“Jujur loh sampai detik ini, kami gak tahu kenapa sih orang-orang di penjuru dunia bisa tahu bahkan sampai hapal dari awal sampai akhir lagu kami sampai kami berpikir ‘ini orang-orang tahu lagu kami dari mana aja ya.’”, ungkap Ikkyu Nakajima yang merupakan vokalis dan gitaris dari grup math rock dan indie rock paling panas di Asia bernama tricot.
Pada awalnya tricot terbentuk dari persahabatan tiga orang sahabat dari Kyoto, Jepang di tahun 2010. Nama mereka awalnya hanya populer di skena indie rock Jepang tetapi berkat internet lagu-lagu mereka langsung dinikmati oleh berbagai macam orang di seluruh dunia dan mereka mendapatkan sesuatu yang jarang didapat oleh sebuah band Jepang.
Baik pendengar maupun kritikus musik sepakat bahwa tricot adalah band dengan kemampuan yang mumpuni dan menjadi pintu gerbang pendengar musik untuk naik derajat dalam mendengarkan musik. Ini semua terjadi berkat kepiawaian mereka menggabungkan kekompleksan musik math rock dengan hook maut musik pop menjadikan tricot sebuah band hibrida yang selalu ditunggu di setiap rilisannya. Pokoknya apa yang dibuat oleh tricot maupun personilnya benar-benar membawa rasa baru untuk telinga (bahkan mampu mengedukasi pecinta anime fuwa fuwa yang kental dengan unsur moe dan gadis imutnya seperti Bocchi the Rock lewat lagu yang diciptakan oleh sang vokalis).
Setelah mengalami bongkar pasang personil akhirnya mereka sekarang berisi Ikkyu Nakajima (vokal, gitar), Motifour Kida (gitar), Hiromi Hirohiro (bass), dan Yusuke Yoshida (drum) dan siap merilis album ketujuh mereka berjudul “Fudeki” yang artinya “pekerjaan/sesuatu yang jelek” dan menjadi album lanjutan mereka “Joudeki” (kerja/sesuatu yang bagus) yang dirilis tahun lalu. Penamaan album ketujuh mereka sudah sangat sesuai dengan musik yang ditawarkan, “Fudeki” banyak berisi nomor eksperimental dan noise yang bisa membuat telinga pendengarnya merasa terganggu dengan racikan experimental rock yang mereka sajikan. “Justru pada album ‘Fudeki’ sendiri jiwa tricot yang sebenarnya keluar. Di album ini kami benar-benar bermain sangat lepas dan suka-suka tanpa ada batasan apapun.”, kata Motifour sang gitaris.
Album “Fudeki” seolah menjadi sebuah representasi unik kematangan mereka dalam bermusik. Semakin karir musik mereka bertambah dan naik derajat mereka semakin suka-suka dalam menentukan arah musiknya, tidak ada lagi tuntutan musik tricot akan dibawakan seperti apa. Lagipula mereka juga sudah mendapatkan banyak torehan yang band Jepang lainnya susah untuk diraih terlebih lagi untuk genre math rock. Lagu untuk dorama sudah sering mereka bawakan, penggemar dari luar negeri sudah berhasil mereka kumpulkan, tur mereka di Eropa banyak yang habis tiketnya, menjadi pembuka untuk band indie rock legendaris Pixies juga sudah bahkan sampai Ikkyu Nakajima menjadi vokalis band lain yang isinya artis beken Jepang bernama Genie High juga sudah. Ketika semua pencapaian itu berhasil mereka dapatkan setelah berkarir selama 10 tahun lebih sudah tiba waktunya memang untuk mereka bersenang-senang tanpa mempedulikan apa kata orang lain.
Simak wawancara eksklusif Creativedisc bersama tricot dimana kami bercerita soal karir musik mereka, album “Fudeki”, kecintaan kami akan band Jepang bernama Number Girl, cerita tur Eropa mereka dan berbagai macam cerita musikalitas dari tricot lewat video wawancara di bawah ini:
Dengarkan album baru tricot “Fudeki” berikut ini: