CREATIVEDISC.COM – JAKARTA- Ada sesuatu yang selalu terasa menarik tentang Swim Deep.
Mereka bukan band yang tiba-tiba meledak karena tren algoritma atau viral sesaat. Perjalanan mereka terasa lebih organik , tumbuh perlahan bersama pendengarnya. Dari masa-masa indie pop dreamy yang melankolis, fase elektronik dan rave, hingga kini kembali ke akar gitar dan rock dengan tekstur yang lebih kasar dan matang.
Menjelang perilisan album kelima mereka, “Hum” pada 19 Juni mendatang, kami berkesempatan ngobrol langsung bersama tiga personel band asal Birmingham, Inggris, Swim Deep ini: Austin Williams (vokalis), James Balmont (keyboard), dan Joshua Buchanan (gitar).
Obrolannya terasa santai, hangat, tetapi juga penuh refleksi, tentang perjalanan panjang, kehilangan, cinta, menjadi orang tua, sampai hubungan unik mereka dengan Asia.
Ketika ditanya bagaimana mereka menggambarkan Swim Deep hari ini bagi pendengar baru, James Balmont tertawa kecil sebelum menjelaskan bahwa band ini sebenarnya telah mengalami perjalanan musikal yang cukup panjang.
Dari awalnya dikenal sebagai band indie pop dreamy, mereka sempat mengeksplorasi musik elektronik, rave, hingga drum machine. Namun di album terbaru, mereka merasa seperti sedang kembali ke sesuatu yang lebih organik.
“Sekarang kami kembali bermain dengan gitar dan musik rock,” jelas James. “Tapi di album baru ini juga ada elemen grunge 90-an.”
Meski berubah, menurutnya esensi Swim Deep tidak pernah benar-benar hilang.
“Kami masih jadi band indie pop dreamy,” katanya, “cuma sekarang hadir dengan sisi yang lebih kasar.”
Dan mungkin di situlah menariknya Swim Deep: mereka berubah tanpa kehilangan identitas.
Nama Swim Deep memang selalu terdengar seperti sesuatu yang puitis bahkan sedikit eksistensial.
Austin Williams mengungkap ternyata nama itu datang dari Wolfgang Harte, salah satu sosok awal band yang kini bermain di band Heavy Wild.
Suatu hari di ruang latihan, Wolfgang menulis lirik yang memunculkan frasa “Swim Deep”, dan nama itu akhirnya melekat.
Namun ada makna filosofis yang selama ini diam-diam mereka bawa.
“Lebih banyak orang pergi ke bulan dibanding ke titik terdalam lautan,” kata Austin.
Bagi mereka, gagasan itu terasa menarik: manusia lebih terobsesi menjelajah luar angkasa ketimbang memahami bumi sendiri.
“Ambil makna apa pun yang kalian mau,” katanya sambil tersenyum. “Tapi kami selalu merasa itu nama yang bagus.”
Single terbaru mereka, ‘Mud’, mungkin terdengar besar dan sinematik. Tapi di balik itu, lagu ini ternyata sangat personal.
Austin menyebut ‘Mud’ sebagai sebuah ungkapan cinta untuk istrinya.
Dan justru karena itu, proses menulisnya terasa sulit.
“Lagu cinta itu paling susah ditulis,” katanya jujur.
Terlalu sentimental bisa terasa klise. Terlalu spesifik malah kehilangan keintiman. Menurut Austin, tantangan terbesar adalah menemukan keseimbangan, membuatnya terasa personal tanpa menjadi norak.
Ia menggambarkan ‘Mud’ sebagai semacam “memberikan bunga” kepada seseorang yang layak mendapatkannya setelah melewati kesedihan, kerja keras, dan masa berkabung.
Alih-alih tenggelam dalam kesedihan, Austin ingin lagu ini menjadi sesuatu yang sedikit lebih ringan. Sedikit lebih penuh harapan.
“Semacam happy ending,” katanya.
Menariknya, outro ‘Mud’ juga lahir dari diskusi kreatif panjang di studio.
Terinspirasi oleh lagu ‘The Concept’ milik Teenage Fanclub, mereka sempat berdebat mengenai arah bagian akhir lagu tersebut. Hingga akhirnya sebuah referensi datang dan semua orang merasa: ya, ini jawabannya.
Austin menggambarkannya dengan analogi sederhana namun indah:
“Kadang kamu harus mengetuk banyak pintu untuk sadar rumah yang kamu punya sebenarnya sudah cukup bagus.”
Pertanyaan yang sempat menggelitik: kenapa albumnya berjudul “Hum”, padahal tidak ada lagu dengan judul itu di tracklist?
Ternyata, menurut James, ada sedikit trivia menarik. Salah satu lagu di album “Hum” judulnya ‘You, Me and Mary’ awalnya justru berjudul ‘Hum’ dan akan menjadi single berikutnya.
Namun bagi Austin, alasan memilih judul ‘Hum’ jauh lebih personal.
Swim Deep ternyata memang tidak terlalu suka menamai album berdasarkan salah satu judul lagu karena terasa terlalu memusatkan perhatian pada satu track saja.
“Judul album harus punya identitas sendiri,” jelas Austin.
Makna “Hum” sendiri datang dari pengalaman menjadi ayah.
Saat putrinya masih bayi, Austin punya ritual sederhana: meletakkan kepala sang anak di dadanya sambil bersenandung (humming) sampai tertidur.
Kadang berlangsung hingga dua puluh menit.
“Getarannya meresap lewat kepalanya dan membuatnya cepat tidur,” katanya.
Terdengar sederhana, tapi intim.
Lucunya, Austin merasa ritual itu malah membantu kualitas vokalnya.
“Tanpa sadar aku warming up tiap hari,” candanya.
Dari momen kecil itulah “Hum” lahir, album tentang keluarga, kehilangan, tanggung jawab, dan menemukan alasan baru untuk terus bergerak maju.
Lebih dari satu dekade bersama tentu mengubah banyak hal.
Austin melihat Swim Deep sebagai sebuah cerita tentang sekelompok orang yang tumbuh dewasa bersama.
Mereka memulai perjalanan sebagai remaja, melewati usia 20-an awal, pertengahan, hingga akhir. Ada pergantian personel, perubahan perspektif hidup, hingga dinamika baru yang terus membentuk identitas band.
Namun baginya, Swim Deep tetaplah entitas yang sama.
“Evolusinya ada di cerita,” kata Austin.
James menambahkan bahwa bertumbuh juga berarti memberi ruang untuk bereksplorasi.
Setiap album membawa pengaruh baru sesuai fase hidup mereka. Namun menariknya, mereka tetap mempertahankan hal-hal tertentu sebagai jangkar identitas.
“Hum”, misalnya, direkam di studio yang sama di Brussels, Belgia. Tempat lahir sebagian besar album Swim Deep sebelumnya dan kembali diproduseri Bill Ryder-Jones.
“Kadang kembali ke tempat yang familiar itu membawa kembali memori musik yang pernah kami buat,” kata James.
Satu hal yang cukup unik dari Swim Deep adalah basis penggemar mereka di Asia.
Di Inggris, mereka mungkin tampil untuk ratusan penonton. Tapi di China atau Tailan? Bisa puluhan ribu.
Joshua Buchanan punya teori sederhana: penonton Asia memang sangat responsif terhadap musik Inggris.
Menurutnya, banyak pendengar termasuk di Indonesia tumbuh dengan pengaruh band-band seperti The Beatles atau Oasis sebelum akhirnya menemukan band seperti Swim Deep.
Austin merasa sisi dreamy dan shoegaze mereka mungkin lebih mudah “diterjemahkan” secara emosional di Asia.
“Ada energi positif, tapi tetap realistis,” katanya.
James melihatnya sebagai sesuatu yang lebih besar: warisan panjang musik Inggris sejak era invasi British rock tahun 60-an.
“Band-band seperti Beatles dan Rolling Stones meninggalkan jejak besar ke seluruh dunia,” jelasnya.
Dan kini, tanpa mereka sadari, Swim Deep ikut menikmati resonansi dari warisan panjang itu.
Masuk soundtrack FIFA mungkin terdengar kecil bagi sebagian orang.
Tapi bagi Swim Deep? Itu momen besar.
Lagu ‘One Great Song and I Could Change the World’ yang masuk ke FIFA 16 menjadi semacam soundtrack hidup banyak orang.
“Kamu main sendiri, main sama teman, musim panas, musim dingin, lagu itu jadi bagian dari satu tahun hidupmu,” kata Austin.
Yang menarik, judul lagu itu ternyata datang dari percakapan acak saat Austin menonton band Fat White Family di sebuah festival.
Seseorang berkata kepadanya:
“Yang mereka butuhkan cuma satu lagu hebat untuk mengubah dunia.”
Kalimat itu melekat.
Dan ironisnya, justru lewat FIFA, lagu tersebut sedikit banyak benar-benar mengubah dunia Swim Deep.
Austin tertawa saat kami mengangkat pertanyaan ini.
Ya, banyak orang mengira ‘Hotel California’ adalah cover dari lagu legendaris The Eagles.
Ternyata bukan.
Austin mengaku sejak dulu terobsesi dengan California, bahkan sebelum pernah pergi ke sana.
Menariknya, album debut mereka “Where The Heaven Are We” dipenuhi nama lokasi nyata di California seperti Santa Maria, King City, hingga Isla Vista.
Sedangkan ‘Hotel California’ sendiri memang berkaitan dengan lagu The Eagles.
“Lagu itu sebenarnya tentang aku dan teman-teman menyanyikan Hotel California,” jelas Austin.
Jadi ya, secara teknis memang ada hubungannya.
Di penghujung wawancara, kami melempar quickfire questions.
Lagu Swim Deep paling emosional versi Austin?
‘How Many Love Songs Have Died in Vegas?’
Versi Joshua?
‘These Words’.
Sedangkan James memilih lagu baru mereka, ‘Lift Me Up’, yang direkam live dalam satu take demi menjaga rasa intimnya tetap utuh.
Tiga kata untuk Birmingham?
Austin menjawab cepat: “Vibrant. Spicy. Teenage.”
Dan jawaban paling lucu datang saat ditanya komentar paling aneh dari fans.
“Aku suka album pertama kalian, tapi nggak suka album kedua,” kata Austin sambil tertawa. “Mereka kadang terlalu jujur. Brutally honest.”
Sebelum wawancara berakhir, Austin meninggalkan satu pesan sederhana untuk pendengar:
“Masuk ke kamar kalian. Pakai headphone. Pergi berkendara. Nyalakan speaker. Taruh ponsel kalian sebentar dan dengarkan album ini dengan keras.”
Album kelima Swim Deep, “Hum”, akan dirilis 19 Juni mendatang.
Dan jika percakapan ini memberi sedikit petunjuk, rasanya ini bukan sekadar album tentang nostalgia masa muda.
Tapi tentang bagaimana rasanya tumbuh dewasa, tanpa kehilangan mimpi yang dulu membuatmu mulai bermain musik.
Simak video interview selengkapnya bersama Swim Deep berikut ini: