PHOTO & TEKS BY: WISNU H.YUDHANTO
CREATIVEDISC.COM – SINGAPURA – Bayangkan, sebuah konser musik, namun tak satupun tampak peralatan di atas panggung, baik itu sebuah drum-set megah, keyboards, amps, mic stand ataupun hanya seuntai kabel. Tak tampak satu pun. Bersih kinclong layaknya panggung yang belum selesai setting. Apalagi panggung dari seorang musisi new wave-punk 80-an yang notabene biasanya musik yang identik dengan instrumen dan pernak-pernik suara. Namun Itulah yang terjadi pada konser David Byrne, seorang musisi veteran new wave Amerika berusia 73 tahun, ex sebuah band ikonik “Talking Heads”, dalam tour terbarunya yang bertajuk “Who Is The Sky?” Percaya atau tidak, saya sampai menyempatkan menjinjit untuk melongok lebih jelas dan berpikiran, “Apa jangan-jangan panggungnya belum selesai dibangun???”
Alih-alih panggung yang biasa kita lihat megah dan glamour di tiap-tiap konser, David Byrne mengubah arena konser-nya menjadi sebuah ruang gerak dinamis yang bebas. Bayangkan, David dengan ditemani 11 musisi, semuanya mengenakan seragam wearpack biru tua dengan menyandangkan instrumen mereka masing-masing dengan tali bahu agar bisa bebas bergerak menari, melompat, dan berbaris seperti layaknya sebuah marching band. Inilah Utopia Band, band pengiring David Byrne di tour-nya, sebuah band yang membawakan konsep Serba Nirkabel: Setiap instrumen — termasuk keyboard dan drum set (dalam hal ini, perkusi) — diikatkan langsung ke tubuh para musisi. So, betul, tidak ada satupun kabel, mic-stand, atau panggung drum set. Hanya mereka ber-duabelas terus menerus bergerak membentuk formasi diatas panggung, berubah-ubah secara presisi, layaknya sebuah musikal gerak teatrikal. Akhirnya kebingungan saya terjawab.
Konser sempat tertunda selama 30 menit, ketika akhirnya David muncul dan meminta maaf soal technical glitch di balik panggung sambil ngoceh panjang lebar bercerita tentang kunjungannya di Singapura sambil memamerkan hasil snapshot-nya selama jalan-jalan di kota singa di backdrop raksasa sambil menunggu kendala teknis diatasi. Awal yang unik dan spontan yang rasanya nggak pernah dilakukan musisi/band manapun.
Pukul 8.30 malam waktu Singapura, setelah David balik ke belakang panggung, konser akhirnya dibuka dengan hits lama Talking Heads; “Heaven”. Di usia yang tidak lagi muda, 73 tahun tepatnya, David masih memiliki energi dan kualitas vokal prima yang mampu membuat penonton yang duduk pun refleks berdiri dan berdansa.
David tidak hanya membawakan lagu-lagu lama yang meledak di era 80-an seperti “Psycho Killer” atau “Once in a Lifetime”. Ia justru menghubungkan hits-hits lawasnya dengan hits solo masa kini melalui repertoire yang unik. Meskipun tak disangkal, respon penonton sebagian besar memang terjadi di hits-hits lawas Talking Heads.
Namun, apa yang membuat pertunjukan ini terasa sangat berbeda bagi penonton awam seperti saya?
Secara visual, pertunjukan ini sangat memanjakan mata tanpa harus terasa berlebihan. Layar besar menampilkan gambar gunung es yang mencair menjadi hutan hijau, suasana urban kota New York, keadaan sebuah kantor korporat, hingga pesan-pesan provokatif tajam seperti “Make America Gay Again” atau slogan “No Kings”, hingga footage dokumentasi kejar-kejaran ICE terhadap para imigran yang secara spontan disambut riuh penonton.
David juga menyelipkan cerita-cerita manusiawi yang menyentuh di sela-sela lagu. Ia berkisah tentang bagaimana orang-orang Italia bernyanyi dan bermusik dari jendela apartemen mereka saat pandemi untuk merayakan kebebasan dari fasisme.
Ia juga berbagi cerita lucu tentang bagaimana salah satu hits-nya, “And She Was”, sebenarnya terinspirasi dari seorang teman high school-nya yang selalu tampak happy. Belakangan ia baru tau ternyata karena pengaruh LSD — sebuah pengakuan jujur yang mengundang gelak penonton.
Baginya, di dunia yang penuh kekacauan dan ketidakpastian ini, tindakan yang paling berani atau paling “punk” bukanlah tentang rebellious dan berteriak marah, melainkan love and kindness terhadap sesama manusia. “Now that’s punk”, cetus David.
Ada sesuatu yang sangat unik dari cara David membawakan pertunjukannya. Dia tidak mencoba tampil seperti seorang bintang rock legendaris. Sebaliknya, ia sering kali ‘hilang’ menyatu dan membaur ke dalam kelompok band-nya saat salah seorang musisi lain sedang menunjukkan kebolehan solois mereka, menciptakan suasana “demokrasi” di atas panggung.
Puncak kehebohan, seperti sudah terduga, terjadi ketika hits klasik “Psycho Killer” dan “Once in a Lifetime” dimainkan, membuat seluruh penonton yang tadinya duduk rapi langsung berdiri dan berdansa, seakan semua tahu ini menjelang encore.
Hanya satu yang missing, padahal lumayan saya harapkan, di tour ini dia tidak membawakan hits modern pop Paramore “Hard Times” dengan gaya funk seperti di tour-tour sebelumnya.
Pada akhirnya, David seolah ingin memberitahu audience bahwa hidup ini seperti panggung konsernya: teruslah bergerak, jangan biarkan dirimu kaku oleh waktu, dan selalu cari alasan untuk tetap gembira di tiap kesulitan. Setiap manusia membutuhkan manusia lainnya.
Pertunjukan ini bukan sekadar pameran keterampilan musik; ini lebih ke pesan kampanye pengingat akan indahnya koneksi antar manusia. Pada akhirnya, konser ini ditutup dengan lagu energik “Burning Down the House” yang meninggalkan kesan mendalam bagi semua orang. Pesan yang didengungkan David beberapa kali, yang bisa kita bawa pulang sangatlah sederhana,klise, namun membekas: Menjadi manusia yang terbuka dan penuh kasih sayang terhadap sesama adalah bentuk arti punk yang paling indah untuk saat-saat seperti ini.