Quantcast

Louis Tomlinson vs Zayn Malik dan Drama Kehidupan Directioners

By - 2 years ago in Random

Mimpi apa saya kemarin siang? Setelah ber-hibernasi (baca: tidur) siang, mata menolak redup di malam hari, menuju peraduan (baca: tidur lagi), ranah linimasa (twitter) saya lahap perlahan-lahan. Dan kantuk pun benar-benar hilang setelah melihat dua idola remaja terlibat pertengkaran di linimasa. Personil One Direction, Louis Tomlinson yang memang memiliki bakat komentar pedas melalui akun pribadinya @Louis_Tomlinson terlihat bergumul bersama @NaughtyBoyMusic sahabat “baru” Zayn Malik sang mantan personil One Direction. Oh, tenang, saya tak akan membahas detail pertengkaran mereka bertiga yang telah diberitakan disini.

Mungkin tengah malam tadi, sebuah grup aplikasi berbagi-pesan (chat) mendadak heboh karena kejadian tersebut. Tak disangka seorang admin fanbase One Direction ditelpon mendadak oleh salah seorang co-admin hanya untuk segera meng-update status melalui akun fanbase yang mereka kelola. Atau di pagi hari, menjelang kelas dimulai, seorang teman sibuk bercerita bagaimana pertengkaran Louis, Zayn, dan Naughty Boy tadi malam.

“Tau ga sih lo, komentarnya Zayn? Padahal Louis kan no-mention, trus ngapain si Naughty Boy malah nyamber twit-nya. Dan yang paling parah, Zayn langsung reply ke Louis! Parah bangettt!!”

Dengan semangat 45 seperti saat Bung Tomo membakar semangat pemuda-pemudi kota Surabaya melawan penjajah, teman tersebut bercerita, menarik perhatian beberapa orang lainnya. Bisa saja dua diantaranya hanya karena mendengar nama Zayn disebut, atau anak laki-laki yang mendengar nama “Luis” disebut karena malam tadi melewatkan pertandingan sepakbola antara Bayern Muenchen vs Barcelona (dia mengira Luis yang dimaksud adalah Luis Suarez).

Bagaimana tanggapan siswi yang diajak pertama kali bercerita oleh directioners garis-keras tadi? Dia setengah mengantuk, sedikit terkejut, tapi dari raut wajahnya ia tampak lelah. Dia bukan tidak menyukai One Direction. Dia termasuk dalam barisan directioners di sekolah menengah atas tersebut dalam sebuah aksi “mengutuk keluarnya Zayn Malik dari One Direction dalam beberapa saat sebelum konser di Jakarta” 2 bulan lalu. Dia memang tidak termasuk fundamentalis (garis-keras) yang menyayat lengannya dengan silet demi mengukir nama Zayn Malik. Dia hanya kesal setelah menabung cukup lama demi menonton konser One Direction, alih-alih menonton 5 orang laki-laki berparas rupawan dan lagu menawan, mendadak ia hanya akan menonton 4 orang saja. Hitungan yang logis, matematis, dan ekonomis tentunya.

Lalu kenapa ia terlihat biasa saja? Raut muka itu sempat kaget, lalu sedikit kesal. Usut punya usut, ia kesal karena melewatkan berita itu, padahal ia masih bangun hingga pukul 2 dinihari. Ia tak sempat membuka telepon-pintar malam itu. Dan sayangnya ia juga tak tergabung dengan grup chat directioners di sekolahnya karena sang admin (yang sudah kelas 3) masih belum sempat untuk mengundang. Malam itu ia berkutat dengan tugas Biologi, pelajaran yang memang ia sukai. Meski tugas kelompok, namun ia mengambil inisiatif untuk mengambil alih tugas tersebut setelah pertemuan pertama kelompoknya di salah satu gerai kopi ternama (baca: Starbucks) berakhir dengan ajang berbagi foto Brooklyn Beckham. Ia pun tak bisa menolak diri saat itu, bahkan ikut berargumen bahwa Brooklyn adalah hasil produk biologis dengan persilangan gen-gen sempurna, sang ayah David Beckham, dan sang bunda Victoria Beckham.

Ada apa dengan cerita diatas? Saya yang dibesarkan dengan keadaan teknologi tidak secepat sekarang pun sempat ternganga dengan kejadian semalam. Dalam hitungan menit, beberapa media internasional memberitakan adu argumen 3 musisi tersebut. Oh, saya mengakui mereka adalah musisi masa kini dengan basis penggemar yang besar. Ada media yang bahkan memojokkan salah satu pihak, dan bahkan ada yang menyerang pihak lainnya. Intinya, semua bertepuk bahagia atas drama yang ada.

Zayn, langkah beranimu untuk mundur dengan mendadak dari grup yang membesarkan namamu sangat membekas di ingatan penggemar setia sepertinya. Ia selalu terpojok sebagai pengkhianat yang layak untuk dicela. Ia toh tetap didukung oleh sebagian penggemar One Direction yang meski tak rela namun berupaya ikhlas. Bisa juga ditemukan pendapat yang justru memojokkan pihak manajemen One Direction atas keluarnya Zayn. Eksploitasi tiada henti ditandai dengan 2 album tahun lalu, promo film dokumenter, tur dunia tanpa jeda menjadi bukti. Jenuh, lelah, bisa saja.

Saya tak berusaha untuk mendukung salah satunya. Karena dulu saat saya menggemari Westlife, tak ada gegap gempita seperti tadi malam saya rasakan saat Brian McFadden memilih untuk keluar dari boyband tersebut pada Maret 2004. Satu-satunya teknologi yang saya rasakan saat itu adalah telepon-rumah. Saat MTV masih jaya dan menjadi satu-satunya media alternatif (belum ada youtube yang memungkinkan kita menonton apa saja dan kapan saja), maka seketika menyaksikan video klip terbaru dari band pujaan akan diiringi aksi menghubungi teman-teman dekat via telepon-rumah sebagai salah satu cara berbagi, agar esok di sekolah bisa membahas video klip tersebut bersama-sama. Karena jika hanya menonton sendiri, sementara teman yang lain melewatkannya, tentu tak ada gunanya saat itu kan?

Kini directioners membuktikan mereka adalah salah satu bukti bagaimana kemajuan teknologi dapat menunjang dukungan dan popularitas sang musisi pujaan. Tidak bisa ditolak, generasi directioners akan memegang peranan penting dalam perilaku konsumen musik beberapa tahun ke depan. Berlebihan? Tidak juga, generasi yang saya maksud tidak terbatas pada mereka yang menjadi penggemarnya saja, tapi semua remaja seumuran, termasuk ia yang mengerjakan tugas Biologi hingga larut malam tadi.

Tulisan ini tidak bermaksud untuk terlalu serius, karena saya sendiri menghabiskan waktu malam di gerai junkfood dengan harapan “perut kenyang” akan membawa saya kembali menuju lelapnya tidur sebelum kembali beraktifitas di pagi hari. Lagipula saya sempat membayangkan hiruk pikuk yang terjadi bisa saja usai dengan tiba-tiba jika Louis berkicau melalui akunnya seperti gambar dibawah ini 🙂

Noverdy Putra
@Verd_
CreativeDisc Contributor

Baperians, meta-fetcher, pelahap segala, kecuali mantan.

Comments

Leave a Reply

Related Articles

Creative Disc Exclusive Single | July 24, 2017 By

Creative Disc Exclusive Single: 24 July

Music News | July 21, 2017 By

Louis Tomlinson Hadirkan Pop Melankolis Dalam Duetnya Bersama Bebe Rexha, ‘Back To You’

Music News | July 18, 2017 By

Louis Tomlinson Bergabung Dengan Epic Records Untuk Karir Solonya