CREATIVEDISC.COM – JAKARTA – Kalau kamu mengikuti skena indie pop dalam beberapa tahun terakhir, nama Rocco mungkin sudah tidak asing lagi. Musisi berdarah Filipina-Amerika ini perlahan membangun identitasnya lewat bedroom pop yang hangat, produksi sinematik, serta lirik-lirik yang terasa sangat personal. Musiknya bahkan berhasil menjangkau pendengar di berbagai negara Asia, termasuk Indonesia.
Kini, Rocco memulai fase baru dalam kariernya melalui single terbaru bertajuk ‘Break’, lagu yang sekaligus menjadi pembuka untuk EP terbarunya. Dalam wawancara eksklusif bersama CreativeDisc, ia berbagi cerita tentang akar budayanya, proses menemukan kembali kreativitas, hingga makna di balik sosok misterius bernama Lucy.
Lahir di Kazan City, Rocco pindah ke Amerika Serikat saat usianya baru tiga tahun. Ia menghabiskan masa kecilnya di New Jersey, lingkungan yang nyaris tidak memiliki komunitas Filipina.
“Di luar keluarga, aku hampir tidak punya lingkungan orang Filipina,” ujarnya.
Justru internet yang kemudian membantunya kembali mengenal akar budayanya. Melalui komunitas daring dan berbagai konten tentang Filipina, ia mulai membangun kembali kedekatan dengan identitas yang sempat terasa jauh.
Ia mengaku masih memahami cukup banyak percakapan dalam bahasa Tagalog, meski kemampuan berbicaranya sudah tidak sefasih dulu.
Salah satu ciri khas musik Rocco adalah perpaduan bedroom pop yang intim dengan nuansa alternatif yang terasa luas dan sinematik.
Saat ditanya siapa saja yang membentuk selera bermusiknya, ia menyebut beberapa nama, namun belakangan ini Coldplay menjadi salah satu inspirasi terbesarnya. Selain itu, ia juga banyak terpengaruh oleh Rex Orange County, terutama dalam cara membangun melodi yang sederhana tetapi emosional.
Perpaduan dua dunia itulah yang kemudian melahirkan karakter musik Rocco seperti sekarang: sederhana, tetapi mampu meninggalkan ruang emosional yang besar bagi pendengarnya.
Di balik lahirnya ‘Break’, ternyata ada fase yang cukup berat.
Usai menjalani tur sepanjang tahun lalu, Rocco pulang dengan kondisi mental yang benar-benar kelelahan.
“Aku merasa kehilangan kreativitas,” ceritanya.
Alih-alih memaksakan diri menulis lagu baru, ia memilih berhenti sejenak. Ia menghabiskan waktu untuk beristirahat, mendengarkan kembali musik-musik favoritnya dari era 90-an hingga awal 2000-an, sebelum akhirnya perlahan menemukan kembali arah kreatif yang kemudian melahirkan “Break.”
Hal paling menarik dari wawancara ini mungkin adalah konsep EP terbaru Rocco.
Alih-alih sekadar mengumpulkan beberapa lagu, ia justru lebih dulu menulis sebuah cerita.
Baginya, EP ” A Comedy Romantic (Act. 1)” ini adalah soundtrack dari sebuah film komedi romantis bergaya akhir 90-an atau awal 2000-an yang ia ciptakan sendiri.
“Aku menulis ceritanya dulu, baru kemudian menulis lagu-lagunya,” jelasnya.
Setiap lagu mewakili adegan yang berbeda, sementara video musik dan visual lainnya menjadi bagian dari dunia yang sama.
Tak heran jika ‘Perfect Song to Slow Dance To’ dan ‘Break’ terasa saling terhubung.
EP tersebut rilis pada 24 Juli dan masih akan menghadirkan tiga lagu baru yang melanjutkan kisah tersebut.
Salah satu hal yang paling mengundang rasa penasaran adalah kemunculan sosok perempuan yang sama di berbagai visual Rocco.
Lalu muncul teaser bertajuk ‘The Girl I’m Not Supposed to Get.’
Siapa sebenarnya Lucy?
Menurut Rocco, karakter tersebut memang diperankan oleh aktris Andrea Stoker, tetapi Lucy sendiri bukanlah sosok yang harus dimaknai secara harfiah.
“Semua orang punya Lucy.”
Bagi Rocco, Lucy adalah simbol seseorang yang sulit dilupakan. Sosok yang mungkin tidak lagi bersama kita, tetapi tetap hidup di dalam ingatan.
Dengan kata lain, Lucy bisa menjadi siapa saja.
Mungkin mantan kekasih, mungkin cinta pertama, atau seseorang yang tak pernah benar-benar berhasil dimiliki.
CreativeDisc juga menemukan pola menarik dalam katalog musik Rocco.
Mulai dari ‘Runner Boy’ pada 2020 hingga ‘Running Shoes’ pada 2025, kata “running” terus muncul dalam judul lagunya.
Saat hal itu disinggung, Rocco justru tertawa.
“Wah… risetmu dalam sekali.”
Menurutnya, berlari bukanlah tentang olahraga.
Berlari adalah metafora.
Tentang mengejar sesuatu yang mungkin tidak akan pernah benar-benar bisa kita miliki. Tentang terus bergerak, meski belum tahu apakah tujuan itu benar-benar bisa dicapai.
Dan ternyata, tanpa disadari, metafora itu memang terus muncul dalam lagu-lagunya. Tetapi Rocco berharap bisa berlari bersama nantinya jika mengunjungi Indonesia suatu saat.
Bagi banyak pendengar, EP “Her Favorite Flowers” menjadi titik balik penting dalam perjalanan Rocco. Terlebih lewat lagu ‘Hold Me Never Let Go’ yang kini telah menembus lebih dari 40 juta stream di Spotify.
Menariknya, kesuksesan itu sama sekali bukan sesuatu yang ia rencanakan.
Rocco mengaku saat mengerjakan EP tersebut, ia tidak pernah berpikir tentang angka atau potensi viral.
“Aku hanya ingin membuat musik yang jujur bersama orang-orang yang tepat,” ungkapnya.
Yang lebih menarik lagi, lagu tersebut tidak langsung meledak setelah dirilis. Popularitasnya justru tumbuh perlahan hampir dua tahun kemudian.
Menurutnya, melihat sebuah lagu menemukan pendengarnya secara organik terasa jauh lebih memuaskan dibanding menjadi viral dalam semalam.
Lewat ‘Break’, Rocco bukan sekadar merilis single baru.
Ia sedang membuka pintu menuju sebuah semesta cerita yang lebih besar. Tentang cinta, kehilangan, harapan, dan semua emosi yang sering kali sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Jika “Her Favorite Flowers” berhasil membuat jutaan orang merasa ditemani, maka EP terbarunya tampaknya ingin mengajak pendengar masuk lebih jauh ke dalam sebuah kisah.
Dan jika benar setiap orang memiliki “Lucy”-nya masing-masing, mungkin kita semua akan menemukan sebagian diri kita di dalam lagu-lagu baru Rocco nanti.
Simak interview selengkapnya berikut ini: