse Ruben: Oh my God, that’s a great question. Saya senang tampil di luar Amerika, jadi saya berharap dapat melakukan hal itu lebih sering ke depannya. Dan berharap dapat kembali ke Asia lagi dalam tahun ini, beberapa kali. Tentunya menciptakan lagu-lagu baru dan merilisnya. Saya senang bekerja bersama anak-anak dan berharap dapat melakukannya secara internasional. Saya melakukannya di seluruh Amerika Utara, saat ini Kanada, dan berharap dapat mengunjungi sekolah-sekolah di luar Amerika. Dan sebenarnya ada sekolah di Jakarta yang pada tahun 2013 menggunakan lagu itu (‘We Can’) dan saya harap dapat mengunjunginya suatu saat nanti. Dan juga saya sudah menikah, jadi saya berusaha untuk menjadi suami yang baik. (sambil tertawa)

Creative Disc: Berikut ini ada beberapa pertanyaan trivia. Yang pertama, apa media sosial favoritmu?
Jesse Ruben: Saya lebih suka Instagram. Karena lewat Instagram kamu bisa melihat hal-hal bahagia yang terjadi dalam hidup seseorang. Sedangkan Twitter dapat berubah kelam dengan cepat.

Creative Disc: Saat kamu ingin menarik perhatian orang lain, apa yang kamu lakukan?
Jesse Ruben: Saya akan naik ke pesawat, terbang ke Jakarta, book a show, dan tampil. (sambil tertawa) Menjadi seorang artis sebenarnya sangat menarik, karena kamu membutuhkan orang lain untuk melihat karyamu. Dan bagi saya, bisa terhubung dengan penggemarmu lewat karya-karyamu adalah hal yang penting dari pekerjaan yang kami lakukan.

Creative Disc: Apa lagu favoritmu saat ini?
Jesse Ruben: Pertanyaan yang bagus. Saya berusaha memikirkan lagu apa yang saya dengarkan. ‘Thank U, Next’ mungkin….. Juga ‘Fly Me To The Moon’ versi Frank Sinatra. Dan juga Dua Lipa yang awalnya saya tidak tahu siapa, namun setelah mendengar lagunya saya menjadi menyukainya.

Creative Disc: Pertanyaan terakhir, sebutkan 5 hal tentang dirimu yang belum banyak diketahui orang?
Jesse Ruben: Saya harus berpikir lagi karena saya juga bingung. Baiklah, yang pertama, salah satu kaki saya lebih besar dari kaki lainnya. Yang kedua, saya mulai belajar bermain piano sebelum bisa bermain gitar. Dan saya membencinya. Ketiga, saya punya saudara kembar perempuan. Ia lahir 4 menit lebih dulu daripada saya, dan lebih pendek dari saya, tapi dia yang terbaik dan lebih pintar. Keempat, saya telah mengikuti 6 kali lomba New York City Marathon, dan saya akan terus mengikutinya sampai saya tidak bisa berlari lagi. Dan pertama kali saya mengikutinya adalah bersama Kyle Patrick. Yang kelima, ayah saya benci dengan potongan rambut saya disini (sambil menunjukkan poster promo konser Asia Jesse yang terbaru). Setiap kali ia melihatnya, ia akan bilang terlalu pendek di sisi kiri-kanannya. I love you, dad..

Life. Music. Love. Fashion. A mixture of saint & stallion.

Comments

Leave a Reply

Related Articles

Concert News Music News | May 11, 2019 By

Greyson Chance Siap Gelar Konser “Portraits: Live in Indonesia” di bulan Juli

Music News | May 1, 2019 By

Berikut Ini Hal Yang Wajib Kamu Tahu Sebelum Nonton Konser Ed Sheeran Jakarta

Album of The Day | April 26, 2019 By

Album of the Day: Pink – Hurts 2B Human