Catching Up with The Beths: Mencoba Lebih Dekat dengan Budaya Indonesia

Oleh: luthfi - 03 Aug 2026

CREATIVEDISC.COM – JAKARTA – Kedekatan The Beths dengan budaya dan adat Indonesia membuat obrolan bersama band indie rock asal Selandia Baru, The Beths selalu seru. Sang vokalis, Elizabeth atau yang biasa sering dipanggil Liz mempunyai darah asli Indonesia dari ibunya yang asli Manado sedangkan drummer Tristan mempunyai istri orang Indonesia. Berkat hal tersebut, The Beths selalu nyaman tampil di Indonesia meski mereka sudah keliling dunia. Perasaan senangnya balik kampung seolah terpancar di wajah Liz yang di album barunya ingin lebih dekat lagi dengan kampung halaman ibunya. Sebelum datang kedua kalinya ke Indonesia untuk tampil di Soundrenaline Jakarta 2026, ia menghabiskan lebih banyak waktu belajar bahasa Indonesia dibandingkan ketika masih kecil.

Hal itu dibuktikan di atas panggung dimana Liz lebih banyak berbicara dalam Bahasa Indonesia ketimbang Bahasa Inggris di atas panggung. Rasa ingin kembali mengenal kampung ibunda juga terpancar dari musik video ‘Mother, Pray For Me’ yang menampilkan terjemahan Bahasa Indonesia. Semua itu Liz lakukan agar ia juga bisa mengenal dirinya sendiri lebih dalam.

Perasaan untuk terhubung kembali dengan sang ibu dan keruwetan hidup (seperti lagu The Beths pada umumnya) muncul di album keempat mereka “Straight Line Was a Lie” yang mempunyai konsep “hidup itu tidak selalu berjalan di garis lurus”. CreativeDisc berkesempatan untuk mengobrol singkat bareng mereka soal album ini dan beberapa hal soal Indonesia sebelum mereka naik panggung di Soundrenaline Jakarta 2026.

CreativeDisc (CD): Setelah kalian keliling dunia, apa yang paling kalian kangenin tentang Indonesia?

Liz (L): Makanannya.

Tristan (T): Mangga gedong.

Jonathan (J): Udara lembapnya sih.

L: Baunya udara sini sih, berasa balik ke kampung pas aku masih umur 5. Aku juga suka kelembapan disini, sangat bagus buat kulit.

CD: Jadi ada kata dalam Bahasa Indonesia yang nempel di kalian sampai sekarang?

T: Gorengan.

J: Capek, itu kata yang bagus untuk melambangkan kelelahan.

L: Kata pertama yang aku ingat adalah “mandi”. Ibuku selalu bilang “mandi”, “bau” ketika aku masih kecil.

CD: Album kalian “Straight Line Was a Lie” lebih nge-pop dibanding album kalian sebelumnya tapi secara lirik dan tema terasa lebih berat.

L: Proses kali ini terasa sedikit berbeda. Aku menulis jauh lebih banyak materi sebelum masuk ke studio, dan mungkin itu juga yang membuat album ini terasa lebih dalam. Aku berusaha untuk membuat lagunya lebih terarah dan memastikan apa yang ingin aku sampaikan cocok dengan musiknya. Dari segi musik, kami juga membebaskan diri untuk masuk ke wilayah yang baru terutama di bagian tempo. Kami biasanya cukup ketat soal tempo tapi kali ini kami lebih santai soal itu. Jonathan yang banyak memproduseri bagian di album ini juga jauh lebih baik.

T: Untuk album kali ini, kami benar-benar berusaha untuk tidak terlalu memikirkan gimana lagu-lagu tersebut nantinya akan terdengar saat dimainkan secara live, atau seberapa sulit membawakannya di atas panggung. Fokus utama kami adalah menciptakan album studio yang benar-benar terdengar seperti yang kami inginkan. Setelah proses rekaman selesai, barulah kami mulai memikirkan bagaimana caranya supaya lagu tersebut tetap terdengar bagus ketika dibawakan secara live. Sekarang kami sudah berhasil melakukannya, dan saya merasa sangat bangga dengan hasilnya.

CD: Lagu ‘Mother, Pray For Me’ terdengar sangat emosional karena kamu menceritakan tentang ibumu yang asli Indonesia dan mencoba memahami asal usul dari ibumu?

L: Jujur, lagu ini susah untuk dibuat. Aku tumbuh dari dua adat yang berbeda. Ibuku lahir di Indonesia, dibesarkan dalam keluarga Katolik, dan pindah ke Selandia Baru. Rasanya seperti ada bagian dari diri saya yang sedikit terpisah dari adat Indonesia dan dari suasana keluarga Katolik di rumah. Karena itulah tampil di sini terasa sangat istimewa bagi saya karena aku ada hubungan emosional dengan Indonesia. Aku rasa hubungan dengan orang tua memang sering kali dipenuhi oleh pemahaman yang berbeda. Kamu ingin memahami perasaan orang tuamu, tapi masing-masing dibesarkan dalam adat dan pengalaman hidup yang berbeda. Lagu ini menggambarkan usaha untuk memahami satu sama lain meski lahir di dunia yang berbeda.

CD: Lagu kalian selalu catchy dan enak didengar. Ketika dipahami secara mendalam ternyata makna lagunya terdengar berat dan terkadang gelap.

L: Kami selalu berusaha membuat musik yang datang dari perasaan kami sendiri. Lirik biasanya datang dari pikiranku dan sejujurnya pikiranku memang cenderung melankolis setiap saat. Pada akhirnya, kami menciptakan sesuatu yang benar-benar kami nikmati, baik saat kami memainkannya di atas panggung maupun ketika didengarkan kembali.

CD: Jika kalian punya mesin waktu dan kembali lagi ke diri kalian 10 tahun lalu ketika kalian awal terbentuk, kalian ingin berkata apa ke diri kalian di masa lalu?

J: Banyak hal kecil yang ingin aku sampaikan seperti jangan pasang spring reverb di satu gitar dan menaruhnya di lagu karena kamu akan menyesalinya ketika didengarkan kembali. Lalu,aku akan duduk dan menenangkan diri sambil berkata “santai saja, masih banyak ide lainnya”.

L: Aku akan berkata “rileks, santai saja, sering-sering ke psikoterapi”. Tapi kalau misalnya aku berkata demikian tidak akan ada lagu The Beths seperti sekarang. Sejujurnya, saya sendiri masih sering merasa stres sampai sekarang bahkan ketika kami berada di titik sampai sekarang aku masih suka deg-degan. Yah, aku tidak ingin ada yang berubah sebenarnya.

Benjamin (B): Tetap lakukan apa yang ingin kamu lakukan.

Author

luthfi

More from Creative Disc