CREATIVEDISC.COM – JAKARTA – Ada jenis musik yang sejak nada pertama sudah membuat kita membayangkan sesuatu: ruang yang tenang, sore yang panjang, sesi meditasi, atau mungkin sekadar waktu ketika kita ingin menjauh sebentar dari kebisingan dunia.
Musik Masayoshi Fujita punya kemampuan seperti itu.
Namun, menariknya, ketenangan bukanlah titik awal perjalanan musikalnya.
Jauh sebelum dikenal melalui permainan vibraphone yang atmosferik dan meditatif, Fujita adalah seorang drummer dalam band rock. Ia tumbuh sebagai penggemar rock dan mengenal vibraphone justru dari koleksi musik jazz milik ayahnya yang juga seorang penggemar jazz.
Pertemuannya dengan instrumen tersebut terjadi cukup sederhana. Suatu hari, ia bertemu seorang pemain vibraphone jazz yang menawarkan les privat. Fujita mencoba bermain untuk pertama kalinya dan langsung menyukai suara yang dihasilkan instrumen tersebut.
“Ketika pertama kali memainkannya sendiri, suaranya terdengar sangat indah,” kenangnya.
Ia bahkan memutuskan berpindah instrumen meski saat itu nyaris tidak bisa memainkannya. Sebagai drummer, ia tidak memiliki dasar teori musik, harmoni, maupun tangga nada yang cukup untuk mengikuti pelajaran secara konvensional. Pada akhirnya, Fujita memilih belajar sendiri. Bermain, mendengarkan, mencoba, dan membiarkan instrumen itu berbicara kepadanya.
Dari sanalah hubungan panjangnya dengan vibraphone dimulai.
Perjalanan musikal Fujita kemudian membawanya ke Berlin. Selama kurang lebih 13 tahun, ia tinggal di kota tersebut dan berada di tengah lingkungan yang penuh dengan berbagai bentuk seni dan musik eksperimental.
Berlin, menurut Fujita, merupakan tempat yang sangat menarik bagi seorang seniman. Kota tersebut mempertemukannya dengan musisi dan seniman dari berbagai negara, genre, serta disiplin artistik. Pengalaman itu tentu memengaruhi cara pandangnya terhadap musik.
Di tengah lingkungan internasional tersebut, Fujita justru semakin sadar akan identitasnya sebagai seniman Jepang dan Asia. Tinggal jauh dari Jepang membuat akar budaya yang sebelumnya terasa begitu dekat menjadi sesuatu yang semakin ia sadari.
Namun, ada hal lain yang perlahan muncul: kerinduannya terhadap alam. Selama tinggal di Berlin, Fujita mulai menyadari bahwa alam memiliki hubungan yang sangat kuat dengan musiknya. Ia selalu memiliki gambaran tentang alam di balik karya-karyanya, dan semakin lama berada di kota, semakin terasa pula kerinduan tersebut.
“Di Berlin saya sangat merindukan alam,” ujarnya.
Berlin memang menarik. Ia bahkan masih menyukai kota tersebut. Tetapi setelah bertahun-tahun tinggal di sana, Fujita merasa belum benar-benar menemukan perasaan “rumah”.
Ia bisa berbicara bahasa Jerman, menjalani kehidupan di sana, dan menjadi bagian dari lingkungan musiknya. Namun, secara personal, selalu ada perasaan sebagai seorang tamu atau outsider.
Ada sesuatu yang sederhana tetapi penting: rasa memiliki tempat.
Karena itu, ia akhirnya memilih kembali ke pedesaan Jepang. Bukan sekadar untuk pulang, tetapi untuk menemukan tempat di mana ia bisa merasa benar-benar berada di rumah sekaligus kembali dekat dengan alam.
Hubungan Fujita dengan alam kemudian menjadi salah satu fondasi karya terbarunya, ‘Portal to the Universe’.
Judulnya sendiri sudah terasa seperti sebuah undangan. Portal adalah pintu masuk menuju tempat lain. Dan bagi Fujita, alam bisa menjadi pintu menuju sesuatu yang jauh lebih besar daripada manusia.
Karya tersebut awalnya bukan dibuat sebagai album.
Pada 2025, Fujita mendapat komisi untuk membuat soundscape bagi salah satu area di Expo 2025 Osaka-Kansai. Area tersebut menghadirkan sekitar 1.500 pohon dan membentuk semacam hutan buatan di tengah area Expo.
Untuk ruang tersebut, Fujita membuat tujuh jenis musik yang dapat berubah berdasarkan waktu. Musik yang diputar pada pagi hari berbeda dengan bagian siang maupun sore.
Dari proyek itulah ‘Portal to the Universe’ kemudian berkembang.
Fujita menyukai musik yang ia buat untuk hutan tersebut dan merasa karya itu layak dikembangkan menjadi sebuah album. Musik aslinya sendiri berbentuk loop panjang sekitar 30 hingga 40 menit, sehingga ia kemudian mengolah dan memendekkannya agar sesuai dengan format album.
Ketika melihat alam, ia merasakan sesuatu yang jauh lebih besar daripada persepsi manusia. Sesuatu yang memiliki skala waktu dan ruang yang berada di luar pemahaman manusia.
Dan sebagai opening track dari album barunya, lagu tersebut memang terasa seperti sebuah pintu pertama sebelum pendengar masuk lebih jauh.
Album yang akan menyusul pada November mendatang diberi judul “Forest of Tranquility”. Nama tersebut sebenarnya diambil dari nama hutan yang menjadi bagian dari proyek Expo tempat Fujita membuat soundscape-nya.
Namun album ini tidak berhenti sebagai dokumentasi sebuah instalasi seni. Untuk memperluas dunianya, Fujita mengajak dua musisi dari latar berbeda. Salah satunya adalah musisi dan produser asal Armenia, sementara yang lainnya merupakan komposer asal Swedia yang juga memainkan shō, instrumen tiup tradisional Jepang yang cukup langka bahkan di Jepang sendiri.
Pilihan kolaborator tersebut terasa sejalan dengan konsep Expo yang memang menginginkan musik dengan nuansa internasional.
Meski menghadirkan elemen dari berbagai tempat, Fujita tetap ingin musiknya memiliki banyak ruang. Ia membayangkan hutan tersebut sebagai sebuah ruang untuk beristirahat di tengah hiruk-pikuk Expo.
Karena itu, musiknya dibuat minimal, ambient, dan meditatif.
Namun Fujita tidak ingin pendengar berhenti pada fungsi “musik relaksasi”.
Ia justru ingin pendengar menemukan sesuatu di dalam suara-suara tersebut.
“Saya ingin mereka rileks, tetapi juga menemukan sesuatu yang menarik dalam musiknya,” katanya.
Dan kalimat itu mungkin menjadi kunci terbaik untuk memahami “Forest of Tranquility”.
Ada satu hal yang hampir tidak mungkin dihindari ketika membicarakan musik Fujita: vibraphone.
Bagi sebagian pendengar, suara vibraphone mungkin langsung mengingatkan pada spa, yoga, meditasi, atau musik untuk membantu tidur.
Fujita sendiri menganggapnya cukup menarik. Baginya, vibraphone sebenarnya jauh lebih dekat dengan jazz. Ia mengenal instrumen tersebut melalui musik jazz dan selalu memiliki gambaran jazz ketika memikirkan vibraphone.
Tetapi ia juga tidak menyangkal bahwa instrumen tersebut memang memiliki kualitas meditatif yang kuat. Ada getaran, resonansi, dan ekor suara yang panjang. Setiap nada tidak langsung menghilang setelah dipukul, melainkan seperti menggantung sebentar di udara.
Dan mungkin justru ruang di antara nada-nada itulah yang membuat musik Fujita terasa begitu tenang. Ketika ditanya bagaimana reaksinya jika ada pendengar yang mengatakan musiknya membantu mereka tertidur, Fujita tertawa.
Baginya, itu tetap sebuah pujian.
Ia memahami bahwa musiknya bisa terdengar menarik sekaligus menenangkan. Jadi kalau seseorang akhirnya tertidur ketika mendengarkannya, Fujita tidak menganggapnya sebagai kegagalan. Justru sebaliknya, mungkin musik memang sedang menjalankan fungsinya.
Di akhir percakapan, Fujita ditanya apa arti tranquility baginya.
Jawabannya juga sederhana: stillness (keheningan atau ketenangan pikiran dan suara).
Mungkin itulah cara terbaik untuk memasuki Forest of Tranquility.
Bukan dengan menganggapnya sekadar album untuk relaksasi. Bukan pula sebagai soundtrack untuk tidur atau meditasi.
Tetapi sebagai sebuah ruang untuk berhenti sejenak, mendengarkan bunyi-bunyi kecil, memperhatikan bagaimana satu nada bertemu dengan nada lainnya, dan mungkin menemukan sesuatu yang sebelumnya tidak kita sadari.
Seperti hutan sungguhan, musik Fujita tidak memaksa kita untuk melakukan apa pun.
Kita bisa datang untuk beristirahat.
Kita bisa datang untuk mendengarkan.
Atau kita bisa sekadar berjalan-jalan di dalamnya dan menemukan sesuatu yang tidak kita cari.
Dan jika ‘Portal to the Universe’ memang menjadi pintu masuknya, maka “Forest of Tranquility” mungkin adalah tempat di mana Fujita mengajak kita tinggal sedikit lebih lama.
Bukan untuk melarikan diri dari dunia.
Tetapi untuk mendengarkannya dengan cara yang berbeda.