CREATIVEDISC.COM – JAKARTA-Jika kamu masih ingat dengan grup vokal Jepang AAA yang isinya cowok dan cewek atau kalau di jaman dahulu ada S Club 7 dan Steps, maka kamu juga akan suka dengan GENIC. Grup yang terdiri dari Atsuki Mashiko, Joe Nishizawa, Maiki Nishimoto, Yurari Ui, Ryuki Koike, Maria Kaneya dan Kakeru Amemiya ini terbentuk berkat sebuah proyek bernama “a-genic PROJECT” yang mencari grup vocal & dance yang bisa mewarisi DNA avex pada tahun 2019. Setelah proyeknya selesai, GENIC terbentuk dan dipersiapkan untuk debut di awal tahun 2020.
Apa daya, pandemi COVID-19 yang membabi buta di awal 2020 membuat GENIC tidak bisa tampil di depan publik dan harus memutar otak agar keberadaan mereka dilihat oleh banyak orang di tengah era karantina. Untungnya, mereka langsung sigap aktif di media sosial dan para personilnya merambah ke banyak bidang seperti akting, modelling, bahkan menjadi penulis lagu. Personil yang multi talenta serta penampilan mereka yang selalu enerjik dan optimis membuat mereka mendapatkan banyak penggemar dan hasilnya adalah mereka menjadi grup campuran yang paling panas saat ini di Jepang. Mereka sadar bahwa itu semua bisa dicapai berkat basis penggemar mereka yang beragam dan selalu mendukung mereka, makanya GENIC selalu berusaha memberikan yang terbaik kepada penggemarnya.
CreativeDisc berkesempatan untuk mewawancarai GENIC via e-mail dimana mereka bercerita soal album barunya, persiapan mereka tampil di Budokan, memberikan yang maksimal kepada penggemarnya, dan tersentuh oleh satu kata dalam Bahasa Indonesia.
CreativeDisc (CD): Bisa dikenalkan GENIC itu apa?
Maiki Nishimoto (MN): GENIC itu berasal dari kata photogenic dan instagenic yang bermakna “sesuatu yang terlihat atraktif”. Kami mau menjadi sesuatu yang atraktif di kehidupan orang.
CD: Lalu, bagaimana GENIC bisa muncul?
Yurari Ui (YU): GENIC terbentuk lewat program survival audition “a-genic PROJECT,” pada musim panas 2019 kemarin.
CD: Menurutku, GENIC adalah grup yang menarik dan mengingatkanku pada senior kalian di avex yaitu “AAA” yang isinya juga campuran antara cowok dan cewek.
Maria Kaneya (MK): Aku telah bersama avex sejak saya masih muda dan biasa mendengarkan musik AAA sepanjang waktu. Aku mendapat kehormatan untuk hadir di konser mereka, dan seluruh anggota grup belajar banyak hal baru dengan menyaksikan penampilan mereka yang luar biasa. Kami sangat menghormati mereka.
Kami memulai debut sebagai grup tari dan vokal beranggotakan tujuh orang dengan DNA avex, dan kami terus menghargai budaya avex. Meskipun demikian, sebagai sebuah tim, kami masih terus bertanya pada diri sendiri: apa yang mendefinisikan kami, dan jenis musik seperti apa yang dapat GENIC buat yang dicari orang saat ini? Kami ingin mengambil inspirasi dan energi yang kami dapatkan dari para senior kami yang luar biasa dan melakukan yang terbaik sambil tetap dengan jati diri kami yang sebenarnya!
CD: Mengenai album terbaru kalian “if”, bisa diceritakan tentang album ini?
Ryuki Koike (RK): Seperti judulnya, album ini mengeksplorasi konsep “jika (bagaimana jika)” dalam berbagai bentuk. Album ini berbagi kegembiraan tentang apa yang terjadi setelah berandai-andai “bagaimana jika” dengan pendengar semua di album ini.
CD: Lalu apa bedanya “if” dengan album kalian sebelumnya?
Kakeru Amemimya (KA): Meskipun rilisan kami sebelumnya juga menampilkan harmoni unik dan kekuatan karena kami memiliki terdiri dari cewek dan cowok, album ini benar-benar menunjukkan kehebatan dari grup yang ada cowok dan ceweknya! Album ini mencakup balada yang dibawakan duet, ada bagian dimana kami bernyanyi serempak atau harmonis, dan banyak momen “bagaimana jika” yang belum pernah kami coba sebelumnya!
CD: Bagaimana proses kepenulisan lagu untuk album ini?
Joe Nishizawa (JN): Beberapa lagu muncul begitu saja dan beberapa ditulis dengan hati-hati untuk menampilkan apa yang GENIC dan penggemarnya butuh sekarang. Karena album ini menampilkan emosi sebenarnya dari berbagai pengalaman, kami berharap lagu-lagu ini juga ada hubungannya dengan berbagai macam momen kehidupan pendengarnya.
CD: Album ini sepertinya mencampurkan sound yang old school dengan musik yang modern?
RK: Sebenarnya yang mendefinisikan GENIC adalah kami tidak spesifik ke satu genre, tapi kali ini, kami terinspirasi dari sejarah J-Pop dan musik di era tertentu.
CD: Dalam “if”, kalian mengajak kami untuk masuk ke pulau kalian. Memang pulau yang ideal versi kalian seperti apa?
KA: Bakal seperti tempat yang penuh dengan unsur magis seperti keluar dari dalam mimpi! Ada pulau terbangnya seperti di musik video kami, penguin terbang, sampai pohon rumah raksasa namanya “Maison Genic” tempat dimana semuanya tinggal!
CD: Satu lagu yang sangat mencolok adalah ‘IT’S SHOWTIME’ karena benar-benar memasukkan nuansa jadul. Bisa diceritakan tentang lagu ini?
AM: Lagu ini bercerita tentang menentang dan melampaui ekspektasi. Lagu ini merayakan orisinalitas GENIC sekaligus mengekspresikan komitmen kami untuk terus memberikan kejutan dan inspirasi bagi para penggemar.
CD: Untuk lagu solo/duo di album ini, bagaimana kalian membuat chemistry ketika mengerjakan dan menyanyikan lagunya?
JN: Ada beberapa unit songs di “if”. Lagu yang ada akunya itu lagu dance dan aku mencurahkan semuanya terutama di bagian lirik yang agresif sambil mencocokkan bagaimana kata di dalam liriknya terdengar ketika sedang bernyanyi. Cara ini bisa memadukan tarian dan vokal dengan mulus. Bekerja dengan unit yang lebih kecil juga menghadirkan dinamika yang kuat dan tentunya berbeda ketika kami tampil bertujuh.
RK: Kami memiliki pemahaman yang baik mengenai range dan kekuatan vokal masing-masing member, jadi kami selalu mengingat hal tersebut saat membagi bagian ketika proses produksi.
CD: GENIC sepertinya banyak fans perempuannya. Menurutmu kenapa fans perempuan ini tertarik dengan GENIC?
AM: Karena kita mempunyai energi yang fresh makanya kami bisa menarik fans perempuan.
CD: Debut albummu, GENEX, dirilis ketika pandemi COVID-19 melanda. Apakah kalian ingin menghibur dan memberi harapan untuk banyak orang selama masa sulit tersebut?
YU: Kami ingin menyampaikan pesan meskipun kami tidak bisa bertemu dengan mereka secara langsung. Kami juga ingin orang tahu bahwa kami selalu terhubung dengan mereka melalui musik, meskipun kami tidak bisa melihat satu sama lain.
CD: Menurut kalian, apa perbedaan menghibur penggemar di kala pandemi dan setelah pandemi?
MK: Selama pandemi, aku menyadari bahwa kami tidak bisa mengirimkan pesan secara sepihak, jadi berkomunikasi dengan penggemar melalui media sosial menjadi sangat penting buat kami. Kami sangat memanfaatkan media sosial untuk mengumumkan berbagai hal dan membagikan apa pun yang mereka butuhkan atau hal yang ingin mereka tahu.
Setelahnya, kami dapat memahami lebih dalam bahwa para penggemar kami juga merasakan pasang surut emosi yang sama dan mereka juga berjuang bersama kami. Ke depannya, kami ingin terus berkomunikasi dengan penggemar lebih intens lagi.
CD: Banyak penggemar anime yang tahu kalian lewat lagu ‘Haru Urara’ dari anime “Fruits Basket”. Bisa diceritakan sedikit tentang lagu itu?
RK: “Haru Urara” adalah lagu yang sangat indah. Aku menulis dan mengaransemen lagunya dengan suasana musim semi yang lembut. Aku percaya bahwa kelembutan adalah daya tarik utama orang mendengarkan lagu ini dan aku ingin mendengarkan lagu ini terus.
CD: Apa pengalaman paling seru selama kalian tur?
MN: Ketika mengumumkan bahwa kami akan mengadakan konser solo di Nippon Budokan sewaktu kami tampil di Tokyo. Aku ingat para penggemar langsung heboh dan bersorak ketika mendengarnya, sampai sekarang aku masih merinding kalau mengingat hal itu.
CD: Jadi, bagaimana perasaan kalian tampil di Nippon Budokan pada November 2025?
KA: Kami selalu merasa bahwa Budokan adalah tempat yang ditakdirkan untuk kami tampil. Pastinya ada senangnya dan ada tegangnya juga karena akhirnya bisa tampil di Budokan. Kami bertekad untuk menjadikan ini sukses dan terus menyelasaikan setiap rintangan yang ada menjelang hari H.
CD: Persiapannya seperti apa untuk tampil di Budokan?
YU: Kami bekerja untuk membuat lagu baru dan masih punya sembilan bulan lagi. Tapi seiring berjalannya waktu, aku lebih sering menghargai setiap waktu sebelum tampil di Budokan.
CD: Oh ya, apakah kalian punya album favorit dari musisi Jepang atau internasional?
JN: Aku lagi mendengarkan album “Telos” dari Zedd. Dia sekarang lagi mengerjakan lagu untuk “Dragon Ball” yang semua orang pasti sudah tahu. Musiknya Zedd selalu punya estetik less-is-more yang selalu kusuka dan album barunya “Telos” memakai konsep itu dan membuat albumnya menjadi sangat indah dan bagus. Aku benar-benar suka dengan album itu.
CD: Jika kamu bisa kembali ke masa lalu, apa nasihat yang ingin kamu berikan ke dirimu di masa lalu?
YU: Santai saja dan jadilah dirimu sendiri.
CD: Untuk member yang juga berakting, apa bedanya bermusik dan berakting?
AM: Akting adalah tentang seberapa baik kamu memahami etiket sosial dan orang-orang, dan seberapa unik dirimu. Tapi dengan musik, kamu bisa menjadi orang yang eksentrik selama hal itu bisa relate dengan pendengarnya, itu sah-sah saja. Memiliki perspektif yang unik bisa menjadi sebuah kekuatan.
KA: Dengan musik, asal muasal dari musisinya bisa menjadi bagian sebuah lagu. Kalau akting, kamu harus memahami asal muasal dari karakter yang kamu mainkan. Meskipun terlihat beda, keduanya melibatkan komunikasi dengan perasaan dan kata-kata. Melakukan keduanya membantuku meningkatkan cara saya mengekspresikan diri!
CD: Apakah kamu pernah mendengar tentang Indonesia?
MK: Aku merasa bahwa Indonesia punya budaya yang beragam. Aku terenyuh ketika mendengar kata “tidak apa-apa” dan memaknai artinya. Kata tersebut masih impresif buatku.
CD: Jika kamu bisa mengunjungi Indonesia. Apa yang ingin kalian lakukan pertama kali.
MK: Aku ingin mengunjungi tempat wisata di Indonesia dan mencoba nasi goreng yang asli!
CD: Apa yang ingin GENIC lakukan pasca wawancara ini?
MN: Pada bulan November, kami akan menampilkan pertunjukan terbesar kami sebagai grup di Nippon Budokan. Menjelang itu, kami fokus pada kegiatan individu dan tampil di banyak festival musik dan acara lainnya untuk memperkenalkan GENIC kepada sebanyak mungkin orang.
Album baru GENIC “if” telah dirilis pada 5 Februari 2025 via avex trax: