CreativeDisc Interview with Wave to Earth: Cerita soal Akar Jazz dan Eksperimen Musik Terbaru di Java Jazz Festival 2026

Oleh: welly - 08 Jun 2026

Interview by: Jeni Rahman
CREATIVEDISC.COM – JAKARTA –
Band indie rock asal Seoul, Wave to Earth yang beranggotakan Daniel Kim (vokal dan gitar), Dong Q (drum), dan John Cha (bass) ini kembali menyapa penggemar Indonesia lewat penampilan mereka di Java Jazz Festival pada 30 Mei 2026. Sejak debut pada 2019, mereka telah merilis dua album studio, yaitu “0.1 flaws and all.” (2023) dan “play with earth! 0.03” (2024), serta single terbaru ‘Heaven and Hell’ di tahun ini.

Sebelum tampil di Java Jazz Festival, Wave to Earth menyempatkan diri bertemu dengan sejumlah media dalam sebuah sesi wawancara, termasuk bersama tim CreativeDisc. Dalam kesempatan eksklusif ini, ketiganya berbagi cerita seputar pengalaman mereka tampil di Jakarta. Kedatangan kali ini menjadi kunjungan keempat mereka ke Indonesia dalam tiga tahun terakhir, sebuah bukti nyata besarnya basis penggemar mereka di tanah air. Tak hanya soal panggung, mereka juga membagikan pengalaman menyenangkan mencicipi kuliner lokal seperti nasi goreng, yang kini cita rasa pedasnya sudah mulai terasa familiar bagi mereka.

Bahasa Inggris sebagai Jembatan Menuju Pasar Global

Salah satu hal menarik yang diungkap adalah keputusan Wave to Earth untuk secara aktif memproduksi lagu dalam bahasa Inggris sejak awal karier. Menurut mereka, pasar industri musik band di Korea Selatan terasa cukup kecil untuk membangun karier yang berkelanjutan. Oleh karena itu, bahasa Inggris dipilih sebagai jembatan agar musik mereka dapat dinikmati audiens global yang jauh lebih luas. Pendekatan inilah yang turut mengantarkan mereka menjangkau pendengar lintas negara, termasuk Indonesia yang kini menjadi negara dengan jumlah pendengar terbanyak di Spotify.

Dari Mimpi Belajar Jazz hingga Menyeimbangkan Dua Genre, Rock dan Jazz

Menjelang penampilan di panggung jazz, mereka membagikan asal-usul elemen jazz dalam musiknya. Daniel Kim mengaku pernah mengambil jurusan gitar jazz saat sekolah menengah dan tertarik menggabungkan elemen tersebut ke dalam format band. Sementara itu John Cha bahkan sempat bermimpi pergi ke Amerika Serikat untuk belajar jazz di usia awal 20-an, namun setelah menyelesaikan wajib militer, ia bertemu rekan-rekan bandnya saat ini dan memilih mengejar mimpi bersama Wave to Earth.

Soal proses kreatif, mereka mengakui dengan jujur bahwa keseluruhan prosesnya menantang karena setiap anggota memiliki pandangan dan keunikan masing-masing. Pada dasarnya ketiganya sangat menyukai rock, sehingga setiap kali mencoba memainkan jazz, permainan mereka kerap bergeser secara alami ke ranah rock. Itulah mengapa mereka harus sengaja menyisipkan elemen jazzy agar nuansanya tetap seimbang, meski untuk aksi panggung mereka tetap condong ke performa rock yang bertenaga.

Musisi yang Menginspirasi Eksperimen Terbaru Mereka

Di penghujung obrolan, Wave to Earth turut membagikan sederet musisi yang tengah memengaruhi eksperimen musik terbaru mereka. Setelah menyaksikan sebuah pertunjukan langsung di New York, mereka terinspirasi memikirkan cara memasukkan gaya pedal steel dan instrumen akustik ke dalam karya mereka.

Mereka juga mengagumi album terbaru Bon Iver, “SABLE, fABLE”, khususnya teknik suara unik seperti glitchy sound dan permainan panning audio yang radikal, yang kemudian mendorong mereka membawa instrumen synths baru untuk rangkaian pertunjukan ke depan.

Tak hanya itu, mereka banyak mendengarkan trek akustik yang santai seperti ‘If I’m Lucky’ dari Chelsea Jordan, demi menghadirkan elemen yang ramah dan mudah didengar ke dalam musik mereka. Sebuah gambaran jelas bahwa Wave to Earth terus bertumbuh dan tak pernah berhenti bereksperimen.

Author

welly

More from Creative Disc