CreativeDisc Exclusive Interview With Queens of the Stone Age: Ketika Om Om Garang Menunjukkan Sisi Rapuhnya

Oleh: luthfi - 27 Oct 2026

CREATIVEDISC.COM -JAKARTA – Garang, liar, keras dengan pekikan musik stoner rock yang kasar selalu lekat dengan band legendaris asal California Queens of the Stone Age. Di setiap perjalanannya mereka selalu menunjukkan citra gaharnya lewat lantunan musiknya yang rough dengan lirik yang ceplas-ceplos. Yang membedakan mereka dengan band yang mempunyai image yang sama adalah, kejeniusan mereka meramu lagu yang penuh distorsi gitar tadi menjadi sesuatu yang enak didengar dan punya cerita yang seru ketika mendengarkan liriknya. Ibaratnya, mereka seperti om om keren dan punya tampilan gahar nan dandy tapi ketika kumpul keluarga om om tersebut punya banyak cerita seru dan asik diajak nonkrong. Tak heran, jika banyak band ingin menjadi seperti mereka.

Pengalaman mereka bernyanyi di Katakomba Paris dikelilingi oleh berbagai macam tengkorak dan bermodal cahaya seadanya terlihat keren dan sesuai dengan image mereka yang sangat rock n roll. Namun, pengalaman tersebut ternyata mengubah total pandangan hidup mereka dan itu diungkapkan di album kesembilan mereka “Perfecth”.

Dari om om yang selalu menceritakan pesta liarnya berubah ceritanya menjadi bagaimana rapuhnya perasaan mereka, kegalauan mereka menyongsong hari tua, dan penyakit yang sudah lama ia derita dan bagaimana ia berdamai dengan hal itu. Faktor usia dan pengalaman hidup membuat Josh Homme dan teman-temannya memutuskan untuk mengecilkan volume, mencoba menanggalkan distorsi yang agresif dan beralih ke genjrengan gitar akustik dan lirik tentang keluarga, teman, dan orang-orang terdekat yang mereka cintai. “Perfecth” adalah sebuah album yang menceritakan tentang hubungan antar manusia dengan sajian musik yang begitu dalam dan intim, sebuah teritori yang mereka tidak pernah jamah sebelumnya.

Kenapa band yang sering disingkat QotSA ini tiba-tiba menjadi mellow dan menunjukkan sisi melankolisnya di album terbaru mereka? Apakah karena mereka merasa waktunya tepat untuk sedikit melihat hidup lebih dalam mengingat empat dari lima personil mereka berusia 50 tahun lebih? Sang gitaris Dean Fertita dengan senang hati memberikan jawabannya lewat wawancara bersama CreativeDisc.

Taste awal dari album “Perfecth” adalah lagu ‘Easy Street’ yang bernuansa folk dan ini jauh berbeda dari single perdana kalian di album sebelumnya. Menurutku, ini merupakan upaya yang sangat berani untuk bermain jauh lebih pelan di single perdana kalian. Mengapa kalian akhirnya memilh langkah berani untuk merilis lagu ini sebagai taste awal untuk album kalian?

Menurut kami memilih ‘Easy Street’ sebagai single perdana adalah pilihan mudah karena orang sudah mendengarkan lagunya duluan di “The Catacombs Tour” dan albumnya sendiri memang mengusung resiko tersendiri dan mencerminkan sisi lain dari kepribadian musik kami. Hampir semua lagu yang kami pilih untuk album ini, kecuali mungkin satu atau dua lagu akan terasa baru bagi banyak pendengar.

Kalian sangat terpukau dengan konsep kintsugi di album ini, sebuah konsep menyatukan berbagai macam hal yang sudah pecah atau rusak dan menyatukannya kembali menjadi lebih indah.

Konsep kintsugi sangat cocok dengan lagu yang kami tulis dan perjalanan kami sebagai band. Kami sudah pecah dan bersatu kembali dan menurutku album ini sangat cocok untuk menceritakan keindahan dari ketidaksempurnaan.

Menurutmu, bagaimana kalian membuat “lem” yang terus menyatukan kalian?

“Lem” kami tercipta karena kami sudah terhubung satu sama lain. Kami sudah bersama dalam waktu yang lama dan menghabiskan banyak waktu bersama, bahkan di luar musik sekalipun. Ketika kami melihat orang yang kami sayangi berada di titik terberatnya, kami semua langsung membantu tanpa berpikir terlalu lama. Dari situ lahir kebebasan berekspresi secara kreatif dengan cara apa pun, karena kami tahu semua orang di dalamnya akan saling mendukung satu sama lain. Itulah perekat yang selalu menyatukan kami.

Ketika mendengar album “Perfecth” dari awal sampai akhir, album ini sangat berbeda dari album kalian sebelumnya. Jauh lebih mellow dan pelan, sangat berbanding terbalik dengan citra kalian yang liar.

Pengalaman tampil di Katakomba Paris mengubah arah musik kami. Waktu syuting kami sangat cemas dengan kondisi kesehatan Josh karena waktu itu ia sedang sakit parah, kami tidak tahu bahwa band ini akan lanjut atau gak. Tapi situasi tersebut malah membuat kami tertantang untuk membuat musik yang lebih emosional dengan menurunkan volume, gitarnya lebih stripped dan benar-benar mengandalkan lirik. Intensitas semacam itu sangat menginspirasi dan terasa seperti arah yang memang kami butuhkan saat itu.

Apa yang kamu ceritakan sangat make sense karena ada kesan mortalitas , ketidaksempurnaan dan ketidakpastian sewaktu aku menonton “Alive in the Catacombs”. Sepertinya pengalaman di Katakomba sangat memengaruhi cara kalian menyampaikan lagu di album ini.

Ketidakpastian yang begitu besar memaksa kami berkaca lebih dalam terkait arah hidup kami yang sebenarnya sudah lama ada di dalam diri kami. Banyak hal yang kami ucapkan secara jujur di dalam titik hidup kami yang sekarang seperti kepasrahan dan kerapuhan di album ini.

Soal lagu yang ada di album ini. Jika lagunya dipisah satu-satu, mungkin setiap lagu bisa dikaitkan dengan lagu yang ada di album lain dengan nuansa yang sama. Tapi ketika disatukan secara utuh, ada statement yang sangat nyata di sana. Bagi kami, inilah lagu-lagu yang harus dibuat saat ini. Kalau bukan sekarang, kapan lagi kami bisa membuatnya?

Kenapa baru sekarang menceritakan sisi lain dari QOTSA?

Setiap album yang kami buat selalu ada yang beda, meskipun di setiap album kami pasti ada gitar dengan distorsi keras yang jadi elemen utamanya. Tapi kali ini, dengan melepaskan elemen tersebut, kami menemukan cara baru untuk mengekspresikan apa yang ingin kami sampaikan. Bahkan, beratnya intensitas emosional yang muncul mampu menggantikan distorsi gitar yang kencang.

Kalau ditanya kenapa sekarang membuat album seperti ini, saya sendiri tidak bisa menjelaskannya dengan pasti. Apa yang kami sudah lalui bersama sebagai band membuat waktunya terasa sangat cocok untuk membuat album seperti ini. Ini juga pertama kalinya kami merekam dengan cara seperti ini, terpecah menjadi beberapa segmen dan dikerjakan di studio  yang berbeda. Banyak aspek dari album ini yang beda dari karya kami sebelumnya. Penting bagi kami untuk menerima hal itu apa adanya tanpa ada pemaksaan.

Meskipun banyak hal yang mellow, ada lagu yang kontras dengan tema di album ini yaitu ‘Where The Goth Girls At?’

Wah, kalau soal itu Josh yang lebih bisa jawab karena itu menceritakan pengalaman masa mudanya dengan seorang gadis di toko skate.

Dan satu lagu yang mood-nya berbeda di album ini adalah lagu yang kalian ciptakan untuk Iggy Pop yaitu ‘Sunday’ yang dirilis di tahun 2016. Kenapa kalian memilih untuk self-cover lagu ini?

Gak berasa juga ya lagunya udah berusia 10 tahun. Awalnya, kami membawakan ulang lagu ini pas lagi rekaman tanpa ada niat untuk memasukannya ke dalam album. Ketika kami rekaman di New Orleans, kebetulan karnaval Mardi Gras sedang berlangsung dan membuat seisi kota menjadi semarak dan meriah. Kami akhirnya terlarut dengan kemeriahan itu. Malamnya, Jake Shears dari Scissor Sisters datang ke studio dan akhirnya kami menyeriusi untuk membawakan ulang lagu ‘Sunday’ di esok paginya. Ketika rekaman, nuansa semarak dari karnavalnya masih berasa,

Aku pikir membawakan ulang lagu ‘Sunday’ sangat penting di album ini sebagai bentuk jeda dari berbagai macam hal emosional dan berat yang kami sampaikan terus menerus sepanjang album. Seru kan abis mendengar yang mellow tiba-tiba ada lagu french disco di tengah-tengahnya.

Membawakan ulang lagu ‘Sunday’ menurutku adalah sebuah kejutan besar yang ada di album ini terutama mendengar bagaimana Josh membawakannya.

Pengalaman bermain bersama Iggy Pop adalah salah satu momen musik paling berharga dalam hidupku, dan lagu itu secara khusus mungkin menjadi favoritku di album ini. Kami merasa terhormat ketika kami bisa bekerjasama dengannya di album “Post Pop Depression”. Kami juga kangen untuk membawakan lagu ini secara live. Mendengar Josh menyanyikannya membuat kami gak sabar untuk membawakan lagu ini di atas panggung untuk merasakan momen ketika lagu ini pertama kali dibuat.

Berbicara soal kejutan, kalian selalu mengejutkan banyak orang dengan tampilan kalian yang liar, keras, nekat, bahkan kalian bermain di Katakomba dengan kumpulan tengkorak sebagai penonton kalian. Sekarang, kalian bikin kejutan dengan membuat album mellow. Apakah kalian memang selalu bikin kejutan di setiap album?

Kami selalu membuat album berdasarkan apa yang benar-benar membuat kami tertarik dan bersemangat saat itu, bukan mengikuti ekspektasi orang lain. Kalau kami berhenti mendorong diri ke wilayah baru, kami akan cepat bosan, dan hasil kerja kami pun gak akan maksimal. Jadi kejutan itu bukan gimmick tapi memang cara kami tetap merasa hidup dalam bermusik. Bagian yang menegangkan justru baru muncul setelah album selesai, saat harus didengarkan ke publik dan kami menunggu bagaimana orang meresponsnya. Tapi satu hal yang kami yakini sejak awal: proses membuat album ini terasa seperti sebuah pemberontakan.

Dan kalian terus melakukan hal seperti itu di sembilan album kalian?

Aku penggemar berat AC/DC. Formula album mereka sama dari awal sampai akhir, tapi tetap luar biasa. Ada juga album yang membawamu mengarungi perjalanan emosional, mengikuti alur cerita yang berbeda-beda. Aku melihat setiap album kami sebagai bagian dari sebuah cerita besar. Nanti, ketika suatu saat kami berhenti bermusik, setiap album ini akan menjadi satu bab dari keseluruhan kisah kami.

Sebelumnya kalian sudah membuat trilogi yang dimulai pada album “…Like Clockwork” (2013), “Villains” (2017), dan ditutup dengan “In Times New Roman… (2023). Apakah “Perfecth” juga menandai sebuah trilogi baru atau kalian sudah malas bikin trilogi?

Sebenarnya kami belum tahu setelah ini mau ke mana. Ada banyak materi yang tidak sempat selesai ketika kami mengerjakan album, dan itu selalu terjadi. Bagiku, ada satu lagu yang menunjukkan arah kami berikutnya, seperti menanam sebuah benih dan membiarkannya tumbuh sendiri. Di album ini, lagu itu adalah ‘Insignificant Other’, yang direkam di hari terakhir proses rekaman album In Times New Roman…”.

Kalian jarang tampil di Asia Tenggara, sekalinya tampil kalian tampil di Singapura pada 2 Desember 2026 nanti.

Kami sebenarnya pernah ke Singapura tapi cuma buat transit 12 jam dan sempat mengunjungi Night Safari. Kami tidak sabar untuk balik lagi dan bermain untuk pertama kalinya di sana.

Semoga suatu saat nanti kalian bisa ke Indonesia karena banyak yang menunggu kalian di Indonesia.

Kalau memang orang Indonesia banyak yang pengen kami datang, kami akan usahakan bagaimana caranya main ke sana.

Simak video interview selengkapnya berikut ini:

Author

luthfi

More from Creative Disc