Trending News

Blog Post

Sharon Corr & Rick Price bersama di IRREPLACEABLE Concert Yovie Widianto
Concerts Review

Sharon Corr & Rick Price bersama di IRREPLACEABLE Concert Yovie Widianto 

Sesaat ketika Yovie Widianto memainkan track Untukku dari Almarhum Chrisye, seluruh penonton di JCC sontak melantun bersama. Tanpa aba-aba, hanya diiringi suara piano yang terasa membius. Inilah gegap yang ditampilkan oleh Yovie, bahwa memang semua orang familiar dengan karyanya. Karya yang kemudian dinikmati dalam konser bertajuk Irreplaceable, perjalanan Takkan Terganti 30 tahun karir seorang maestro musik kebanggaan Indonesia.

Melihat kebelakang ranah pop Indonesia tidak bisa dipungkiri kita akan menemukan jejak musik Yovie Widianto dimana-mana. Hitungan 27 tahun bersama grup musik Kahitna bukan menunjukkan angka sembarangan. Belum lagi dengan banyaknya solois yang membawakan lagu-lagu yang menjadi hits. Sebagian artis itulah yang turut meramaikan aransemen konser yang terbilang berani dan berbeda.

Sebut saja Marcell, Andien, Rio Febrian, Raisa, Alexa, R.A.N, The Nuno, 5 Romeo sukses menggalaukan gedung JCC dengan durasi konser mencapai 3 ½ jam dan rundown 30 lagu. Apakah cukup? Yovie juga menghadirkan gimmick yang tidak kalah seru. Sebut saja Sharon Corr, Rick Price dan Angela. Artis debutan youtube yang berasal dari Belanda. Merekalah penyebab koor massal tidak pernah berhenti terdengar selama acara berlangsung. Siapa yang bisa menolak ikut bernyanyi dengan memori yang ikut keluar?

Story telling yang menjadi kekuatan sang motor penggerak Kahitna tersebut juga ikut terasa dalam pemilihan set list yang apik. Setelah Mario Ginanjar membuka dengan Terlalu Cinta, kehadiran Marcell menjadi sensasi tersendiri. Ketika aransemen jazz mulai mengalun, dengan nada-nada tinggi dan diiringi dengan saxophone, menjadi semacam penyegar. Bahwa memang kualitas Yovie tidak hanya menciptakan lagu-lagu galau nan sendu. Tapi aroma semangat itu hilang kembali ketika Peri Cinta mulai dinyanyikan. Emosi penonton pun seperti mempunyai rollercoaster sendiri.

Konsep ini kemudian berlanjut ketika Rio Febrian hadir dengan lagu Bukan Untukku. Apa kesamaan yang bisa dirasakan sejak awal konser kemudian tergambar dengan jelas. Bahwa komposisi Yovie selalu terdengar megah, dengan nada-nada yang familiar dan cepat hinggap di kepala. Setelah refrain pertama track yang mengenalkan Rio Febrian ke musik Indonesia, konsep full band berubah dengan cepat. Mendominasi dan mengiringi suara khas permainan piano Yovie.

Komposisi inilah yang menjadikan banyak track-track berikutnya menjadi memorable. Seperti tajuk konser, siapakah yang bisa menggantikan seorang maestro kenamaan? Dalam sebuah sesi chitchat di panggung, Yovie pun mengakui bahwa dia merasa bertanggung jawab untuk mengenalkan komposisi musik yang lebih berbobot kepada publik Indonesia. Pernyataan ini dilanjutkan dengan tepuk tangan yang panjang dari penonton, mengiyakan hal tersebut ketika track Andai Dia Tahu dan Surat Cinta dilantunkan oleh kelompok R.A.N.

Melihat R.A.N, 5 Romeo, membuat semua orang percaya pada kualitas dan tangan dingin Yovie dalam memproduksi sebuah karya. Tidak setengah-setengah dan karyanya akan selalu enak didengarkan kapan saja. Rentang usia inilah yang seolah menjadi magnet bagi para pendatang baru, bahwa generasi dari Kahitna, kemudian Yovie and The Nuno merupakan sebuah catatan perjalanan panjang. Mengindikasikan bahwa musiknya bisa diterima oleh banyak kalangan.

Ketika panggung didominasi oleh para penyanyi pria, maka kehadiran Andien dan Raisa tidak bisa dianggap enteng. Kedua penyanyi dengan range vokal yang berbeda ini menyanyikan track-track yang tidak asing lagi seperti Kekasih Sejati, dan Mantan Terindah. Beberapa kali terdengar bahwa aransemen konser kali ini juga ingin mendobrak zona nyaman Yovie, seperti versi rock dari Surat Cinta yang dibawakan oleh Alexa, maupun track Cukup Sudah yang dulu dipopulerkan oleh Glenn Fredly cukup membuat hentakan semangat dan komposisi yang mengagumkan.

Maklum saja, ketika membayangkan durasi 3 jam lebih konser akan diisi oleh parade lagu galau mungkin semua orang pun mungkin akan eneg. Tetapi sisipan komposisi yang berbeda tetap terasa berbobot, termasuk episode medley beberapa lagu seperti Tidak Setampan Romeo, Janji Suci, Tidak Sebebas Merpati dan Menikah denganku yang dibawakan dengan apik oleh semua grup vokal asuhan Yovie, termasuk Kahitna tentu saja.

Melepaskan nama Kahitna tentu saja bukan hal yang sembarangan. Bahkan menurut cerita Hedy Yunus, bahwa memang mereka adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Set list yang menempatkan Kahitna di tengah acara terasa tepat. Seolah menjembatani seluruh produksi yang dihadirkan. Inilah salah satu momen yang mengharukan, ketika suasana akrab begitu lekat terasa. Bahwa Yovie Widianto merasa beruntung menemukan teman-teman yang tepat untuk berkarir dalam musik.

Ketika sesi tantangan yang diajukan oleh Mario Ginanjar dan Hedy Yunus dilakukan, suasana JCC menjadi lebih semarak. Yovie ditantang untuk membuat sebuah lagu saat itu juga, bermodalkan 3 nada dan 3 kata yang dipilih dari deretan penonton. Ketika jeda 5 menit yang diberikan selesai, lagu tersebut langsung dibawakan oleh Rio Febrian berduet bersama Marcell. Hasilnya? Rasanya lagu tersebut tidak akan lama lagi akan dirilis sebagai single.

Gimmick-gimmick seperti inilah yang membuat karya Yovie akan terasa everlasting. Tastenya dalam menggubah lagu sudah tidak perlu diragukan lagi. Termasuk pula insting dalam mencari musisi berbakat. 5 Romeo adalah vokal group yang dibentuknya melalui audisi dan mempunyai koleksi vokal baritone dan tenor yang tidak perlu diragukan. Adalah Angela Nazal yang kemudian dibawanya dari Belanda, dan terbukti sense Yovie tidak salah. Vokal Angela yang kuat dan penuh penghayatan bisa dengan segera mencuri penikmat musik di Indonesia.

Bukan hanya Angela saja yang meramaikan konser “Takkan Terganti” persembahan Berlian Entertainment. Ketika intro Lough Erin Shore mengalun, saatnya Sharon Corr mencuri perhatian. Kenapa Sharon? Yovie mengatakan bahwa Sharon memiliki kemampuan yang sangat sempurna dalam bermain biola. Dia juga menciptakan dan membawakan lagu-lagunya sendiri. Kemiripan inilah yang membuat Sharon terpilih untuk hadir dalam konser. Track So Young dan Radio dari The Corrs dibawakan dengan sempurna. Letupan ekspresi penonton yang hadir bisa dikatakan membawa sensasi tersendiri. Ketika Andien menemani Sharon bernyanyi Together We’ll Shine, sebuah lagu gubahan Yovie yang menjadi soundtrack Sea Games, kualitas internasional yang sangat membanggakan.

Tidak lupa Rick Price juga hadir di penghujung acara, melanjutkan kerjasama mereka setelah tur di 5 kota tahun lalu. Bersama Kahitna, Rick Price memamerkan kemampuannya dalam melafalkan bahasa Indonesia, lalu setelah itu barulah track Heaven Knows dilantunkan dan koor massal kembali terdengar. Kualitas vokal Rick Price sangat mengagumkan. Dengan tepat, nada-nada tinggi dan vokal tebalnya beberapa kali dipamerkan dan dilantunkan dengan tepat. Jadilah sebuah paduan suara yang tiada henti.

Dedikasi 30 tahun bukan waktu yang sedikit dan memberikan gambaran bahwa talenta dan taste musik Yovie tidak main-main. Yovie Widianto berujar bahwa jangan menganggap enteng musik pop, karena komposisinya lebih rumit dan ada nada-nada repetitif yang harus diingat. Belum lagi dengan kualitas lirik yang juga tidak kacangan. Terbukti dengan semua lagu gubahannya yang selalu mudah dicerna.
Kehadiran duet ataupun kolaborasi, seperti Hedi Yunus dan Rio Febrian, atapun ketika Raisa, Andien, Marcell dan Mario Ginanjar membawakan track Takkan Terganti, menunjukkan sifat elastis dari musik Yovie. Yang bisa menggubah lagu dan menyesuaikan dengan range penyanyi yang memiliki tipologi vokal yang berbagai jauh. Siapa yang bisa menyamainya? Rasanya belum ada yang bisa. Maestro musik itu masih berada di tangan Yovie Widianto, dan semua karya-karyanya yang Irreplaceable.

(iQko / CreativeDisc Contributors)
Photo by Budi Susanto
Thanks to Promotors Berlian Entertainment & Image Dynamics

Related posts

Leave a Reply