CREATIVEDISC.COM – JAKARTA – Di awal karirnya, solois merangkap penulis lagu asal Australia Julia Jacklin sering membuat lagu yang bercerita tentang kekesalannya terhadap mantan, kegalauan hidup dan kisah asmaranya yang dinyanyikan secara brutal serta berbagai kisah bagaimana seseorang berumur 20-an menavigasi hidupnya. Lewat tiga albumnya, Julia rela menelanjangi dirinya sendiri ke telinga pendengarnya lewat lagunya yang personal demi menggapai pendengar sebanyak-banyaknya.
Tetapi telanjang terlalu lama juga bisa menyebabkan masuk angin, jika Julia terlalu sering menceritakan tentang dirinya sendiri pendengar akan bosan dan dia sendiri pun juga tidak nyaman untuk terus menerus terbuka di khalayak umum.
Faktor usia juga membuat dirinya tidak mau telanjang terlalu lama dan album keempatnya “The Gem” yang dibuat di pertengahan umur 30’an merupakan momen yang tepat untuk ia bercerita bukan hanya tentang dirinya sendiri tapi bercerita tentang hubungan antar manusia secara luas, meninggalkan warisan musik, merefleksikan kehidupan dan bertanya kepada Tuhan tentang garis hidup yang sudah ia rencanakan. 10 lagu yang ada di album ini terdengar filosofis dan terdengar berat dari segi tema, namun Julia pandai membungkusnya dengan olahan yang lebih membumi dan homey.
The Gem yang merupakan bar di Melbourne menjadi tempat pertama dalam hidupnya dimana Julia bisa keluar dari zona nyamannya. Bar ini dipilih sebagai tempat Julia merekam semua albumnya agar ia bisa merasa kembali merasakan hidup tanpa kekangan pertama kalinya dan juga keluar dari zona nyamannya. “The Gem” menjadi sebuah titik dimana Julia akhirnya bisa menjadi lebih bijak dan mempertanyakan tentang alam semesta, album ini berbicara keluar bukan ke dalam dirinya sendiri.
Menjadi salah satu rilisan terbaik di 2026, Julia berbagi cerita dengan Luthfi dari CreativeDisc tentang album barunya, menentukan arah hidup di usia 30-an, lagu ‘The Hardest Thing’ yang menjadi salah satu musik video terbaik sepanjang masa, kesamaan kami dalam menonton program musik legendaris dari Australia, dan bagaimana Britney Spears bercerita bebas akan realita hidupnya yang tidak baik-baik saja membuat Julia kecil terkagum-kagum.
‘The Hardest Thing’ adalah salah satu lagu terbaik di tahun ini, karena mampu membangkitkan kenangan melankolis dan musik 90’an dalam waktu yang sama dengan jujur.
Aku menulis lagu ini di dapur. Lagu ini bercerita tentang retaknya sebuah persahabatan yang aku jalani. Menurutku, memang sudah waktunya aja kami harus pisah jalan. Aku ingin lagunya terasa sedih tapi juga ada rasa legowo didalamnya dan bisa memberikan aku kelegaan ketika bernyanyi di atas panggung tanpa menghilangkan unsur rock-nya.
Unsur gitar-nya yang beradu satu sama lain juga menambah melankolia dari lagunya.
Lagu ini punya harmoni yang bagus dan call and response antar instrumennya juga pas. Para anggota band-ku juga membuat lagu ini jadi lebih hidup.
Musik video ‘The Hardest Thing’ adalah salah satu musik video terbaik sepanjang masa yang pernah kulihat karena kamu benar-benar mengembalikan apa artinya musik video di era 90-an. Shot pemandangan Melbourne di sore hari dan ditutup dengan kamu bernyanyi di gedung pencakar langit itu hal yang terbaik.
Terima kasih pujiannya. Aku ingin menggunakan helikopter untuk merekam pemandangan Melbourne dari langit dan bukan drone biar lebih 90-an aja.
Aku menemukanmu dan musik video ‘The Hardest Thing’ dari acara musik video legendaris dari ABC Australia namanya “Rage” dan melihat videomu masuk ke bagian “Featured” aku semakin penasaran dan ketika ditonton ternyata musik dan videonya bagus banget.
Aku sangat senang jika ada orang di luar Australia yang juga menyukai Rage. Aku juga senang Rage masih terus jalan sampai sekarang. Aku berharap Rage tayang terus selamanya karena itu adalah hal yang spesial bagi dunia musik. Rage Rocks!
Sebagai generasi yang tumbuh dari MTV, menonton Rage itu nagih dan di saat yang sama bisa bikin nostalgia. Aku sering begadang karena menyaksikan musik video yang diputar di sana karena aku bisa menemukan musik alternative baru setiap minggunya.
Aku sudah menonton Rage sejak kecil. Waktu SD, aku selalu menontonnya setiap Sabtu pagi dan antusias untuk bangun pagi hanya demi menonton Rage. Rage juga memutar banyak musik lokal, jadi acara itu menjadi sarana yang bagus untuk menemukan band-band lokal, termasuk dari Melbourne. Keren banget.
‘If I Had The Hand Of God’ merupakan lagu yang bercerita tentang mewarisi sesuatu sebagai seorang musisi dan juga cerita tentang musisi yang sering keliling.
Aku mulai menulis lagu itu saat berada di Nashville, ketika sedang libur dari tur dan kebetulan beberapa teman saya ada di sana. Tempatnya terasa aneh. Nashville adalah kota musik, tempat yang hampir pasti dicintai oleh siapa pun yang berprofesi sebagai musisi. Tapi kota ini juga pusat industri musik, dan itu hal yang sangat berbeda dari musik itu sendiri. Meski branding-nya masih ada unsur musiknya, menurutku keduanya sebenarnya terpisah. Saat di sana, aku merasa terlalu tenggelam di pusat industrinya dan sadar betapa pekerjaan sebagai musisi bisa terasa seperti branding yang penuh kepura-puraan. Aku mulai mempertanyakan banyak hal, terutama kenapa aku menghabiskan begitu banyak waktu jauh dari rumah demi bekerja sebagai musisi dan saat itu aku tidak yakin semuanya sepadan. Sekarang, aku tidak terlalu memikirkan hal itu terlalu dalam, tapi pada saat itu aku memang merasa ini bukanlah hal yang baik.
Album “The Gem” dibuat di bar bernama sama di Melbourne yang juga menjadi tempat favoritmu. Kenapa kamu membuat album itu di sana?
Aku benar-benar menikmati bikin album di luar studio rekaman biasa yang biasanya terpencil dan jauh dari dunia luar. Temanku punya studio di sana dan venue musiknya juga keren banget. The Gem itu adalah pub klasik ala Australia banget yang bisa bikin aku nyaman dan bernostalgia. Pas mengerjakan albumnya di The Gem, aku merasa masih berada di tengah-tengah orang dan itu yang gak pernah aku dapatkan ketika ngerekam di studio rekaman tradisional. Rasanya nyaman banget.
Di album ini, sepertinya banyak cerita tentang pemaknaan kehidupan secara luas ketimbang cerita tentang kegalauan diri sendiri.
Seumur hidup, aku sangat terpesona pada diri sendiri, aku ingin menggali semuanya sampai ke dasar demi memahami diriku sendiri sepenuhnya. Seiring bertambahnya usia, aku menyadari bahwa kita tidak akan pernah bisa memahami diri sendiri, bahkan kita tuh tidak sespesial itu. Karena itu, belakangan ini aku tidak lagu terpesona pada pikiranku tapi bukan berarti lagu yang aku sajikan tidak lahir dari pengalaman pribadiku di album ini.
Tapi usia 30-an memang begitu kan. Kita sudah di fase tidak terlalu memikirkan diri sendiri dan memikirkan kehidupan secara luas karena orang yang sudah kita cintai bertambah tua, memikirkan mortalitas, banyak teman yang sudah tiada dan lain sebagainya.
Hidup ternyata lebih rumit dari yang kubayangkan, tapi di saat yang sama juga lebih sederhana. Sekarang aku lebih tertarik pada teman-temanku dan orang-orang di sekitarku. Aku ingin menghabiskan waktu bersama mereka dan mendengarkan mereka, lebih sedikit sendirian dan lebih sedikit membicarakan tentang diri sendiri. Begitulah rasanya masa 30-an bagiku.
Kamu sangat mengidolakan Britney Spears. Bagaimana bisa sosok legenda pop seperti Britney Spears bisa memengaruhi musik kamu yang tentunya jauh berbeda dari musik Britney.
Ceritanya dimulai waktu aku kecil. Aku dulu anak yang sangat pemalu, tapi sangat suka bernyanyi. Aku hanya berani bernyanyi kalau ibuku pergi belanja dan meninggalkanku sendirian di rumah selama 10 menit, dan seluruh 10 menit itu kupakai untuk bernyanyi. Aku tidak pernah mau bernyanyi di depan orang lain. Lalu saat umur 10 tahun, aku menonton dokumenter pendek tentang Britney Spears. Di situ dia sedang belajar vokal, menari, dan akting, dan aku baru tahu ternyata hal seperti itu bisa dilatih. Setelah menonton, aku langsung bilang ke ibuku bahwa aku sudah 10 tahun dan belum melakukan apa-apa dalam hidupku. Aku meminta ibuku memasukkanku ke dalam les vokal. Britney adalah alasan aku mulai belajar menyanyi.
Seiring waktu, aku melihat Britney sebagai penampil yang sangat berdedikasi dan penghibur sejati. Di genre-ku, kami seolah tidak boleh mengaku sebagai seorang penghibur, karena karya kami harus membumi, penuh emosi, dan relate dengan orang banyak. Padahal tugas kami memang menghibur orang. Apa pun yang pernah kulihat darinya, dia selalu memberi 100% dan bekerja sangat keras. Banyak lagunya yang awet sampai sekarang. Meski hidup dalam kontrol dan pengawasan yang ketat, dia tetap bisa menghasilkan musik yang luar biasa sekaligus menjadi seniman visual yang hebat. Semua itu memberiku banyak kepercayaan diri dan menular ke musikku.
Jadi, apa album Britney favoritmu?
Album self titled-nya. “Blackout” juga bagus.
Kekagumanku mendengar album “Blackout” di minggu lalu masih sama ketika aku mendengar album ini ketika berusia 12 tahun.
Britney memang sebagus itu. Untuk seseorang yang berada di bawah perwalian hukum (conservatorship) dia sangat jujur soal pengalamannya. Orang sering bilang dia tidak menulis lagunya sendiri, tapi menurutku kamu harus jadi artis yang sangat baik untuk tahu siapa yang bisa diajak kerjasama dan memilih lagu mana yang akan dibuat. Album itu secara khusus sampai sekarang masih enak didengar dan terdengar sangat inovatif. Dia mungkin pop star yang paling banyak memengaruhi artis pop selanjutnya. Sampai hari ini, tidak akan ada Addison Rae tanpa Britney Spears. Aku suka Addison Rae, dan aku suka caranya memberi penghormatan pada Britney. Dia penerus yang hebat karena sama-sama penari, penampil, dan seniman visual yang bagus. Jadi, GO BRITNEY!!!
Apa yang paling berubah dari caramu tampil di panggung antara usia 20-an dan sekarang?
Di usia 20-an, aku belum benar-benar paham menjadi seorang penghibur. Aku cukup kesulitan menghadapi atensi yang datang kepadaku. Mungkin karena aku orang Australia, budayanya sangat beda dari Amerika. Di sini kami tidak terlalu dituntut untuk tampil heboh dan punya tingkat percaya diri yang tinggi. Padahal tampil percaya diri di panggung itu justru memberi sesuatu untuk penonton, karena menonton orang yang gugup atau malu-malu di atas panggung itu menyebalkan. Aku dulu termasuk yang seperti itu. Aku sering tampil serba nggak enakan.
Dulu, aku merasa percaya diri akan membuat orang membenciku. Sekarang di usia 30-an, aku bilang ke diriku, ‘ya udahlah, aku rockstar ini. Aku akan percaya diri semauku, karena dengan begitu kami semua, aku dan penonton, bisa bersenang-senang.
Bayangkan dirimu di sebuah alternative universe dan kamu bukan seorang musisi. Kamu menjadi apa?
Aku sering memikirkan ini, karena rasanya aku sudah sampai di titik di mana aku tidak terlalu jago melakukan hal lain. Kalau bukan musisi, kurasa hidupku tidak akan terlalu baik, karena aku tidak pandai bekerja untuk orang lain. Mungkin aku akan bekerja untuk diriku sendiri dengan cara tertentu, tapi aku tidak benar-benar menyukai hal lain selain musik, dan aku juga tidak ingin bekerja di industri musik. Jadi mungkin aku akan melakukan sesuatu yang aneh di tempat lain dan tidak punya banyak uang.
Tapi aku sangat suka kehidupan remaja, bahkan bisa dibilang terobsesi dengan itu. Mungkin aku akan jadi guru SMA. Ibu dan saudara perempuanku sama-sama guru, jadi aku memang berasal dari keluarga guru.
Sebagai orang yang dekat dengan Indonesia, ada cerita tentang kunjunganmu ke Indonesia?
Ada, tapi pengalamannya gak enak. Aku pergi bersama sahabatku di sekolah, ibunya, dan ayahku. Perjalanan itu terasa sangat aneh, karena ternyata orang tua kami berdua sedang dekat dan sepertinya berpacaran, tapi tidak memberi tahu kami. Jadi sepanjang liburan itu aku hanya merasa bingung dan gak nyaman. Meski begitu, aku sangat ingin kembali ke sana, dan semoga bisa segera terwujud.
Kudengar ada sebuah festival di Indonesia yang sangat menarik untuk dikunjungi namanya Joyland Festival ya?
Betul dan itu merupakan festival musik terbaik yang pernah aku kunjungi. Jenis musiknya juga sangat cocok dengan musikmu.
Aku sangat berharap bisa main di sana dan menghibur masyarakat Indonesia.
Apa tema lagu yang tidak bisa kamu nyanyikan sekarang tapi bisa kamu nyanyikan di masa depan?
Aku sendiri tidak tahu tema apa yang akan kunyanyikan di masa depan, dan menurutku itulah risiko jadi penulis lagu yang ingin berkarya dalam waktu lama. Setiap album, aku merasa seperti orang yang benar-benar berbeda, karena aku terus menjalani hidup dan terus bertumbuh. Jadi aku penasaran tema apa yang akan kuangkat di album berikutnya, karena itu akan bergantung pada apa yang kualami dalam empat atau lima tahun ke depan. Kita lihat saja nanti.
The Gem sudah dirilis pada 25 September 2026 via 4AD.