Trending News

Blog Post

CreativeDisc Exclusive Interview with Ramengvrl: Album “Can’t Speak English” Menunjukkan Jati Dirinya
CREDIT: JUNI RECORDS/Ejja Pahlevi
Artist Interviews

CreativeDisc Exclusive Interview with Ramengvrl: Album “Can’t Speak English” Menunjukkan Jati Dirinya 

Ramengvrl baru saja merilis album debutnya, “Can’t Speak English”. Album yang disebut sebagai ‘best version of Ramengvrl’ ini dirilis pada hari Jumat, 20 November lalu. Creativedisc mendapat kesempatan untuk wawancara bersama Ramengvrl di hari perilisan album ini melalui ZOOM.

Album ini menyusul mixtape “No Bethany” yang rilis pada tahun 2019 lalu. “Sebenarnya album sudah direkam dari Agustus tahun lalu di US. Tapi akhirnya baru dirilis bulan November. Kenapa perlu waktu begitu lama? Pertama, Corona. Kedua, karena deal album ini bersama Empire – perusahaan label Amerika, jadi waktu perilisan mau nggak mau ngikutin US juga. Jadi kena Black Lives Matter, terus pemilihan presiden, jadi baru dirilis sekarang,” cerita Ramen. “And it release with a bang!”

“Can’t Speak English” bisa dibilang adalah rasa ‘dewasa’ Ramengvrl. “Pendewasaan bukan cuma teknik atau skill, tapi lewat album ini gue lebih pede untuk menunjukkan siapa sih Ramengvrl yang sebenarnya – This is the Real Ramengvrl,” ceritanya. Memang benar, Album “Can’t Speak English” ini berasa lebih jujur dan real. Misalnya di track ‘Go get the B’, yang menceritakan tentang haters, dimana harus cuek, tapi kita juga jangan bodoh-bodoh amat. Atau ‘The Emo Song’ yang cukup unik karena Ramen membuat lagu dengan beat yang ‘beda’ dan spesialnya saat itu Ramen lagi ‘depresi’. “Semua ngalir aja gitu.. gue ga ada yang dipikirin, ga ada tekanan, jadi semua keluar begitu aja,” cerita Ramen, yang lebih memilih sendirian dalam menulis lagu.

Ketika ditanya awalnya Ramengvrl suka dengan genre musik ini, lucunya, ternyata Ramen waktu kecil menganggap genre ‘rap’ itu cukup mengganggu. “Ironisnya, gue menganggep rap itu menganggu melodi lagu”, ceritanya. Sampai waktu SMA, Ramen mulai dengerin Kanye West, Black Eyed Peas. “Perkenalan itu yang membuat gue berpikir hmmm.. ini bagus ya.., akhirnya ada (rap) yang masuk di kuping gue,” dari situlah efek snowball-nya muncul. Sampai Ramengvrl membuat “I’m Da Man” (2016), atau “Cashmere” (2018), yang sempat memenangkan AMI Awards untuk Karya Produksi R&B/HipHop Terbaik.

Dari situ, sempat ada julukan ‘Ramengvrl the next female rapper in Indonesia’. Ramen mungkin sempat merasa terbebani dengan predikat itu, karena dia juga masih ‘baru’ di dunia HipHop. “Karena hip hop di manapun, terutama di Indonesia yang didominasi para cowok, rapper cewek bisa dihitung jari. Jadi cewek rapper, bisa dipuji banget atau tapi bisa flop banget juga. Dan bukan cuma skill atau lagu nya, tapi juga look (tampang) nya. Jadi itu merupakan sebuah tekanan, tapi sekaligus sebuah berkah karena ketika lo menjadi ‘satu-satunya cewek di ruangan’, lo akan diperhatikan.”

Sebelumnya, di awal PSBB Jakarta, Ramengvrl juga sempat merilis lagu ‘Quarantine & Chill’. Yah, Ramen juga cukup maksimal dalam menjalani karantina, dan dia tidak keluar rumah dari Maret-Agustus. Ramen mengaku kalau dia cukup ‘rumahan’, dan beruntung dengan internet dan perlengkapan rekaman yang ada di rumahnya, dia jadi tidak mati gaya, dan sesuai dengan lagunya, ‘Quarantine and chill’.

Yuk simak interview kita bersama Ramengvrl disini:

Dengarkan album “Can’t Speak English” di Spotify:

Interview & Teks by Danie Cung
Video Edit by: Dundhee Yuwono

Related posts