CREATIVEDISC.COM – JAKARTA – Musisi pop Denmark Maximillian mungkin pertama kali masuk ke radar banyak pendengar global lewat Beautiful Scars’ lagu emosional yang diam-diam tumbuh menjadi fenomena streaming lintas negara. Pada 2020, Maximillian merilis album debut “Still Alive”, sebuah proyek yang memperkenalkan gaya songwriting rapuh dan emosional yang kemudian menjadi identitas musiknya. Hanya berselang setahun, ia kembali lewat album kedua “Too Young” (2021), menandakan produktivitas tinggi di fase awal kariernya.
Hingga akhirnya, pada 15 Mei 2026, Maximillian kembali lewat album ketiga “I’m Fine”, sebuah proyek yang terasa jauh lebih personal, matang, dan secara emosional mungkin menjadi karya paling terbuka dalam diskografinya sejauh ini.
Dengan lebih dari 800 juta streaming global, ratusan ribu pengikut di YouTube dan TikTok, serta audiens kuat di Asia Tenggara hingga Eropa, Maximillian kini berada di titik karier di mana ia tidak lagi sekadar menulis lagu patah hati. Di “I’m Fine”, ia terdengar seperti seseorang yang sedang mencoba memahami dirinya sendiri.
Keputusan paling menarik dalam album ini mungkin justru terletak pada sequencing-nya.
Alih-alih meletakkan title track di awal sebagai pembuka cerita, Maximillian sengaja menyimpan ‘I’m Fine’ di posisi paling akhir track ke-13.
Ternyata keputusan itu sangat disengaja.
Menurutnya, ‘I’m Fine’ adalah lagu pertama yang ia tulis untuk proyek ini sekaligus lagu yang memicu keseluruhan ide album.
“It was actually the first song I wrote. That’s what made me want to make this album,” jelasnya.
Namun ia tidak ingin lagu itu hadir sebagai pengantar. Sebaliknya, ia ingin menjadikannya klimaks emosional dari keseluruhan perjalanan album.
“All the songs lead to this point… when things become too much and you feel stressed,” katanya.
Mendengar album secara utuh membuat keputusan itu terasa masuk akal. Dari lagu ke lagu, emosi perlahan menumpuk sebelum akhirnya meledak di ‘I’m Fine’ sebuah lagu yang dibuat terasa sengaja tidak nyaman, seolah pendengar diajak ikut merasakan sesak panic attack secara perlahan.
Ada alasan kenapa judul album ini terasa begitu familiar.
Karena hampir semua orang pernah mengucapkannya. I’m fine.
Kalimat singkat yang terdengar aman sering kali diucapkan bahkan ketika seseorang sedang tidak baik-baik saja.
Bagi Maximillian, frasa itu punya makna sangat personal. Album ini lahir dari pengalaman menghadapi kecemasan, panic attack, dan kelelahan emosional yang sempat membentuk beberapa tahun hidupnya.
Ia bercerita bagaimana orang-orang sering bertanya apakah dirinya baik-baik saja, dan hampir otomatis ia menjawab iya meski kenyataannya tidak.
“Someone would ask me, ‘Are you okay?’ and I’d just say, ‘Yeah, I’m fine.’ But I really wasn’t,” ujarnya.
Dari situlah album ini mulai menemukan bentuknya: eksplorasi tentang kontras antara penampilan luar dan realitas batin seseorang.
Tentang bagaimana orang bisa terlihat tenang, tetap tersenyum, tetap produktif sambil diam-diam sedang berjuang menghadapi sesuatu yang tidak terlihat orang lain.
Album pertama dan kedua hanya terpaut satu tahun, tetapi proyek ketiga ini datang jauh lebih lambat. Ternyata, menurut Maximillian, masa itu bukan periode vakum sepenuhnya.
“I’ve been writing music like crazy for the last five years,” ungkapnya saat berbincang.
Ia menjelaskan bahwa proses album sebenarnya sudah berjalan selama beberapa tahun. Ada banyak hal personal yang terjadi di balik layar, ditambah keinginan untuk memastikan album ini benar-benar terasa tepat sebelum dirilis ke publik.
Alih-alih buru-buru mengejar momentum setelah kesuksesan ‘Beautiful Scars’, Maximillian memilih mengambil waktu lebih panjang untuk membangun sesuatu yang terasa utuh.
“I wanted to make sure the album was magnifique,” katanya sambil tertawa.
Dan memang, I’m Fine terasa berbeda. Lebih rapi secara emosional, lebih konseptual, tetapi tanpa kehilangan sisi relatable yang selama ini membuat musiknya dekat dengan banyak pendengar.
Nuansa emosional itu kemudian diterjemahkan ke dalam visual.
Video musik ‘I’m Fine’ hadir dalam format one take, tanpa potongan gambar agresif atau distraksi visual berlebihan. Kamera bergerak terus menerus, menciptakan kesan intim sekaligus claustrophobic.
Menurut Maximillian, konsep tersebut dibuat untuk menangkap rasa terjebak di pikiran sendiri.
“We were trying to capture the feeling of being trapped inside your own mind,” jelasnya.
Dalam video tersebut, ia tampak tetap tersenyum meski berada dalam situasi yang terasa tidak nyaman, simbol kecil namun efektif tentang bagaimana seseorang bisa tampak “baik-baik saja” dari luar sambil sebenarnya berjuang keras di dalam dirinya sendiri.
Meski berangkat dari pengalaman panic attack dan kecemasan, “I’m Fine” tidak berjalan dalam satu emosi saja.
Album ini terasa seperti naik turun hidup itu sendiri.
Ketika ditanya lagu paling personal, Maximillian tanpa ragu memilih ‘I’m Fine’. Wajar, karena lagu itu lahir langsung dari pengalaman pribadinya.
Namun di luar title track, album ini juga punya banyak warna lain.
Ada ‘Day & Night’ salah satu lagu paling hangat dalam album, yang menurut kami terdengar sempurna untuk perjalanan sore sambil menikmati sunset.
Lucunya, Maximillian langsung setuju.
“Exactly,” jawabnya sambil tertawa.
Sulit membahas Maximillian tanpa menyebut ‘Beautiful Scars’.
Lagu tersebut bukan hanya sukses secara angka, tapi juga membentuk hubungan emosional yang sangat kuat dengan pendengarnya di berbagai negara.
Namun apakah ia pernah menyangka lagu itu akan sebesar sekarang?
Jawabannya sederhana: tidak.
Menurut Maximillian, lagu itu ditulis tanpa ekspektasi apa pun. Ia hanya mencoba memahami hidup dan menerima semua keputusan baik maupun buruk yang membawanya sampai di titik sekarang.
“Every decision I’ve made brought me here,” ujarnya.
Dan mungkin karena lahir dari kejujuran itulah “Beautiful Scars” terasa begitu dekat bagi banyak orang.
Satu-satunya kolaborasi di album ini datang lewat ‘Lifetimes Away’ bersama Medina.
Bagi banyak orang, Medina mungkin dikenal lewat keterlibatannya di remix ‘Clarity’ milik Zedd. Tapi bagi Maximillian, ia lebih dari itu.
“Dia ikon pop Denmark,” katanya.
Tumbuh besar dengan lagu-lagu Medina, bisa berbagi lagu bersama sang idola terasa seperti mimpi masa kecil yang akhirnya kejadian.
Lagu itu ditulis terlebih dahulu sebelum akhirnya ditawarkan ke Medina dan saat ia setuju untuk ikut bernyanyi, rasanya sangat spesial bagi Maximillian.
Menariknya, ketika ditanya apakah ia tertarik berkolaborasi dengan musisi Asia bahkan Indonesia, jawabannya terdengar sangat terbuka.
Kalau koneksinya terasa pas, kenapa tidak?
Kami anggap itu kode kecil.
Momen paling ringan dalam wawancara datang ketika kami iseng bilang satu hal yang mungkin juga pernah dipikirkan banyak pendengar:
“Max, pernah nggak sih kamu dibilang mirip Lauv?”
Alih-alih awkward, Maximillian justru tertawa.
“It’s a compliment,” jawabnya cepat.
Ternyata, Lauv memang menjadi salah satu pengaruh penting dalam perjalanan musikalnya. Ia mengaku banyak terinspirasi dari cara Lauv membangun melodi dan pendekatan songwriting pop emosional.
Jadi kalau selama ini ada yang merasa vibe musik mereka sedikit mirip, ternyata bukan cuma perasaan.
Pada akhirnya, “I’m Fine” bukan album yang mencoba mengulang formula ‘Beautiful Scars’.
Justru sebaliknya, ini terasa seperti karya seorang musisi yang akhirnya berhenti mencoba terlihat kuat sepanjang waktu.
Maximillian kembali dengan sesuatu yang lebih rapuh, lebih reflektif, dan mungkin paling manusiawi.
Sebuah album tentang bagaimana kadang kita berkata “aku baik-baik saja” hanya agar percakapan cepat selesai.
Padahal kenyataannya, kita masih sedang berusaha bertahan.
Dan mungkin, di situlah “I’m Fine” terasa paling jujur.
Simak interview selengkapnya bersama Maximillian berikut ini: