CREATIVEDISC.COM – JAKARTA – Bernadya yang baru saja merilis album keduanya “Semoga Hanya di Mimpi”, akhirnya menggelar Album Showcase yang diadakan oleh kolaborasi JUNI Concert dan Antara Suara di Tennis Indoor Senayan, Jakarta pada Sabtu (25/7).
Berjudul Wardah Derma Sensitive Presents: Semoga Hanya Di Mimpi Album Showcase, penyanyi asal Surabaya yang berusia 22 tahun ini membawakan keseluruhan materi album keduanya. Ini juga merupakan konser besar keduanya setelah tahun lalu menjalani tur Babak Penutup: Untungnya, Hidup Harus Tetap Berjalan tahun lalu di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Sebelum naik ke atas panggung, Bernadya sempat mengadakan press conference bersama para media. Dirinya mengaku sempat diliputi rasa gugup selama masa persiapan. Meski demikian, ia bersama tim mempersiapkan setiap detail pertunjukan dengan serius, termasuk menggandeng sutradara sekaligus drummer Seringai, Edy Khemod, sebagai creative director. Mengusung nuansa estetika era 2000-an yang sejalan dengan album terbarunya, setiap lagu dirancang memiliki visual dan alur pertunjukan tersendiri sehingga membentuk sebuah cerita utuh dari awal hingga akhir.
Dengan kapasitas venue yang lebih besar serta konsep panggung yang matang, showcase dibuka oleh penampilan girl group Marbles sebelum Bernadya mengambil alih panggung. Pertunjukan kemudian dibagi menjadi dua babak. Pada babak pertama, Bernadya tampil mengenakan piyama bersama para personel band yang juga berbusana senada, membawakan seluruh lagu dari album “Semoga Hanya di Mimpi” secara berurutan.
![]()
Tata visual yang dipadukan dengan pencahayaan dan elemen panggung berhasil memperkuat suasana emosional di lagu-lagu seperti ‘Laut yang Tenang’, ‘Peluk Aku Sekarang’, hingga ‘Belum Sempat Kenal’. Momen spesial juga hadir ketika Rendy Pandugo tampil sebagai tamu untuk membawakan ‘Tolong Bilang Ini Mimpi’ bersama Bernadya.
Memasuki babak kedua, suasana berubah menjadi lebih hangat dan penuh nostalgia. Bernadya membawakan deretan lagu populernya, mulai dari ‘Apa Mungkin’, ‘Kata Mereka Ini Berlebihan’, ‘Sinyal-Sinyal’, hingga ‘Sialnya, Hidup Harus Tetap Berjalan’, yang dinyanyikan bersama ribuan penonton.
![]()
Menjelang akhir konser, kejutan lain datang saat Tenxi muncul di atas panggung dan mengaransemen ulang lagu ‘Untungnya, Hidup Harus Tetap Berjalan’ menjadi versi hipdut yang sukses mengubah suasana menjadi lebih meriah. Perpaduan konsep visual, aransemen musik, dan kedekatan Bernadya dengan penonton menjadikan Semoga Hanya di Mimpi bukan sekadar showcase album, melainkan sebuah pertunjukan yang menampilkan evolusi musikal sekaligus identitas artistiknya.