CreativeDisc Exclusive Interview With Milky Chance: Siap Tampil di Panggung F1 Singapore Grand Prix

Oleh: lauretha - 01 Oct 2026

Photo: Anthony Molina
CREATIVEDISC.COM – JAKARTA –
Setelah lebih dari satu dekade bersama, Milky Chance masih terus menemukan cara untuk menjaga musik dan chemistry mereka tetap hidup. Duo asal Jerman yang dikenal lewat perpaduan folk, reggae, pop, dan elemen elektronik ini kini bersiap membuka babak baru dalam perjalanan mereka: penampilan perdana di Asia Tenggara melalui Singapore Grand Prix 2026 pada 9 Oktober mendatang.

Dalam exclusive interview bersama CreativeDisc, Clemens Lead Vocal dan gitaris dari Milky Chance berbagi cerita tentang perjalanan mereka sebagai band, bagaimana mereka menjaga hubungan setelah bertahun-tahun bersama, hingga bagaimana mereka membiarkan musik mengalir secara natural tanpa terlalu banyak aturan.

Lebih dari sekadar berbagi passion terhadap musik, bagi Milky Chance, chemistry yang bertahan selama bertahun-tahun justru dibangun dari hubungan antarmanusia.

“Kami berbagi passion, jadi kami memiliki banyak goal yang sama untuk jalan dan maju bareng,” ungkap Clemens Milky Chance kepada CreativeDisc. Menurutnya, kesamaan visi tersebut menjadi salah satu fondasi penting dalam menjaga hubungan mereka sebagai band.

Tentu saja, perjalanan lebih dari satu dekade bukan berarti selalu berjalan tanpa perbedaan. Ketika konflik atau perbedaan pendapat muncul, mereka memilih untuk menghadapinya dengan kedewasaan, saling menghargai, dan terkadang memberikan ruang satu sama lain sebelum kembali bekerja bersama.

“Human connection sangat penting di antara kita semua untuk terus bersama-sama,” ujarnya.

Hal yang sama juga terasa dalam cara Milky Chance menciptakan musik. Dengan karakter musik yang mampu mempertemukan folk, reggae, electronic, dan pop, mereka ternyata tidak memiliki formula khusus untuk menentukan arah sebuah lagu.

Semuanya lebih banyak mengikuti insting.

“Kami sangat alami banget kalau lagi bikin karya musik. Nggak pernah yang harus disetting, ‘oh ini harus itu, harus gini.’ Kami benar-benar membawa music insting kami,” jelasnya.

Menurut Clemens, Milky Chance, ada kalanya mereka bahkan tidak berada dalam mood untuk membuat musik di dalam studio. Dan bagi mereka, hal tersebut merupakan sesuatu yang sangat normal sebagai musisi.

Alih-alih memaksakan kreativitas, mereka memilih untuk membiarkan inspirasi datang dengan sendirinya.

“Jadi kami biasanya tidak memaksakan sebuah kondisi. Inspirasi bermusik benar-benar bisa datang dari mana saja, and let it flow.”

Pendekatan tersebut juga terasa dalam karya terbaru mereka, “Camouflage”. Lagu ini membawa tema yang cukup dekat dengan pengalaman emosional manusia: patah hati dan bagaimana seseorang berusaha menghadapinya.

Menurut Milky Chance, “Camouflage” berbicara mengenai bagaimana seseorang merasakan emosi dalam sebuah kondisi patah hati. Ada kalanya seseorang mencoba menggunakan “kamuflase” untuk menghadapi rasa sakit tersebut, meskipun cara itu belum tentu sepenuhnya sehat.

Namun pada akhirnya, ada satu pesan sederhana yang ingin mereka sampaikan, yakni ketika sedang patah hati, hidup harus tetap berjalan.

Jika membicarakan Milky Chance, tentu sulit untuk melewatkan “Stolen Dance”. Lagu yang telah melewati 2 miliar streams di Spotify dan 1 miliar views di YouTube tersebut menjadi salah satu lagu paling ikonik dalam perjalanan mereka.

Menariknya, bahkan bagi Milky Chance sendiri, kesuksesan “Stolen Dance” bukan sesuatu yang pernah benar-benar mereka prediksi.

“Sejujurnya aku sendiri tidak pernah menduga bahwa lagu tersebut benar-benar jadi hits,” katanya.

Ada begitu banyak faktor yang menurutnya bisa menentukan apakah sebuah lagu akan berhasil di pasaran atau tidak. Karena itu, sulit untuk benar-benar merencanakan sebuah lagu menjadi fenomena global.

Bahkan setelah bertahun-tahun berlalu, ia masih melihat “Stolen Dance” sebagai sebuah lagu yang terasa timeless.

Lalu, bagaimana mereka menghadapi tekanan untuk menciptakan “Stolen Dance” berikutnya?

Jawabannya justru dengan tidak mengejarnya.

Milky Chance mengaku tidak pernah menetapkan target bahwa mereka harus membuat lagu lain yang sama suksesnya dengan “Stolen Dance”. Baginya, memaksakan diri untuk menciptakan sebuah hit hanya akan membuat proses kreatif terasa seperti tekanan.

“Aku nggak pernah aiming kalau nanti aku bakal bikin lagu yang se-hits ‘Stolen Dance’ itu lagi,” jelasnya.

Daripada membatasi kreativitas Milky Chance dengan target tertentu, mereka memilih untuk membiarkan musik berkembang secara natural.

“Jadi kami serahkan kepada keberuntungan semesta aja,” katanya sambil tertawa kecil.

Lebih dari satu dekade menjalani perjalanan sebagai musisi juga membawa mereka ke berbagai negara di dunia. Ketika ditanya mengenai negara yang paling meninggalkan kesan, Milky Chance justru merasa sulit memilih satu tempat tertentu.

Bukan hanya karena begitu banyak perjalanan dan pengalaman yang telah mereka lewati, tetapi juga karena setiap negara memberikan sesuatu yang berbeda.

Ia bahkan mengatakan bahwa terkadang rasa beruntung tersebut baru benar-benar terasa ketika ia kembali melihat galeri foto di ponselnya.

“Di situlah aku merasa sangat beruntung bisa berada menjadi bagian dari Milky Chance dan musisi.”

Kini, perjalanan mereka membawa Milky Chance ke sebuah wilayah yang belum pernah mereka datangi untuk tampil sebelumnya: Asia Tenggara.

Singapore F1 Grand Prix 2026 akan menjadi penampilan perdana mereka di kawasan ini, sekaligus kesempatan bagi mereka untuk bertemu langsung dengan para penggemar Asia Tenggara.

Menjelang penampilan tersebut, Milky Chance mengaku tengah mempersiapkan diri dengan latihan yang lebih rutin demi memberikan pertunjukan terbaik.

Namun selain musik, ada hal lain yang membuat mereka penasaran: budaya dan pengalaman baru yang akan mereka temui di Singapura.

“Sejujurnya aku sendiri juga penasaran karena ini trip ke Asia Tenggara pertama kami juga,” ungkapnya. “Aku penasaran banget sama budaya, makanan dan hal baru yang akan aku temui di Singapura. Dan sejatinya aku akan datang dengan hati dan pikiran yang terbuka. Kejutkan aku, wahai Singapura” gelaknya.

Tampil dalam rangkaian Formula 1 Singapore Grand Prix 2026 tentu menjadi momen yang spesial bagi mereka. Terlebih, ini bukan hanya debut Milky Chance di Asia Tenggara, tetapi juga kesempatan untuk tampil di hadapan penggemar yang selama ini hanya mereka kenal melalui musik dan interaksi dari jauh.

“Kami tidak sabar untuk menghibur penonton terutama fans kami di Asia Tenggara yang akan hadir pada event tersebut.”

Dan tentu saja, para penggemar Milky Chance di Indonesia juga mendapatkan pesan khusus.

Meski sampai saat ini mereka belum pernah tampil langsung di Indonesia, Milky Chance mengaku sangat ingin membawa musik mereka ke hadapan para penggemar di sini.

“Kami sangat bersyukur memiliki fans yang setia dengan musik kami, tentu saja fans di Indonesia,” ujarnya.

Mereka pun berharap kesempatan untuk tampil di Indonesia bisa segera terwujud.

“Tapi sebelum itu terjadi, kalian kami undang untuk bisa nonton Milky Chance di Singapura tanggal 9 Oktober 2026 ini di acara bergengsi Formula 1, Singapore Grand Prix 2026.”

Untuk sementara, Singapura akan menjadi pertemuan pertama Milky Chance dengan Asia Tenggara. Dan setelah lebih dari sepuluh tahun perjalanan, membiarkan musik mengalir tanpa terlalu banyak tekanan, serta melewati perjalanan panjang bersama “Stolen Dance”, mungkin inilah salah satu babak baru yang tidak pernah mereka rencanakan tetapi justru layak untuk dinantikan.

Milky Chance akan tampil di Singapore Grand Prix 2026 pada 9 Oktober 2026, menandai debut mereka di Asia Tenggara.

Author

lauretha

More from Creative Disc