Foto: Nareend
Ketika mendengarkan album penuh keempat Efek Rumah Kaca berjudul “Rimpang” secara utuh dahi saya langsung mengernyit mencoba memahami arahan baru dari band indie rock yang biasa disebut sebagai ERK. Lagu yang disajikan di album ini terdengar begitu kompleks dan tidak ada unsur catchy seperti tiga album penuh mereka sepenuhnya (ya, saya masih menganggap “Sinestesia” catchy meskipun disajikan layaknya sebuah album progressive rock 70’an).
Band yang sekarang diisi oleh Cholil Mahmud (vokal, gitar), Poppie Airil (bas, vokal latar), Akbar Bagus Sudibyo (drum, vokal latar), dan Reza Ryan (gitar) memasukkan terlalu banyak unsur musik sehingga mendengarnya dari awal sampai akhir terasa begitu berat apalagi untuk sebuah grup indie rock yang sangat populer di kalangan musik independen Indonesia karena pintar memasukkan hook yang maut dengan lirik bahasa Indonesia yang pintar dan bernas sampai-sampai memengaruhi banyak grup lokal setelahnya untuk bernyanyi menggunakan Bahasa Indonesia yang puitis dengan gaya musik indie rock/pop yang merupakan bawaan dari kultur musik Barat.
Kepopuleran merupakan hal yang tidak diduga oleh mereka dan saya sendiri ketika membeli CD album self-titled milik mereka ketika saya masih SMP di tahun 2007. Mereka dengan cerdik meramu lirik yang kompleks nan berat dengan musik alternative rock yang sangat catchy dengan hook yang mampu menarik atensi banyak orang di album perdana mereka. Vokal Cholil yang sangat terpengaruh oleh Jeff Buckley dan Thom Yorke juga menjadi daya tarik tersendiri yang membuat nama mereka begitu fenomenal di Indonesia.
Mereka juga dikenal sebagai band yang tidak pernah puas dengan apa yang mereka lakukan. Di album kedua “Kamar Gelap” mereka bermain lebih rapi dengan tingkat produksi yang makin disempurnakan, memasukkan lebih banyak hook dan nada-nada yang catchy, bermain lebih cepat, dan lirik yang makin frontal. Di album ketiga “Sinestesia” mereka berhasil membuat album atmosferik yang mempunyai banyak lapisan musik didalamnya dan mampu “memaksa” pendengar mendengarkan lagu berdurasi lebih dari 7 menit. “Sinestesia” berhasil mencampurkan unsur album progressive rock dengan gaya mereka sendiri meski dibuat dengan keterbatasan personilnya Adrian Yunan yang mengalami kebutaan.
Di album “Rimpang” saya menemukan bahwa ERK sudah melunak dan hal itu setidaknya yang saya temukan ketika mereka melaksanakan solo konser mereka bernama “Konser Rimpang” yang diadakan pada Kamis, 27 Juli 2023 di Tenis Indoor Senayan dan diselenggarakan oleh Plainsong Live. Konser Rimpang bisa dikatakan adalah konser solo band indie rock lokal terbesar sepanjang sejarah musik Indonesia dengan 4000 penonton yang hadir.

Konser Rimpang sendiri dibagi menjadi dua bagian yaitu bagian pertama “Rimpang” yang memainkan album “Rimpang” dari awal sampai akhir secara langsung serta “Menjalar” yang memainkan karya lawas termasuk greatest hits dari mereka. Konser ini juga berkolaborasi dengan Rubi Roesli yang membangun tirai raksasa dengan medium benang yang membentang di panggung dan memberikan efek 3D dan menjadi wadah untuk menginterpretasikan musik ERK dari segi visual. Terdengar cukup ambisius dan menarik sampai mengetahui fakta di lapangan jika keajaiban dari instalasi tersebut hanya enak dilihat dari bagian tengah saja dan sulit dilihat keajaibannya dari bagian kiri dan kanan.
Karena materi Rimpang mungkin terlalu berat dan tidak bisa dinyanyikan bersama, bagian pertama konser ini seolah begitu hambar dan berjalan begitu saja tanpa ada euforia yang berarti. Hanya beberapa momen yang menarik muncul di bagian pertama seperti ketika lagu “Bersemi Sekebun” yang berkolaborasi dengan Morgue Vanguard yang menutup lagu dengan membacakan beragam suara perjuangan warga seperti Pakel, Tumpang Pitu, Wawonii, Halmahera, Kulonprogo, Wadas, Kendeng, Dago Elos, Bara Baraya, Kampung Bayan, Sangihe, Pancoran Buntu, Kanjuruhan dan Papua.
Setelah sesi Rimpang usai akhirnya sesi Menjalar yang ditunggu datang juga. ERK membuka sesi Menjalar dengan “Seperti Rahim Ibu” lalu dilanjutkan dengan “Jatuh Cinta Itu Biasa Saja”. Pada lagu “Hujan Jangan Marah” mereka membawa Ghandiee yang membuat penonton merinding dengan lengkingannya yang membuat kedalaman lagu semakin dalam. Lagu yang sangat religius dari katalog mereka “Putih” dibawakan bersama mantan personil mereka Adrian Yunan yang disambut dengan haru dan keceriaan penonton. Adrian yang tampil duduk mampu menyihir penonton dengan kata-kata magis yang ia ucapkan ketika “Putih” dimainkan seolah melihat seseorang yang sudah pasrah akan kondisinya saat ini sama seperti tema lagunya. Setelahnya mereka memainkan lagu dari album perdana mereka “Efek Rumah Kaca” dan “Debu-Debu Beterbangan” dan dilanjutkan dengan “Jingga” yang kembali membawa Adrian dan Ubiet serta Arif Surahman untuk menambah kesakralan dari lagu ini.
Setelah “Palung Mariana” ERK turun panggung sejenak dan memanggil Anda Perdana ke atas panggung. Dengan suaranya yang sangat crooner ia membawakan ulang “Desember”, di tangannya “Desember” menjadi lagu yang sangat pilu dan berat seperti orang yang melihat kembali masa hidupnya secara nanar. Gudtings yang tampil berikutnya merupakan pilihan yang aneh untuk masuk ke dalam penampilan malam itu. Mereka memulai penampilan dengan berbagai kendala teknis dan berujung ke penampilan mereka yang suaranya sangat kecil. Raut muka para personilnya semakin tegang ketika lagu ERK yang sangat mellow “Kamar Gelap” dibawakan dengan gaya musik turunan reggae bernama lovers’ rock dan menimbulkan reaksi yang tidak antusias dari ribuan mata yang melihat. Ketika Gudtings tampil penonton bingung apakah mereka harus berjoget dengan lagu “Kamar Gelap” versi reggae.

Seusai bencana itu berakhir ERK tampil kembali lagi dan langsung menghentak dengan “Balerina” yang membuat penonton bernyanyi bersama dan dilanjutkan dengan “Sebelah Mata” yang mengajak penyanyi R&B SIVIA ke atas panggung. Pada malam itu, “Sebelah Mata” berhasil diubah menjadi sebuah lagu psychedelic soul berkat pembawaan vokal SIVIA yang lentur dan soulful. Teriakan dan euforia penonton pecah di lagu “Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa”, “Biru” yang membawa kembali Adrian ke panggung, “Cinta Melulu” yang membawa The Adams menyanyikan bagian awal lagu ini secara akapela, dan puncaknya “Di Udara” yang membuat penontonnya sama-sama berteriak “tapi aku tak pernah mati tak akan berhenti”. Mereka menutup penampilan mereka dengan lagu “Merdeka” dan pada malam itu ERK membawakan 27 lagu dengan durasi konser hampir 3 jam.
Melihat stamina Cholil dan para personil aslinya yang tidak seperti dulu lagi membuat saya akhirnya bisa memaklumi bagian-bagian yang tidak sempurna di dalam konser ini. Melihat Cholil sedikit terengah-engah ketika membawakan lagu dari dua album pertama mereka yang upbeat membuat saya tahu kenapa album Rimpang diciptakan dan dihadirkan secara live di depan ribuan penonton. Rimpang seolah menjadi sebuah seruan kepada pendengarnya bahwa mereka tidak lagi muda dan hanya ingin memainkan musik yang menurut mereka bagus tanpa peduli reaksi dari pendengarnya seperti apa. Mereka masih agresif menyerang dengan kata-kata meskipun tidak seperti dulu dengan nada-nada catchy dengan musik yang gampang dicerna. Konser Rimpang sendiri membuat saya memahami kenapa mereka tidak lagi menjadi band yang saya dengar ketika SMP.
Mereka bertambah tua dan seiring berumur semuanya pasti akan melunak.
Mungkin itulah pesan yang ingin disampaikan dan jika itu benar adanya maka saya memahami pesan dari mereka.