Thai electronic artist on nature, noise, and finding your inner frequency
CREATIVEDISC.COM – JAKARTA – Di tengah dunia yang makin bising dipenuhi notifikasi, algoritma, dan distraksi tanpa henti, NOTEP hadir dengan pendekatan yang justru berlawanan: melambat, mendengarkan, dan kembali ke dalam diri.
Musisi elektronik asal Thailand ini baru saja merilis single terbarunya, ‘Radio,’ tepat di Hari Bumi, 22 April lalu. Tapi bagi NOTEP, ini bukan sekadar rilisan baru. Ini adalah pintu masuk menuju semesta yang lebih besar yakni EP mendatang bertajuk “PAKARANG”, sebuah eksplorasi tentang hubungan antara manusia, laut, dan kehidupan itu sendiri.
Dalam percakapan santai namun reflektif, NOTEP membuka cerita tentang perjalanan personalnya, proses kreatif, hingga bagaimana musik bisa menjadi alat untuk reconnect, bukan hanya dengan alam, tapi juga dengan diri sendiri.
NOTEP, atau Note Panayanggool, bukan sekadar nama panggung. Ada makna yang cukup dalam di baliknya.
“Namaku memang ‘Note’, seperti not dalam musik. Tapi dalam bahasa Thailand, itu juga bisa berarti seseorang yang bernyanyi, bahkan bisa diartikan sebagai body of water,” jelasnya. “Nama belakangku berarti seseorang dari hutan. Jadi aku rasa namaku adalah refleksi dari diriku sekarang.”
Dan refleksi itu terasa nyata. Musiknya, visualnya, hingga pendekatan artistiknya selalu bersinggungan dengan alam—laut, hutan, dan segala lanskap natural yang membentuk identitasnya.
“Aku suka bernyanyi, menuangkan emosi dalam lagu, dan aku juga sangat mencintai alam. Semua yang kulakukan. Musik, fashion, kreativitas selalu terhubung dengan itu.”
Perjalanan NOTEP tidak datang dari jalur yang instan. Di usia yang masih sangat muda, ia sudah dihadapkan pada pengalaman yang memaksanya untuk dewasa lebih cepat.
“Waktu aku kelas 11, sekitar umur 15, aku pindah ke luar negeri untuk student exchange dan tinggal sendiri, bahkan tanpa menggunakan bahasa mereka. Itu membentuk karakterku,” ceritanya.
Sepulang dari pengalaman tersebut, ia langsung terjun ke dunia hiburan mengikuti kompetisi besar di Thailand dan berhasil meraih posisi runner-up di usia 16 tahun.
Namun menariknya, menjadi musisi bukanlah rencana awalnya.
“Aku pikir aku hanya akan jadi penyanyi. Tapi semakin dewasa, aku sadar aku bisa jadi lebih dari itu,” katanya. “Aku mulai belajar instrumen, walaupun aku nggak jago piano atau gitar. Jadi aku pakai sampler, bikin musik dari situ. Dari situ aku bisa eksplorasi dan tahu mana yang aku suka, mana yang tidak.”
Meski kini karyanya sudah diakui oleh media besar seperti Elle, Vogue, dan Lifestyle Asia, perjalanan itu tidak selalu berjalan mulus.
“Aku orang yang bahagia ketika aku jujur pada diriku sendiri,” ujarnya. “Di awal karier, saat aku dikontrak label, ada momen aku harus melakukan hal yang aku tidak suka. Dan itu terlihat di hasilnya tidak maksimal.”
Sebaliknya, ketika ia menciptakan sesuatu yang benar-benar datang dari dalam dirinya, hasilnya terasa hidup.
“It just comes out naturally. Alive.”
Pengalaman-pengalaman itu, menurutnya, bukan untuk disesali melainkan fondasi yang membentuk dirinya hari ini.
Sebelum sepenuhnya fokus di musik, NOTEP sempat mencoba berbagai peran di industri hiburan, dari akting, MC, radio personality, hingga modeling.
“Aku pernah main sinetron. Please don’t google me,” katanya sambil tertawa. “Aku malu banget sekarang!”
Namun justru dari semua itu, ia menemukan satu hal penting: apa yang bukan dirinya.
“Itu semua membantu aku refine siapa aku sekarang. Aku jadi tahu mana yang ingin aku lakukan, dan mana yang tidak.”
Single ‘Radio’ menjadi titik awal dari EP “PAKARANG”, dan dirilis bertepatan dengan Earth Day bukan tanpa alasan.
“Aku bukan hanya musisi, tapi juga environmentalist,” jelasnya. “Ini momentum yang tepat untuk menyuarakan isu lingkungan, sekaligus memperkenalkan konsep dari EP ini.”
Namun lebih dari itu, ‘Radio’ membawa pesan yang sangat personal.
Di era modern yang serba cepat, menurut NOTEP, kita sering kehilangan koneksi dengan diri sendiri.
“Kita terlalu overwhelmed. Akhirnya kita lari ke distraksi. Shopping, ngopi, party. Tapi sebenarnya kita punya kekuatan di dalam diri kita sendiri, hanya saja kita lupa.”
‘Radio,’ baginya, adalah tentang kembali mengingat.
Tentang menyetel ulang frekuensi.
Tentang terhubung kembali, baik dengan diri sendiri, spiritualitas, atau apapun yang lebih besar dari kita.
Konsep ini juga diterjemahkan dengan kuat dalam visual musik video ‘Radio’.
Shot di laut lepas sekitar Koh Tao, video ini menampilkan NOTEP dalam balutan busana yang terbuat dari limbah, dari tutup kaleng soda hingga jaring nelayan.
“Semua ide kreatifnya datang dariku,” katanya. Bersama digital artist Cyrus James Khan, mereka mengerjakan hampir semuanya sendiri, dari shooting hingga editing.
“Aku pakai bahan-bahan seperti soda can tops, fishing nets, bahkan debris laut. Itu jadi fashion statement sekaligus pesan.”
Bagi NOTEP, fashion dan visual bukan sekadar pelengkap, tapi bagian dari ekspresi artistiknya.
“Expressing myself in any form is part of who I am. Kita bisa recycle, kita bisa menciptakan sesuatu yang baru dari yang dianggap sampah.”
EP “PAKARANG” sendiri berangkat dari satu ide sederhana namun powerful: manusia dan alam tidak terpisah.
“Tulang kita punya material yang sama seperti karang,” ungkapnya. “Dan fungsinya juga mirip sebagai penyangga kehidupan.”
Seperti karang yang menopang ekosistem laut, manusia juga memiliki struktur yang memungkinkan kehidupan berjalan.
Pesan utama dari EP ini? Surrender.
“Belajar dari alam. Dari laut. Dari karang. Kita tidak perlu melawan, kita bisa belajar untuk hidup selaras.”
Di tengah dunia yang terus mendorong kita untuk lebih cepat, lebih keras, lebih banyak, NOTEP justru menawarkan sesuatu yang berbeda: ketenangan.
Saat ditanya pesan untuk pendengar, jawabannya sederhana, tapi kena:
“Be jai yen, cool heart. Calm down. Santai.”
Karena dari situ, semuanya berubah.
“Kamu jadi lebih mindful, lebih tenang, dan lebih bahagia.”
Dengan ‘Radio’ sebagai sinyal pertama, NOTEP tidak hanya merilis musik, ia mengajak kita untuk berhenti sejenak, menarik napas, dan mendengarkan sesuatu yang sering kita abaikan:
diri kita sendiri.