CREATIVEDISC.COM – JAKARTA – Saksofonis legendaris Dave Koz kembali menginjakkan kaki di Indonesia untuk tampil di Java Jazz Festival 2026. Namun kali ini terasa berbeda. Jika Koz sudah berkali-kali datang ke Tanah Air, sebagian besar personel Summer Horns justru baru pertama kali berkunjung ke Indonesia. Kesan pertama mereka muncul bahkan sebelum sempat naik ke atas panggung. Beberapa personel mengaku terpukau dengan suasana bandara, mulai dari arsitektur hingga tata cahayanya. Bahkan, alih-alih beristirahat setelah penerbangan panjang, mereka memilih menghabiskan waktu dengan bermain golf di lapangan rancangan Jack Nicklaus.
Bagi para personel Summer Horns yang memang gemar bermain golf, pengalaman tersebut langsung menjadi salah satu momen paling berkesan selama berada di Indonesia. “Sebagian besar dari kami sudah berkeliling dunia untuk bermusik, tapi bisa datang ke Indonesia lalu bermain golf di tempat seindah ini rasanya seperti mimpi. Benar-benar pengalaman yang masuk bucket list,” ungkap salah satu personel. Tak hanya itu, mereka juga terkesan dengan suasana Indonesia yang terasa hangat dan tenang. “Kamu bisa merasakan ketenangan begitu tiba di sini. Tidak setiap negara atau kota memberikan perasaan seperti itu. Kami juga disambut dengan hangat oleh semua orang yang kami temui,” tambahnya.
Menariknya, Java Jazz Festival 2026 menjadi penampilan perdana Summer Horns di Indonesia. Dave Koz menjelaskan bahwa proyek ini lahir dari kecintaan mereka terhadap band-band legendaris seperti Earth, Wind & Fire, Chicago, Blood, Sweat & Tears, dan Tower of Power. “Summer Horns dibuat untuk merayakan suara horn section. Ada kekuatan dan energi yang dulu kami dengarkan saat tumbuh besar, dan itulah yang ingin kami bawa ke atas panggung,” jelas Koz.
Formasi kali ini juga terasa spesial karena menghadirkan horn section lengkap dengan lima pemain. Energi tinggi menjadi identitas utama mereka, hingga Koz menyebut grupnya sebagai “The Avengers of Jazz”. “Kami mungkin tidak terlihat seperti sebuah band saat sedang tidak tampil. Tapi begitu mengenakan kostum yang sama dan naik ke atas panggung, semuanya langsung terasa menyatu. Kami seperti The Avengers of Jazz,” katanya sambil tertawa.
Selain membahas Summer Horns, Koz juga menyoroti perubahan besar yang ia rasakan setelah lebih dari tiga dekade berkarier di industri musik. Menurutnya, era streaming memberi musisi kebebasan yang jauh lebih besar dibanding masa lalu. “Dulu banyak keputusan harus mengikuti keinginan label. Sekarang musisi punya kebebasan lebih besar untuk merilis karya sesuai visi dan gaya mereka sendiri. Menurut saya itu salah satu perubahan terbaik yang terjadi di industri musik,” ujarnya.
Bagi para personel Summer Horns, kunjungan pertama ke Indonesia mungkin dimulai dengan kekaguman terhadap suasana dan keramahan yang mereka temui. Namun bagi penonton Java Jazz Festival 2026, perkenalan itu ditutup dengan sebuah pertunjukan penuh energi yang menunjukkan mengapa mereka pantas menyebut diri sebagai “The Avengers of Jazz”.