CreativeDisc Exclusive Interview with Wasia Project: Dari Kamar di London, Heartstopper, hingga Dunia Gelap dan Sinematik “Nocturne”

Oleh: nanack - 18 Sep 2026

CREATIVEDISC.COM – JAKARTA – Ada sesuatu yang menarik dari Wasia Project: musik mereka terasa personal, tetapi pada saat yang sama seperti dibangun untuk sebuah dunia yang jauh lebih besar.
Dibentuk oleh kakak-adik Will Gao dan Olivia Hardy, Wasia Project awalnya tidak lahir dari ambisi besar untuk menjadi sebuah proyek musik. Semuanya bermula sederhana. Membuat musik di rumah, bersama-sama, dan bersenang-senang. Pada 2019, ketika Olivia masih berusia 14 tahun dan Will 16 tahun, keduanya mulai serius mengeksplorasi kemungkinan membuat musik bersama. Mereka kemudian merilis karya-karya tersebut, mulai tampil, dan perlahan menyadari bahwa apa yang awalnya hanya sebuah aktivitas bersama telah berkembang menjadi sesuatu yang lebih serius.
Kini, perjalanan tersebut membawa mereka menuju satu titik penting: album debut “Nocturne”.
Dalam exclusive interview bersama CreativeDisc, Will dan Olivia berbicara tentang bagaimana Wasia Project bermula, bagaimana pengalaman mereka di Heartstopper ikut membentuk perspektif musikal, hingga dunia emosional yang mereka bangun melalui “Nocturne”.

Dari Musik di Rumah Menjadi Wasia Project

Tidak ada cerita dramatis tentang bagaimana Wasia Project pertama kali terbentuk. Justru sebaliknya, awalnya sangat sederhana.
“Kami mulai membuat musik di rumah hanya untuk bersenang-senang,” ujar Will. Mereka menghabiskan waktu bersama, menulis lagu, mencoba memahami musik, dan melakukannya tanpa tekanan untuk menjadi sesuatu yang besar. Setelah beberapa tahun, barulah keduanya merasa bahwa proyek tersebut mulai layak dibawa lebih serius, termasuk mulai tampil di depan publik.
Menariknya, fondasi Wasia Project memang berasal dari hubungan mereka sebagai saudara. Namun, hubungan tersebut tidak membuat proses kreatif mereka kehilangan karakter masing-masing.
Ketika diminta menggambarkan Wasia Project dalam tiga kata, Olivia memilih “vulnerable,” “poetic,” dan “cathartic.” Sementara Will memberikan perspektif yang sedikit berbeda: “songs, film, and art.”
Dua jawaban tersebut sebenarnya cukup menggambarkan dunia Wasia Project: emosional dan personal di satu sisi, tetapi juga sangat visual dan artistik di sisi lain.

”Nocturne”: Dunia yang Lebih Besar

Setelah sejumlah rilisan sebelumnya, sebut saja ‘2515’, ‘Bleeding Gold’, ‘Whale Call’ serta ‘Vogue’ yang dirilis beriringan sebagai single. “Nocturne” menjadi langkah besar berikutnya bagi Wasia Project.
Namun bagi Will dan Olivia, album ini bukan sekadar kumpulan lagu yang dikumpulkan menjadi sebuah debut album. Mereka melihat “Nocturne” sebagai sebuah “dunia” tersendiri.
Menurut mereka, dunia sonik album ini terasa jauh lebih besar. Ada keinginan untuk memperluas skala emosi sekaligus skala suara, dengan karakter yang lebih gelap, lebih kasar, lebih luas, dan lebih sinematik.
“Dunia suara ini benar-benar selaras,” menjadi salah satu cara mereka menjelaskan bagaimana keseluruhan album tersebut terasa sebagai satu kesatuan. Tetapi di balik eksplorasi sonic yang semakin luas itu, terdapat sebuah benang merah yang jauh lebih personal: hubungan manusia.
Nocturne, bagi mereka, berbicara mengenai proses tumbuh dewasa, rasa kesepian, pengalaman merasakan emosi yang sangat spesifik, sekaligus keinginan untuk tetap terhubung dengan orang lain.
Dengan kata lain, semakin besar dunia suara yang mereka bangun, semakin personal pula inti emosionalnya.

Mengapa “Nocturne”?

Judul album ini juga tidak dipilih secara kebetulan.
Bagi Wasia Project, “Nocturne” memiliki hubungan langsung dengan tradisi musik klasik. Istilah tersebut merujuk pada karya musik yang berkaitan dengan malam, termasuk karya-karya dari komposer seperti Chopin.
Konsep malam tersebut kemudian menjadi bagian penting dari identitas album.
Will dan Olivia membayangkan lagu-lagu di “Nocturne” sebagai sesuatu yang bisa didengarkan atau dirasakan pada malam hari. Ada kualitas tertentu dalam malam yang menurut mereka cocok dengan dunia yang mereka bangun melalui album ini.
Dan jika melihat bagaimana mereka mendeskripsikan album tersebut, lebih gelap, lebih luas, lebih sinematik. Judul “Nocturne” terasa semakin masuk akal.

Ketika Wasia Project Bertemu Heartstopper

Perjalanan Wasia Project juga tidak bisa dilepaskan dari Heartstopper.
Beberapa lagu mereka, termasuk ‘ur so pretty,’ ‘My Vine,’ dan ‘Whale Call,’ menjadi bagian dari dunia serial tersebut. Di sisi lain, Will juga mengalami Heartstopper dari perspektif yang berbeda sebagai pemeran Tao.
Dua pengalaman tersebut ternyata ikut mengubah perspektif Will terhadap musik.
Menurutnya, menjadi bagian dari dunia film dan televisi membuatnya memahami medium storytelling secara berbeda, bagaimana sebuah karya bisa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri. Pengalaman tersebut kemudian turut memengaruhi musik dan bagaimana ia membawa dirinya ke dalam proses kreatif.
Ada satu pemikiran menarik dari Will: sebuah lagu mungkin berangkat sebagai satu perjalanan personal, tetapi ketika dilepaskan ke dunia, lagu tersebut bisa menyentuh berbagai cerita, budaya, dan sisi kehidupan yang berbeda.
Dan pengalaman Heartstopper menjadi salah satu contoh paling nyata dari hal tersebut.

‘ur so pretty’: Ketika Lagu Bukan Lagi Hanya Milik Penciptanya

Dengan hampir 100 juta streams di Spotify, ‘ur so pretty’ menjadi salah satu lagu paling dikenal dari Wasia Project. Dalam wawancara, pembahasan mengenai lagu ini kemudian bergerak ke pertanyaan yang lebih menarik: ketika sebuah lagu menjadi bagian dari memori banyak orang, apakah lagu tersebut masih sepenuhnya milik penciptanya?
Jawaban Olivia cukup sederhana, tetapi punya makna yang dalam.
Ya, lagu itu masih milik mereka. Mereka yang membuatnya.
Tetapi setelah dirilis, setiap orang bebas menginterpretasikannya dengan cara mereka sendiri. Sebuah lagu dapat melekat pada film, cerita, karakter, atau pengalaman personal seseorang.
Dan justru di situlah Olivia menemukan sesuatu yang indah.
Ia tidak ingin semua orang mendengarkan ‘ur so pretty’ sambil memikirkan siapa yang menurut dirinya cantik. Ia ingin pendengar justru memikirkan orang yang mereka cintai dalam kehidupan mereka sendiri.
Pada akhirnya, menurutnya, lagu tersebut menjadi milik semua orang yang menemukan maknanya sendiri di dalamnya.

‘Vogue’: Gelap, Tetapi Tetap Aman

Memasuki single terbaru, ‘Vogue,’ Wasia Project kembali menunjukkan sisi yang berbeda.
Lagu tersebut terasa dreamy dengan sentuhan club, tetapi secara emosional berbicara tentang keinginan, menyerahkan diri pada hasrat, dan kemungkinan kehilangan kendali.
Ketika ditanya apakah mereka lebih tertarik pada kegembiraan menyerahkan diri pada hasrat atau bahaya kehilangan kontrol, jawaban mereka justru membawa ‘Vogue’ ke tempat yang lebih menarik.
Bagi mereka, yang paling terasa ketika membuat dan mendengarkan lagu tersebut adalah kegembiraan.
Bahkan ketika ‘Vogue’ memiliki palet yang lebih gelap, dunia tersebut tidak harus terasa negatif atau menakutkan. Mereka melihat kemungkinan untuk tetap merasa aman dan bahagia bahkan di dalam sebuah dunia yang gelap atau berbahaya.
Kontras tersebut terasa seperti salah satu kunci memahami Wasia Project: kegelapan tidak selalu berarti kesedihan.
Kadang, kegelapan justru menjadi ruang untuk merasa bebas.

Dua Lagu yang Mereka Tunggu

Dengan empat lagu dari “Nocturne” yang sudah terdengar, masih ada delapan lagu lain yang menunggu untuk ditemukan ketika album dirilis.
Dan ketika diminta memilih lagu yang paling mereka nantikan menjelang perilisan album, Will dan Olivia ternyata punya jawaban berbeda.
Will memilih ‘Strike Me Down From Heaven’, yang menurutnya merupakan lagu yang cukup intens dan menantang. Olivia memilih ‘Stay,’ sebuah lagu yang menurutnya sangat istimewa dan menjadi bagian penting dari perjalanan emosional album, terutama ketika didengarkan bersama tiga lagu terakhir Nocturne.
Menariknya, Olivia menyebut tiga lagu terakhir sebagai bagian yang memiliki emosi terkuat dalam album. Jadi bagi pendengar yang ingin merasakan Nocturne sebagai sebuah perjalanan utuh, mungkin bagian akhir album layak mendapatkan perhatian khusus.

Di Luar Studio: Dua Saudara yang Sama-Sama Keras Kepala

Menjelang akhir interview, kami mencoba melihat sisi lain dari hubungan Will dan Olivia melalui permainan singkat “Who Would?”
Hasilnya cukup menghibur.
Siapa yang lebih mungkin begadang sampai jam 4 pagi untuk menyelesaikan lagu?
Olivia.
Siapa yang lebih mungkin mengubah lagu di menit terakhir?
Lagi-lagi Olivia.
Lalu siapa yang lebih lama mengakui, “Okay, you were right”?
Jawabannya sempat menjadi perdebatan kecil. Keduanya mengakui bahwa mereka sama-sama keras kepala, sebelum akhirnya Will memberikan poin tersebut kepada dirinya sendiri.
Mungkin justru di situlah dinamika Wasia Project terasa paling nyata: dua pribadi dengan karakter berbeda yang harus terus menemukan cara untuk membuat satu karya bersama.

Apa yang Mereka Dengarkan?

Untuk rekomendasi musik personal, Olivia memilih Phoebe Bridgers, sementara Will sedang mengulang ‘Body Snatchers’ dari Radiohead.
Ketika ditanya lagu yang mereka berdua dengarkan bersama, jawabannya justru cukup jujur: mereka tidak terlalu sering mendengarkan musik yang sama.
“Maybe dance music,” menjadi jawaban paling aman sebelum akhirnya pertanyaan tersebut dilewati.
Dan mungkin itu juga menjelaskan mengapa Wasia Project bisa memiliki spektrum musik yang cukup luas.
Mereka tidak harus selalu memiliki playlist yang sama untuk bisa menciptakan sesuatu bersama.

Setelah “Nocturne”?

Untuk saat ini, fokus mereka jelas: “Nocturne”, yang dirilis pada 18 September.
Tetapi setelah album tersebut keluar, Wasia Project sudah membayangkan sesuatu yang lebih besar lagi: membawa “Nocturne” ke panggung dan bertemu langsung dengan para pendengar.
Mereka berharap bisa menggelar konser di berbagai tempat dan membawa pengalaman “Nocturne” secara live kepada audiens.
Dan mungkin itu memang langkah yang paling tepat untuk album yang sejak awal mereka gambarkan sebagai sebuah “dunia”.
Karena setelah menghabiskan bertahun-tahun membangun dunia tersebut di kamar dan studio, kini waktunya membawa dunia “Nocturne” keluar dan membiarkan orang lain masuk ke dalamnya.
Dan kalau harus memilih satu lagu untuk menjadi pintu masuk pertama, mungkin ada baiknya mengikuti rekomendasi mereka sendiri:
Will: ‘Strike Me Down From Heaven.’
Olivia: ‘Stay.’
Setelah itu, biarkan “Nocturne” membawa ceritanya sendiri.
Simak interview selengkapnya berikut ini:

Dengarkan album “Nocturne” berikut ini:

Author

nanack

More from Creative Disc