izmir escort bayan
Trending News

Blog Post

CreativeDisc Exclusive Interview With Sapphire: Cerita Sang Penyanyi Cilik Menghadapi Masa Remajanya
CREDIT: Sapphire Productions
Artist Interviews

CreativeDisc Exclusive Interview With Sapphire: Cerita Sang Penyanyi Cilik Menghadapi Masa Remajanya 

Dari iseng mengunggah videonya bernyanyi “This Is Me” dari seri Camp Rock sewaktu usia tujuh tahun, penyanyi asal Inggris, Sapphire tidak menyangka bahwa apa yang ia lakukan sedari kecil ternyata membuatnya menyeriuskan untuk membuat musik dan konten video. Di umurnya yang menginjak 18 tahun ia telah melakukan lebih dari 400 cover song dan juga mempunyai lagu sendiri. Salah satu lagu sendiri yang baru ia rilis adalah “Repeat” yang mempunyai keunikan tersendiri di antara lagu pop lainnya dimana lagu ini mempunyai ketukan pop yang modern dan funky lalu ditutup dengan beat pop eksperimental yang berbeda dari nuansa musik yang mengalun sebelumnya.

Kali ini CreativeDisc berkesempatan mewawancarai Sapphire dimana ia mempunyai banyak cerita tentang lagu “Repeat”, bagaimana ia melihat kesuksesannya di masa kecil yang begitu cepat, dan juga berbagai macam hal yang ia suka.

CreativeDisc (CD): Halo Sapphire, bagaimana kabarmu hari ini?
Sapphire (S): Sangat baik, terima kasih sudah mewawancaraiku.

CD: Lagi ngapain akhir-akhir ini?
S: Aku banyak sekali mengerjakan banyak materi lagu sebulan terakhir jadi sibuk banget akhir-akhir ini.

Tentang “Repeat” dan overthinking.

CD: Ceritain dong single terbarumu yang berjudul “Repeat”?
S: “Repeat” adalah sebuah lagu tentang overthinking terus menerus dan kamu ingin melepaskan semua pikiran tersebut. Aku membuat lagu ini repetitif di awal sebagai perlambang overthinking yang menyiksa pikiran lalu di akhir aku memasukkan beat yang bergemuruh dan besar sebagai perlambang bahwa kamu terbebas dari overthinking. Aku membuat hal seperti itu karena aku ingin menyeimbangkan perasaan overthinking dan lega ke dalam satu lagu dan ketika beat besar yang ada di akhir lagu muncul aku langsung merinding karena itu adalah beat yang membuatku lega sepanjang hidupku. Aku ingin pendengarku juga merasakan hal tersebut.

CD: “Repeat” ini kayaknya berdasarkan dari kisah nyata ya?
S: Betul, aku orangnya suka overthinking jadinya pas aku membuat lagu ini semuanya terdengar sangat alami dan sesuai apa yang aku pikirkan saat itu. Membuat sesuatu yang tidak pernah aku rasakan merupakan hal yang sulit buatku karena aku tidak bisa mengeluarkan potensi penuhku.

CD: Jadi bagaimana rasanya menghadapi overthinking menurutmu?
S: Waduh jadi therapy session ini (tertawa). Menulis lagu dan merilisnya itu merupakan caraku menghadapi overthinking. Anehnya aku tidak pernah menceritakan perasaanku kepada teman terbaikku tapi aku menceritakannya pada semua orang lewat laguku.

CD: Aku benar-benar kaget loh ketika mendengarkan lagu ini karena lagu ini kan awalnya pop banget terus tiba-tiba di akhir jadi eksperimental terutama dari beat di akhir lagu. Ceritain dong kenapa kamu kepikiran untuk bikin konsep seperti itu?
S: Awalnya aku menulis lagu ini dengan mood yang sedih di piano lalu waktu aku belum menulis semua bagian lagunya aku minta bantuan ke produserku sambil berkata “tolong bikin beat apapun deh mau yang aneh juga gak apa-apa” dan hasilnya adalah beat eksperimental tadi. Aku harap orang-orang menyukai hasil eksperimen antara kami berdua.

CD: Kamu bilang kalau misalnya lagu ini adalah campuran Daft Punk dan Madison Beer? Kok kamu kepikiran untuk mengambil referensi dari kedua artis yang sound-nya beda satu sama lain?
S: Aku ingin membuat lagu yang bisa mencampurkan suasana pop yang gembira dengan musik elektronik yang gelap dan menurutku ini merupakan sesuatu yang belum pernah aku coba sebelumnya. Di lagu ini ada pengaruh musik disco 70’an dari sound gitar dengan nada tinggi dan bass yang groovy, 80’an di sound drum machine-nya. Kalau kupikir-pikir lagu ini chaos banget ya (tertawa).

CD: Lalu gimana kamu menyeimbangkan semuanya biar ga chaos banget?
S: Aku memilah bagian-bagian yang paling pas dan kusuka saja kaya drum machine, bass yang groovy, vokal vocoder ala Daft Punk biar seimbang.

CD: Ngomong-ngomong lagu Daft Punk mana yang paling kamu suka?
S: Ini terdengar sangat biasa banget tapi aku benar-benar menyukai “Get Lucky” karena nada bass-nya sangat groovy dan ikonik. Aku sangat sedih ketika tahu mereka bubar dan berharap mereka reuni lagi.

CD: Oh ya, album musik mana yang paling kamu suka sepanjang masa
S: Aku paling suka Carole King “Tapestry” karena liriknya benar-benar aku banget dan juga Fleetwod Mac – Rumors karena itu merupakan album vinyl pertamaku. Aku juga suka Carly Simon “No Secrets”.

Si gadis penggiat cover song

CD: Kamu kan sering banget cover lagu orang lain terus bagaimana caranya kamu bisa membuat lagu sendiri?
S: Aku senang sekali men-cover lagu orang lain tetapi kan lagu itu milik orang lain jadi aku menyampaikan perasaan orang lain, kalau aku membuat lagu sendiri aku menyampaikan perasaanku sendiri.

CD: Diantara semua lagu cover yang pernah kamu bawakan. Mana yang paling kamu suka
S: Susah sekali pertanyaannya karena aku sudah meng-cover banyak lagu, tapi kalau bisa memilih aku pilih “Skinny Dipping” milik Sabrina Carpenter. Karena aku kesulitan mengulik lagu ini sampai pas dan ketika jadi ternyata Sabrina Carpenter ngemasukin cover-ku ke Instagram Storiesnya. Itu merupakan hal yang sangat spesial buatku.

CD: Kamu sudah melakukan cover singing dari umur tujuh tahun. Ceritain dong pertama kalinya kamu pertama kali cover singing dari kecil
S: Wah menarik ini. Waktu kecil aku menyanyikan lagu “This Is Me” dari seri Camp Rock dan langsung jadi viral di YouTube karena mendapatkan ratusan ribu penanyangan dan pada waktu itu mendapatkan hal tersebut merupakan hal yang luar biasa sekali. Tetapi waktu itu aku lupa menyisir rambutku, mungkin kalau aku bisa memutar kembali waktu aku bakal bilang ke Sapphire umur tujuh tahun untuk menyisir rambutnya dulu sebelum rekaman (tertawa).

Dari penyanyi cilik sampai bertumbuh remaja

CD: Menurutmu bedanya bermusik waktu kecil dan di usiamu yang sekarang?
S: Waktuku kecil aku bernyanyi tanpa ada target dan tekanan dari mana-mana tetapi semakin tua aku seperti punya target di kepalaku untuk melakukan semuanya lebih baik dari sebelumnya dan itu cukup melelahkan, belum lagi mendengar pendapat orang tentang apa yang kulakukan sehingga aku membuat standar yang tinggi buatku sendiri. Tetapi aku sangat bersyukur untuk konsisten bermusik dan bernyanyi dari usia dini karena kukira aku ga bisa sekonsisten ini waktu dulu.

CD: Tapi ketika mendapatkan kesuksesan di usia sangat dini pasti ada rasa dimana kamu mentok dengan tujuan karirmu kan?
S: Tentu. Ketika aku umur delapan tahun tujuanku adalah “ayo tembus 100 ribu subscribers dan tampil di depan banyak orang” terus tiba-tiba sekarang subscribers ku sudah lebih dari 500 ribu dan aku tiba-tiba merasa terus tertekan untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi lagi. Hal yang aku pelajari waktuku kecil agar aku tidak mentok dalam menentukan tujuanku adalah mencoba membagi tujuan besar menjadi tujuan-tujuan kecil yang gampang diraih agar terus memotivasimu untuk maju terus.

CD: Terus apa motivasimu untuk terus bermusik dari kecil?
S: Ibuku selalu berkata bahwa kamu bisa melakukan apapun, tidak ada batasan untuk mencapai apa yang kamu mau. Ibuku selalu memberitahuku bahwa aku bisa menginspirasi anak lainnya untuk bisa mewujudkan mimpinya menjadi penyanyi. Ketika aku tampil di panggung dan lampu menyorot penontonku yang masih kecil bernyanyi bersamaku itu juga menjadi hal yang memotivasiku untuk terus bermusik sampai sekarang.

Sapphire si fans sejati Harry Potter dan komedi

CD: Kamu benar-benar suka dengan Harry Potter. Coba dong urutkan film Harry Potter favoritmu?
S: Ku paling suka “Prisoner of Azkaban”, “The Half Blood Prince” dan “The Philosopher’s Stone”. Aku suka “The Philospher’s Stone” karena waktu itu Harry Potter masih sangat polos dan belum ada unsur dark yang muncul di seri setelahnya. Terkadang kalau aku stress berat aku menonton film itu sebagai cara untuk menghibur diriku sendiri.

CD: Tapi memang Harry Potter unik ceritanya karena pas masuk “Prisoner of Azkaban” ceritanya makin ke sini makin berat dan dark
S: Itu hal yang aku suka dari seri ini. Aku benar-benar suka dengan pengembangan karakternya dan habis “Prisoner of Azkaban” Harry Potter makin kesini makin gelap malah aku berpikir kalau “The Philosopher’s Stone” adalah satu-satunya film paling ceria di seri ini (tertawa).

CD: Kalau kamu boleh memilih kelas di Harry Potter. Kamu cocok di kelas yang mana?
S: Aku tes berkali-kali dan dapetnya Hufflepuff terus. Aku ingin bisa melakukan sihir transmutasi dan merubah diriku menjadi kucing karena aku suka kucing dan itu membuat hidupku lebih gampang.

CD: Selain Harry Potter kamu suka film dan serial TV apa saja?
S: Aku suka banget film “Notting Hill”. Kalau serial TV aku lagi nonton “The Chilling Adventure of Sabrina”. Aku suka banget sama “Friends”, pokoknya ga tau kenapa aku selalu bahagia setelah menonton “Friends”. Aku juga banyak terinspirasi outfit dari “Gilmore Girls”.

CD: Sebutkan lima hal yang tidak kami ketahui tentangmu?
S:  Aku makan pizza dari tengah dengan garpu dan pisau, aku pecinta kopi, Aku punya 218 buku dan aku suka buku romance, fantasy dan self-help, aku belajar piano klasik dari modal mendengarkan karena aku sering mendengar musik klasik lalu aku coba tiru lagunya di piano, buku yang paling aku suka sepanjang masa adalah “The Italian Girl” oleh Lucinda Riley aku bisa membaca buku itu seharian saja.

Related posts

Leave a Reply

izmir eskortlar bursa eskort bayanlar ankara escort bayanlar Antalya escort bayanlar Eskişehir escort bayan Konya bayan escort escort Kayseri İzmit escort kızlar Alanya escort Kocaeli escort Kuşadası escort Gaziantep escort Malatya escort Diyarbakır escort Denizli escort Samsun escort Adana escort Bodrum escort Dubai escort porno izle seks hikayeleri sex hikayeleri paply.org

Entsorgung Berlin