Quantcast

Exclusive Interview with Ardhito Pramono: Dari Jurnalis Hingga Jadi Performer di Java Jazz Festival

By - 1 month ago in Artist Interviews

Rising star di dunia musik jazz Indonesia, Ardhito Pramono, turut ambil bagian dalam kemeriahan Java Jazz Festival 2019. Musisi muda yang pernah mengenyam pendidikan perfilman di Australia ini menyuguhkan penampilan yang sayang dilewatkan. Musik jazz yang dibalut dengan nuansa folk, bossa, serta swing ala era 40an ini menjadi angin segar bagi genre yang penggemarnya tidak se-masif genre lainnya, namun memiliki penikmat fanatik.

Penampilannya di JJF 2019 ini menjadi penampilan perdananya. Dan kesempatan tersebut dijadikan sarana pengenalan akan EP terbarunya yang berjudul ‘a letter to my 17 year old’, yang memuat lagu-lagu hits-nya seperti ‘Bitter Love’ dan ‘Fake Optics’.

Simak obrolan seru Creative Disc bersama Ardhito Pramono berikut ini.

Creative Disc: Gimana menurut lo performance tadi?
Ardhito Pramono: Perform tadi lancar sih.. Cuma karena efek kurang tidur jadi agak sempoyongan. Sempat nabrak microphone juga, jadi agak lawak gitu..

Creative Disc: Ini kan kali pertama lo main di Java Jazz. Gimana pendapat lo tentang festival ini?
Ardhito Pramono: Pendapat gue mengenai festival ini….. Gue selalu being apart of Java Jazz Festival, gak tau kenapa. Dari jaman di Senayan sampai disini (Kemayoran). Gue sempat jadi jurnalis dan sempat interview artis juga di tahun 2016. Itu Java Jazz yang paling gue inget sih. Karena gue bisa interview Incognito dan beberapa artis luar.

Creative Disc: Dan sekarang giliran lo di-interview nih?
Ardhito Pramono: Yoee…. Weird, man. Aneh banget.

Creative Disc: Ceritain dong gimana awal lo mulai bermusik?
Ardhito Pramono: Belajar musik pertama kali dari guru bimbel gue. Instead of belajar matematika dan lain-lain, kita malah belajar musik, mulai dari keyboard, gitar, semuanya yang ngajarin dia, namanya Pak Sakiman, shout out to him..

Creative Disc: Dan gimana awalnya lo memutuskan untuk memulai karir dalam bermusik?
Ardhito Pramono: Karena gue gagal di kantor yang lama. Gue dulu adalah music producer dan disana gue setahun lebih. Gue gagal karena ada office affair sama mantan gue, terus gue cabut dan memutuskan untuk jadi full-time musician.

Creative Disc: Deskripsikan jenis musik lo?
Ardhito Pramono: Waduh. Kalau dibilang jazz, gak jazz juga. Mungkin lebih ke easy listening kali. Ada folk-nya juga, ada pop-nya juga, ada jazz-nya juga.

Creative Disc: Tapi mostly jazz?
Ardhito Pramono: Iya, mostly jazz.

Creative Disc: Kenapa lo milih jalur jazz?
Ardhito Pramono: Sebenarnya gue udah cinta jazz dari gue kecil. Gue adalah penggemar film-film lama. Film yang pernah gue tonton dan paling diinget adalah Green Mile. Dan pertama kalinya denger lagunya Fred Astaire yang ‘Cheek to Cheek’ disana. Dari situ gue mulai ngulik Gene Austin dan lain-lain, sampai akhirnya gue jatuh cinta sama jazz.

Creative Disc: Genre favorit lo selain jazz?
Ardhito Pramono: Gue lagi suka musik psychedelic sih sebenarnya. Lagi balik dengerin Pink Floyd karena jatuh cinta sama performance-nya waktu di Woodstock tahun 1969. Itu gue jatuh cinta banget..

Creative Disc: Lagi dengerin lagu-lagu apa saat ini?
Ardhito Pramono: Gue lagi dengerin Spiritualized, salah satu band UK. Terus gue lagi dengerin banget Radiohead lagi, yang “OK Computer”. Gw lagi ngulik lagu album itu, seru banget ternyata.

Creative Disc: ‘Fake Optics’, lagu yang paling fenomenal dari lo. Ceritain sedikit mengenai lagu itu.
Ardhito Pramono: Inspirasi untuk ‘Fake Optics’ sebenarnya dari circle pertemanan di Jakarta yang terkadang lo harus jadi bourgeoisie untuk mendapatkan banyak teman. Tapi kalau lo lihat lagi sebenarnya gak harus gitu. Pertemanan yang sincere itu adalah pertemanan dimana lo susah-senang itu bareng-bareng. Jadi ‘Fake Optics’ kurang lebih bercerita tentang fenomena tersebut.

Creative Disc: Anyway, congratulations buat EP terbaru lo “a letter to my 17 year old”.
Ardhito Pramono: Thank you, man..

Creative Disc: Ada apa sih dibalik judulnya? Apakah itu jadi suatu bentuk refleksi antara diri lo saat ini dengan yang dulu?
Ardhito Pramono: Yes, indeed.. Jadi gue nulis EP itu karena I really wanted to write a letter to my 17 year old gitu. Kalau memang gw bisa nulis a letter to my 17 year old, it would be a path for me.. Meskipun itu hal yang mustahil. Tapi sebagai seorang musisi lo harus bisa sedikit-sedikit ‘gila’.

Creative Disc: Dan aransemen lagu-lagu di dalamnya beragam banget.
Ardhito Pramono: Bener banget. Jadi, yang gue suka sama EP itu adalah legacy dari genre yang gue sukain itu banyak meskipun Cuma 5 lagu. ‘Fake Optics’ itu ballad, ‘Bitter Love’ agak-agak bossa nova, ‘Ciggarettes of Ours’ itu folk, ‘Superstar’ itu ragtime, dan ‘Say Hello’ itu fast swing. Jadi bisa kelihatan legacy gue dalam satu album.

Creative Disc: One last question, untuk orang yang baru pertama kali dengerin musik lo, kira-kira lagu mana yang benar-benar mewakili lo?
Ardhito Pramono: Yang paling mewakili musik gue itu ‘Bitter Love’ sebenarnya. Itu Antonio Carlos Jobim kan sebenarnya. Gw suka banget bossa nova. Dan pertama kali gue bikin lagu bossa nova adalah ‘Bitter Love’. Jadi sangat represented gue lah itu..

Life. Music. Love. Fashion. A mixture of saint & stallion.

Comments

Leave a Reply

Related Articles

Artist Interviews | April 19, 2019 By

Exclusive Interview with Jannine Weigel: Lagu ‘Words’ Adalah Jawaban Bagi Kritik Netizen

Music News | April 6, 2019 By

Jannine Weigel Rilis Lagu Debut Bahasa Inggrisnya, “Words”

Artist Interviews | April 1, 2019 By

Exclusive Interview with Ruel: Menulis Lagu Adalah Terapi Bagi Saya